Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #1

Rumah yang Tidak Pernah Tidur

CHAPTER I

“Tidak semua rumah diciptakan untuk menjadi tempat pulang yang tenang—sebagian hanya menjadi tempat di mana rahasia memilih untuk tetap hidup lebih lama dari penghuninya.”

Langit sore di kota itu selalu punya cara aneh untuk membuat segalanya terasa lebih berat dari biasanya. Awan menggantung rendah, seperti pikiran manusia yang terlalu penuh tapi tidak pernah benar-benar berani meledak.

Rumah itu berdiri di ujung jalan—catnya mulai pudar, pagar besinya berkarat di beberapa sudut, namun tetap terlihat seperti rumah yang baik-baik saja dari kejauhan.

Padahal tidak.

Di dalamnya, tidak ada yang benar-benar baik-baik saja.

“Dinner sudah siap.”. Suara itu terdengar datar, tidak tinggi, tidak rendah—hanya… ada. Seperti rutinitas yang sudah kehilangan makna.

Ibu, namanya Delliza Wardana, berdiri di dapur dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahnya cantik, tapi ada sesuatu di matanya yang seperti lelah yang sudah lama menetap, tidak lagi sekadar singgah.

Di meja makan, Martin Wardana, sang ayah, tidak langsung menjawab. Ia hanya menurunkan koran perlahan, seolah dunia di sekitarnya harus menunggu izinnya untuk bergerak.

“Anak-anak belum turun?” suaranya akhirnya keluar.

Delliza tersenyum kecil. Senyum yang terlalu terlatih untuk disebut tulus.

“Mereka lagi di kamar masing-masing.”

Martin menghela napas pendek. “Selalu begitu.”

Kalimat itu sederhana, tapi jatuh seperti batu kecil yang diam-diam menghantam dasar air tenang—tidak terlihat, tapi meninggalkan riak panjang.

Di lantai atas, Elvano Wardana, anak sulung, duduk di depan laptopnya. Layar memantulkan wajahnya yang lelah, bukan karena tugas, tapi karena sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Notifikasi terus berdatangan, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar ia pedulikan.

Di kamar sebelah, Kayra Wardana, adiknya, menulis sesuatu di buku kecil. Tangannya berhenti beberapa kali, seperti pikirannya selalu lebih cepat daripada kata-kata yang ingin ia tulis.

Sementara Agatha Wardana, si bungsu, hanya memeluk boneka tua sambil menatap langit-langit kamar, seolah mencoba mencari jawaban dari sesuatu yang bahkan tidak ia pahami pertanyaannya.

“Kayra, turun.” suara Delliza terdengar lagi dari bawah.

Kayra menutup bukunya pelan. “Coming, Mom…”

Bahasa itu keluar begitu saja—campuran yang sudah menjadi kebiasaan di rumah ini. Bahasa Indonesia dan Inggris yang kadang bercampur tanpa aturan, seperti cara mereka berkomunikasi yang juga sudah tidak punya struktur jelas.

Di meja makan, suasana terasa seperti ruang kosong yang dipenuhi tubuh manusia. Sendok beradu pelan dengan piring. Tidak ada percakapan berarti. Sampai akhirnya Martin berbicara.

 “Besok aku mungkin pulang larut.”

Delliza hanya mengangguk. Tidak bertanya kenapa. Tidak lagi.

Elvano menatap ayahnya sekilas. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi seperti biasa—ia memilih diam.

Kayra justru membuka suara. “Papa… kapan terakhir kali kita makan bareng tanpa Papa buru-buru pergi?”

Ruangan itu berhenti. Bahkan jam dinding seolah melambat.

Martin menatap Kayra cukup lama. Tidak lama kemudian berkata “Kayra, kamu masih kecil, kamu nggak ngerti urusan orang dewasa.”

Kayra tersenyum kecil, tapi itu bukan senyum bahagia.

“Maybe I don’t. Tapi aku ngerti satu hal, Pa. Kita ini satu rumah, tapi rasanya kayak stranger.”

Kalimat itu jatuh seperti hujan pertama setelah musim panjang yang kering.

Elvano menunduk. Delliza memejamkan mata sepersekian detik. Agatha hanya memeluk bonekanya lebih erat.

. . .

Lihat selengkapnya