Nadia terbangun dengan perasaan yang sangat asing. Secara fisik, tubuhnya terasa berat seolah-olah ia baru saja melakukan perjalanan jauh yang melelahkan, namun di balik kelelahan itu, ada sisa-sisa jejak elektrik yang masih berpendar di setiap ujung sarafnya. Saat ia melangkah turun dari ranjang, sebuah sensasi yang tak bisa ia sangkal muncul kembali. Rasa nikmat yang masih berdenyut di bagian bawah tubuhnya terasa begitu nyata. Perpaduan antara pegal yang manis dan pengingat fisik yang sangat intim tentang apa yang terjadi di atas karpet ruang tengah kemarin sore.
Setiap kali ia melangkah menuju kamar mandi, memorinya seolah menjadi proyektor otomatis yang memutar ulang adegan pergumulan itu secara detail. Ia masih bisa merasakan, dengan ketajaman yang menyakitkan, setiap inci dorongan yang masuk merasuki dirinya. Invasi yang tadinya ia anggap sebagai ancaman, namun ternyata menjadi sesuatu yang paling ia dambakan.
Ia teringat bagaimana berat tubuh Rizky yang kokoh menindihnya, bagaimana napas pemuda itu yang memburu terasa panas di ceruk lehernya, dan bagaimana gairah liar itu menghancurkan seluruh pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama sepuluh tahun pernikahan. Rasa panas itu seolah masih tertinggal di sana, di balik kulitnya, membuatnya merasa seperti orang asing yang menempati tubuhnya sendiri.
Sambil berdiri di depan wastafel dapur yang dingin, Nadia mencoba mencuci seluruh bayangan itu dengan air dingin yang mengucur deras, seolah-olah air bisa menghapus memori sensorik yang menempel di otaknya. Ia harus segera menata kembali puing-puing jiwanya sebelum suaminya turun.
"Itu hanya kekhilafan. Hanya sebuah kesalahan teknis," bisiknya pelan, hampir tidak terdengar, pada pantulan dirinya yang tampak pucat di jendela dapur.
Ia mencoba menanamkan kata itu berulang-ulang di kepalanya seperti sebuah mantra pelindung agar ia tidak gila. Ia ingin menutupi kesalahannya dengan menganggap kejadian itu sebagai sebuah kecelakaan emosional, sebuah letupan impulsif yang dipicu oleh kesepian kronis dan atmosfer Jakarta yang menyesakkan, bukan karena ia memang menginginkannya.