Jakarta menyambut kepulangan keluarga Nadia dengan udara yang jauh lebih panas dan menyesakkan daripada saat mereka di Bali. Bagi Nadia, kembali ke rumahnya di Jakarta Barat terasa seperti kembali masuk ke dalam sebuah sangkar emas. Rumah itu memang tidak berdiri di atas lahan berhektar-hektar layaknya istana, namun kemewahannya terpancar dari setiap sudut; marmer impor yang dingin, furnitur minimalis kelas atas, dan aroma wewangian ruangan yang mahal. Rumah itu adalah simbol keberhasilan suaminya, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan, namun kini terasa mencekam.
Ia pikir ia bisa mengendalikan segalanya. Ia pikir ia bisa memisahkan antara peran sebagai istri yang teladan dan wanita yang haus akan gairah terlarang. Namun, nasib memiliki cara yang sangat kejam untuk menertawakan rencana-rencana manusia yang paling rapi sekalipun. Di balik dinding-dinding kedap suara rumah mewah itu, sebuah badai sedang berkumpul, menunggu saat yang paling tidak terduga untuk menghancurkan apa pun yang dilewatinya.
Dua hari setelah kepulangan mereka dari Pulau Dewata, rutinitas Jakarta kembali bergulir. Pagi itu, suaminya sudah berangkat ke kantor sejak pukul enam pagi. Anak-anak berada di sekolah hingga sore hari. Di rumah itu, biasanya hanya ada satu asisten rumah tangga bernama Bi Sumi. Hari itu Bi Sumi sedang sibuk di area servis lantai atas untuk menyetrika tumpukan pakaian sisa liburan. Bi Sumi adalah tipe pekerja yang pendiam dan baru akan pulang pada jam lima sore, sehingga bagi Nadia, lantai bawah rumahnya adalah zona bebas yang mutlak.
Suasana sangat sunyi, setidaknya itulah yang ada di dalam benak Nadia. Tepat pukul 09.45 pagi, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Rizky sudah berada di depan pagar. Dengan jantung yang berdebar, campuran antara ketakutan dan gairah yang memabukkan. Nadia membukakan pintu. Begitu sosok pemuda itu melangkah masuk, udara di ruang tamu yang sejuk oleh AC seketika berubah menjadi menyesakkan.
Rizky tidak lagi menjaga jarak sopan. Mereka langsung berpelukan di tengah ruang tamu. Sebuah pelukan yang tidak lagi tabu, melainkan pelukan sepasang kekasih yang baru saja terpisah oleh jarak yang menyiksa selama seminggu. Nadia merasa hidup kembali. Di dalam dekapan Rizky, ia bukan lagi seorang ibu atau istri yang harus menjaga citra. Ia hanyalah seorang wanita yang menyerah pada insting terdalamnya.
"Aku merindukanmu, Nad. Sangat merindukanmu hingga aku sulit bernapas," bisik Rizky sambil membenamkan wajahnya di leher Nadia. Suaranya serak, mencerminkan rasa frustrasi yang ia pendam. Rizky adalah pemuda yang selama ini sudah dianggap oleh suami Nadia sebagai adiknya sendiri. Suaminya sering kali membanggakan Rizky, membantu kariernya, bahkan memberikan akses ke rumah ini dengan kepercayaan penuh.
Nadia tersenyum, merasakan sensasi familiar yang membangkitkan gairahnya. "Aku juga, Rizky. Lihat, aku membawakanmu sesuatu yang khusus." Nadia menarik Rizky ke sofa kulit Italia di ruang tamu dan memberikan sebuah tas belanja mewah berisi jam tangan bermerek dan kemeja linen berkualitas tinggi yang ia beli secara sembunyi-sembunyi saat berada di Bali.
Rizky tampak senang, matanya berbinar melihat kemewahan itu. Namun, kebahagiaan materi itu segera tergusur oleh gairah yang menuntut penyaluran yang lebih dalam. Rizky menarik pinggul Nadia dengan kasar, dan di tengah ruang tamu yang elegan itu, di bawah sorotan lampu gantung minimalis, mereka mulai berciuman dengan intensitas yang liar.