Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #2

Surat di Loteng

CHAPTER 2

“Kadang masa lalu tidak benar-benar hilang, ia hanya menunggu ditemukan oleh orang yang paling tidak siap membacanya.”

Elvano masih berdiri di tengah kamarnya dengan surat itu berada di tangannya. Sejak beberapa menit yang lalu ia tidak melakukan apa-apa selain menatap lembaran kertas yang sudah mulai menguning dimakan usia itu, tetapi anehnya semakin lama ia melihatnya, semakin sulit pula ia mengalihkan pikirannya ke hal lain. Rasanya seperti ada sesuatu yang terus menariknya kembali pada setiap kata yang tertulis di sana, sesuatu yang tidak terlihat tetapi cukup kuat untuk membuat dadanya terasa berat dan pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban.

Lampu kamar yang redup menciptakan bayangan panjang di dinding. Jam di meja belajarnya terus berdetak tanpa peduli bahwa dunia Elvano baru saja berubah beberapa menit yang lalu.

Ia mengusap wajahnya perlahan lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau ini cuma surat biasa..." gumamnya pelan sambil menatap lembaran itu lagi, "...kenapa rasanya kayak ada sesuatu yang sengaja disembunyiin?"

Tidak ada yang menjawab.

Hanya suara angin di luar jendela yang sesekali terdengar pelan, membuat suasana malam terasa semakin sunyi.

Tatapannya kembali berhenti pada kalimat terakhir surat itu.

"Jika kamu membaca ini, berarti rumah ini sudah terlalu lama menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di dalamnya."

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti lagu yang diputar berulang kali tanpa bisa dihentikan.

Rumah ini. Menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada. Tidak lama kemudian Elvano menelan ludah. Perlahan matanya bergerak ke atas, ke arah langit-langit kamar.

Loteng.

Entah kenapa kata itu langsung muncul di pikirannya tanpa diminta.

Selama bertahun-tahun tinggal di rumah ini, ia hampir tidak pernah memikirkan loteng. Tempat itu hanya dianggap sebagai ruang penyimpanan barang-barang lama yang tidak lagi digunakan. Tidak ada yang pernah membicarakannya. Tidak ada yang pernah naik ke sana. Bahkan Agatha yang sering penasaran dengan segala hal pun tidak pernah mencoba masuk ke sana.

Tapi malam ini rasanya berbeda. Semakin ia memikirkannya, semakin muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah-olah jawaban yang ia cari sedang menunggunya di sana.

Tok... tok...

Suara ketukan pelan dari balik pintu membuat Elvano tersentak.

"Van?" suara Kayra terdengar setengah mengantuk.

Elvano buru-buru melipat surat itu dan memasukkannya ke bawah buku catatannya.

"Iya?"

"Lo belum tidur?"

"Belum bisa tidur gue Kay"

Pintu tidak dibuka. Kayra hanya berdiri di luar.

"Jam segini?"

Elvano tersenyum tipis.

"Kenapa? Polisi tidur sekarang patroli ke kamar gue?"

"Lucu banget."

"Tahu."

Kayra menghela napas panjang.

"Gue serius, Van. Dari tadi gue nggak bisa tidur gara-gara kamar lo berisik."

"Berisik apanya?"

"Nggak tahu. Cuma...berasa kayak aneh aja."

Lihat selengkapnya