Bayang Cinta Di Balik Tirai

Gie
Chapter #7

Penyerahan di Balik Tangis dan Hasrat

Mendung kembali bergelayut rendah di langit, menciptakan hamparan abu-abu yang seolah tanpa batas. Udara terasa berat, membawa aroma tanah basah yang menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi, menciptakan suasana melankolis yang seolah sengaja dibangun oleh semesta untuk mendukung suasana hati Nadia yang tidak menentu. Di tengah keheningan rumah megah yang terasa semakin mencekam itu, Nadia berdiri terpaku di balik tirai sutra. Ia merasa seperti seorang tawanan di dalam istananya sendiri, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak yakin apakah itu sebuah bencana atau keselamatan.

Tiba-tiba, suara bel pintu terdengar. Bunyinya ragu-ragu, bukan ketukan tegas seperti biasanya, melainkan tekanan jari yang seolah takut untuk menyentuh permukaan benda mati itu. Detik itu juga, napas Nadia tertahan.

Ketika Nadia membuka pintu, jantungnya melonjak dengan ritme yang sulit ia kendalikan, memukul-mukul dinding dadanya dengan keras. Di sana, berdiri Rizky. Ia bukan lagi pemuda yang penuh percaya diri, dominan, dan arogan seperti tiga hari lalu. Rizky berdiri dengan bahu yang merosot layaknya prajurit yang kalah perang. Wajahnya tertunduk dalam, menyembunyikan tatapan matanya, dan guratan ketakutan terpahat jelas di keningnya yang biasanya mulus.

Melihat pemuda itu kembali dalam keadaan hancur, Nadia merasakan sebuah kepuasan yang aneh sekaligus kemenangan kecil yang mekar dengan subur di lubuk hatinya. Rasa "dibuang" yang ia rasakan kemarin. Kecemasan bahwa ia hanya menjadi persinggahan sesaat menguap seketika. Gengsi yang sempat terluka kini pulih, digantikan oleh rasa senang yang meluap-luap. Sebagai wanita yang lihai menyimpan badai di balik wajah yang tenang, Nadia hanya menyunggingkan senyum ramah yang menenangkan.

"Masuklah, Rizky," suara Nadia lembut, hampir seperti bisikan seorang ibu yang sedang menyambut anaknya pulang dari pelarian panjang.

Begitu pintu jati itu tertutup rapat, mengunci mereka dari dunia luar yang mulai diguyur rintik hujan, pertahanan Rizky benar-benar hancur. Di ruang tamu yang megah dengan lampu kristal yang memantulkan cahaya dingin, ia mulai terisak. Bahunya terguncang hebat. Air mata jatuh membasahi pipinya saat ia akhirnya berani menatap Nadia dengan pandangan yang sarat akan penyesalan mendalam, sebuah tatapan yang memohon pengampunan atas dosa yang belum benar-benar ia sesali.

"Aku... aku telah berbuat salah, Nad," suaranya parau, tercekik oleh tangisnya sendiri yang meledak dari relung tenggorokan. "Aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu sejak lama, tapi apa yang kulakukan kemarin... aku telah menodaimu. Aku telah merusak martabatmu sebagai istri dari sahabat ayahku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah ayahku dan suamimu."

Melihat kepolosan dan kerapuhan Rizky, sisi keibuan sekaligus sisi gelap Nadia bangkit secara bersamaan, menciptakan sebuah dorongan manipulatif yang manis. Ia tidak merasa ternoda. Sebaliknya, di balik gaun tidurnya yang mahal, ia merasa kembali utuh dan muda.

Nadia melangkah mendekat tanpa suara di atas lantai granit. Ia menarik kepala Rizky ke dalam pelukannya, membiarkan wajah pemuda itu terbenam di dadanya. Ia mengelus rambut tebal pemuda itu dengan gerakan yang sangat lembut, seolah sedang menjinakkan seekor binatang liar yang sedang terluka.

Lihat selengkapnya