Bayang Cinta Di Balik Tirai

Gie
Chapter #8

Puncak Pengkhianatan

Di dalam ruangan itu, atmosfer telah berubah sepenuhnya. Udara menjadi kental, panas, dan sarat akan aroma tubuh yang saling beradu serta gairah yang menguap dari kulit yang bersentuhan. Penyesalan, rasa takut, dan tangisan Rizky yang sempat memecah keheningan beberapa saat lalu kini telah menguap tanpa bekas, berganti menjadi energi seksual yang mentah, primitif, dan mendesak. Mereka tidak lagi bicara tentang benar atau salah, tentang dosa atau pahala; mereka hanya berkomunikasi melalui bahasa tubuh yang semakin menuntut, liar, dan tak terkendali.

Nadia, yang selama bertahun-tahun terakhir terjebak dalam kehidupan ranjang yang teratur, sopan, dan cenderung membosankan bersama suaminya, kini seolah menemukan sisi lain dari dirinya yang selama ini terkunci rapat. Sisi yang haus akan dominasi dan gairah yang meledak-ledak. Gairah yang dibangun oleh Rizky bukan hanya sekadar sentuhan fisik biasa, melainkan sebuah invasi emosional yang membakar habis seluruh sisa martabat dan citra wanita terhormat yang ia bangun.

Tanpa perlu banyak kata atau instruksi, Rizky membimbing tubuh Nadia untuk berbalik. Ia ingin menyambung kembali momen itu di ronde kedua. Di atas karpet tebal yang kini sudah berantakan oleh pakaian sutra dan kemeja yang terserak tak beraturan, Nadia menuruti instingnya yang paling dasar. 

Ia menuruni lantai, menungging dengan anggun dan pasrah, menyandarkan kedua telapak tangannya di atas lantai granit yang dingin. Dinginnya marmer itu memberikan kontras yang tajam dan mengejutkan dengan kulit tubuhnya yang terasa membara. Punggung Nadia melengkung indah, menciptakan garis lekukan yang sangat provokatif dan mengundang bagi Rizky yang kini berdiri tepat di belakangnya dengan napas yang memburu.

Rizky tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan satu gerakan yang mantap, kasar, dan penuh kuasa, ia memasuki Nadia dari belakang dalam posisi yang sangat dominan. Nadia tersentak hebat, sebuah erangan panjang dan parau lolos dari sela bibirnya yang membengkak. Ia merasakan dorongan itu masuk dengan kencang, menghujam langsung ke pusat sarafnya yang paling sensitif, sebuah area yang jarang sekali disentuh dengan intensitas seperti itu oleh suaminya.

"Rizky... oh, Tuhan... pelan sedikit..." rintih Nadia, meski tubuhnya justru mendesak ke belakang, menuntut lebih. Suaranya terputus-putus oleh napas yang semakin pendek dan berat.

Rizky mencengkeram pinggul Nadia dengan sangat kuat, kuku-kukunya seolah ingin meninggalkan bekas permanen di atas kulit putih itu sebagai tanda kepemilikan yang mutlak. Ia mulai bergerak dengan ritme yang cepat, bertenaga, dan tanpa ampun. Setiap hentakan kencang itu membuat tubuh Nadia terdorong ke depan, namun Rizky selalu menariknya kembali dengan sentakan untuk memberikan hujaman yang lebih dalam lagi. 

Lihat selengkapnya