Sore itu, udara terasa sangat pengap, lembap, dan diam. Tidak ada embusan angin yang masuk lewat celah jendela, menciptakan sensasi gerah yang menusuk hingga ke tulang dan membuat kulit terasa lengket. Di dalam rumahnya yang sunyi, Nadia sedang berada dalam kondisi yang paling rapuh. Ia baru saja selesai mandi untuk mengusir rasa penat yang menghimpit jiwanya seharian. Karena mengira suaminya masih tertahan di pusat kota oleh kemacetan jam pulang kantor yang legendaris, ia hanya mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna hitam.
Gaun itu sangat pendek, dengan potongan dada rendah yang nyaris tidak menyembunyikan apa pun, dan bahan satinnya yang licin jatuh mengikuti setiap lekukan tubuhnya dengan sangat provokatif. Ia merasa aman di balik tembok rumahnya yang tinggi, hingga bel pintu berdering dengan desakan yang tidak sabar.
Nadia sempat ragu, namun rasa ingin tahunya lebih besar. Tanpa sempat mengganti pakaian atau sekadar menyampirkan kain penutup, ia melangkah menuju pintu depan. Di sana, Rizky berdiri dengan napas yang memburu, matanya langsung menggelap saat menangkap sosok Nadia yang tampak begitu terbuka dan menggoda dalam balutan kain tipis yang nyaris transparan di bawah lampu lorong.
"Rizky? Ada apa lagi? Aku... aku sedang tidak siap menerima tamu," bisik Nadia, tangannya secara refleks mencoba menutupi bagian dadanya yang terekspos, namun tatapan Rizky seolah sudah mengunci segalanya, menembus lapisan satin itu hingga ke jiwanya.
Rizky tidak beranjak. Ia melangkah masuk dengan langkah yang penuh otoritas tanpa menunggu undangan, lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa seperti vonis mati bagi moralitas Nadia.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Nad. Permintaan maafku kemarin... itu bohong besar. Aku tidak menyesal sedikit pun. Aku justru tersiksa karena harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan suamimu, sementara kepalaku dipenuhi olehmu."
Nadia berusaha menjaga jarak, jantungnya berdegup kencang, sebuah alarm bahaya berbunyi di otaknya, namun sarafnya justru bereaksi berbeda. "Rizky, kau masih muda. Kau hanya mengagumiku, itu hal yang wajar. Kau melihatku sebagai sosok kakak yang dewasa karena kau sedang mencari pelarian. Besok kau akan bertemu gadis sebayamu dan melupakan semua ini."
Rizky mendengus, sebuah tawa pahit yang sarat akan hasrat lolos dari bibirnya. Ia melangkah maju, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga Nadia bisa mencium aroma maskulin yang kental, campuran antara keringat, parfum kayu cendana, dan keinginan yang mentah.