Pesawat yang membawa keluarga Nadia mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Ngurah Rai yang bersinggungan langsung dengan laut. Begitu pintu pesawat terbuka, aroma khas Bali, perpaduan antara garam laut, dupa yang terbakar, dan hawa tropis yang lembap langsung memeluk kulit Nadia, seolah-olah pulau ini sedang menyambutnya untuk melupakan sejenak segala kekalutan di Jakarta.
Suaminya, seorang pria yang biasanya selalu tampak kaku, formal, dan terkunci dalam dinginnya dinding kaca gedung pencakar langit, kali ini terlihat jauh lebih santai. Ia mengenakan kemeja linen tipis dan kacamata hitam, tampak benar-benar melepaskan beban kerjanya. Ia mengambil cuti panjang selama sepekan penuh demi menebus waktu yang sering hilang bersama istri dan kedua anaknya.
Bagi dunia luar yang melihat mereka turun dari mobil jemputan mewah menuju sebuah vila privat di tebing Uluwatu, mereka adalah potret keluarga sempurna yang menjadi impian banyak orang, kaya, harmonis, berkelas, dan kini sedang bersiap menikmati kemewahan yang tak terbatas. Nadia mencoba tersenyum lebar, membiarkan angin laut memainkan rambutnya, saat melihat anak-anaknya berlari kegirangan menuju kolam renang infinity yang menghadap langsung ke cakrawala Samudra Hindia yang biru pekat. Ia ingin sekali percaya bahwa perjalanan ini adalah obat mujarab. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa sepekan di Bali akan menghapus aroma maskulin kayu cendana milik Rizky dari ingatannya, dan menggantinya dengan aroma kelapa serta kasih sayang keluarga yang murni.
***
Malam pertama di Bali, suasana di vila tersebut sangat romantis, hampir menyerupai suasana bulan madu kedua. Suara deburan ombak yang menghantam kaki tebing di bawah sana menciptakan simfoni alam yang menenangkan sekaligus magis. Suaminya, yang tampak lebih segar dan penuh perhatian setelah terlepas dari tumpukan berkas kantor, mencoba membangun kembali jembatan keintiman yang selama ini terasa sedikit mendingin karena rutinitas. Di atas tempat tidur besar dengan sprei linen berkualitas tinggi yang beraroma lavender, mereka berhubungan badan.
Suaminya melakukannya dengan sangat lembut, penuh kasih sayang, dengan ritme yang sangat teratur dan kata-kata pujian yang tulus, menunjukkan betapa ia sangat menghormati dan mencintai Nadia sebagai istrinya. Di tengah penyatuan fisik itu, Nadia justru merasakan sebuah kehampaan yang menyiksa dan sangat paradoks.
Secara fisik, suaminya ada di sana, menyentuhnya dengan cara yang sangat sopan, hati-hati, dan penuh penghormatan sesuai dengan standar pernikahan mereka yang stabil. Saraf-saraf di tubuh Nadia seolah telah dikhianati oleh ingatannya sendiri. Sensasi yang diberikan suaminya terasa sangat hambar, datar, dan membosankan jika dibandingkan dengan kegilaan primitif yang baru saja ia cicipi bersama Rizky.
Sentuhan suaminya terasa seperti air tawar bagi lidah yang sudah terbiasa dengan anggur merah yang membakar dan memabukkan. Nadia tidak lagi merasakan sengatan listrik yang membuat bulu kuduknya berdiri, atau denyutan gila yang membuatnya kehilangan orientasi ruang dan waktu.
Meski begitu, sebagai istri yang tetap ingin menjaga martabat dan keutuhan keluarganya, Nadia tetap melayani suaminya dengan sangat baik. Ia mendesah pada waktu yang tepat, ia memeluk punggung suaminya dengan erat seolah-olah penuh gairah, dan ia memberikan respons-respons yang diharapkan dari seorang istri yang berbakti. Ia sangat menghormati suaminya sebagai kepala keluarga dan ayah yang hebat, namun jiwanya tetap diam membeku, tak tersentuh oleh gairah yang sedang dilakukan suaminya.