Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #3

Nama yang Tidak Disebut Lagi

CHAPTER 3

“Ada nama yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya sengaja dikubur dalam diam—karena sekali diucapkan, seluruh kebenaran bisa ikut runtuh bersamanya.”

Elvano masih berdiri di antara kotak-kotak tua yang diamnya terasa terlalu “rapi” untuk sebuah ruangan yang seharusnya hanya berisi barang tak terpakai, karena tidak ada satu pun di sana yang benar-benar terlihat acak, semuanya seperti sengaja disusun untuk tidak mudah disentuh, tidak mudah dipahami, seolah loteng itu bukan tempat penyimpanan, tapi tempat penyamaran sesuatu yang sengaja tidak ingin ditemukan.

Debu-debu tipis melayang di udara, terlihat jelas ketika cahaya senter dari ponselnya menyapu ruangan yang sempit itu. Setiap sudut tampak menyimpan cerita yang tidak pernah selesai diceritakan. Kardus-kardus tua berdiri diam seperti saksi bisu yang sudah terlalu lama mengunci mulut mereka sendiri. Semakin lama Elvano berada di sana, semakin ia merasa bahwa loteng itu bukan sekadar ruangan kosong.

Ada sesuatu yang aneh. Bukan sesuatu yang bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Perasaan seperti sedang diawasi oleh masa lalu.

Ia menatap kotak kayu yang terkunci itu lebih lama dari seharusnya. Tangannya masih dingin. Pikirannya berisik.

“Kenapa semua ini kayak… ditata tapi disembunyiin?” gumamnya pelan.

Matanya menyapu ruangan sekali lagi. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada mainan lama. Tidak ada benda-benda yang biasanya disimpan orang di loteng. Yang ada justru tumpukan kotak tanpa label, lemari kecil yang pintunya terkunci, dan jejak-jejak aneh di lantai kayu yang membuatnya semakin yakin bahwa seseorang pernah datang ke sini secara rutin.

Tiba-tiba, dari bawah terdengar suara langkah.

Elvano langsung panik.

“Van!” suara Kayra memanggil lagi, lebih keras sekarang. “Lo masih di atas?!”

Elvano buru-buru menjawab, “Iya! gue turun bentar lagi!”

“Cepetan ya, aneh banget rumah ini dari tadi!”

“Kenapa emangnya?”

“Gue nggak tahu!” suara Kayra terdengar sedikit kesal.

“Tapi dari tadi rasanya nggak enak aja. Kayak... rumah ini terlalu sepi.”

Elvano mengerutkan kening.

“Terlalu sepi?”

“Iya. Lo nggak ngerasa emangnya Van?”

“Rumah kita memang sepi, Kay.”

“Bukan sepi yang biasa. Gue nggak bisa jelasinnya.”

Elvano terdiam. Entah kenapa kalimat itu membuat bulu kuduknya sedikit berdiri. Langkah Kayra menjauh. Sementara Elvano menghela napas panjang. Lalu menatap kotak itu sekali lagi.

“Gue harus turun dulu…”

Tapi kakinya tidak langsung bergerak. Seolah ada sesuatu yang menahan. Bukan fisik, tetapi rasa penasaran yang sudah kelewat batas.

Ia bahkan sempat berjongkok lagi di depan kotak itu. Jarinya menyentuh gembok tua yang menggantung. Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Seolah tidak pernah tersentuh sinar matahari selama bertahun-tahun.

“Apa sebenarnya yang ada di dalam lo?” bisiknya pelan.

Tentu saja tidak ada jawaban. Namun anehnya, semakin lama ia berada di sana, semakin kuat keyakinannya bahwa kotak itulah alasan semua keanehan ini bermula.

Akhirnya ia turun pelan dari loteng, tapi bukan dengan jawaban—melainkan dengan lebih banyak pertanyaan yang mulai menumpuk di kepalanya.

Dan malam itu, rumah Wardana terasa berbeda. Bukan lebih ramai tapi lebih “sadar”. Seolah rumah itu mengetahui bahwa salah satu rahasianya baru saja hampir ditemukan.

. . .

Di kamar Elvano, ia duduk di lantai sambil menatap surat itu lagi. Tangannya membuka lipatan yang tadi ia tutup terburu-buru. Matanya membaca ulang kalimat yang sama. Tapi kali ini terasa lebih berat. Lebih personal. Seperti bukan lagi sekadar informasi…tapi pengakuan.

Ia mengusap tengkuknya perlahan. Jantungnya masih belum tenang. Pikirannya terus kembali ke loteng. Ke kotak tua. Ke jejak di lantai. Dan terutama pada satu pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalanya.

Siapa yang menulis surat ini?

“Elvano.” suara Kayra tiba-tiba dari pintu.

Elvano langsung menutup surat itu refleks. Sementara Kayra masuk sambil melipat tangan.

“Lo tuh kenapa sih akhir-akhir ini? Weird banget deh gue liat-liat”

“Gue nggak kenapa-kenapa Kay.”

Kayra menyipit.

“Nope. That’s a lie.”

Elvano diam.

Kayra duduk di pinggir kasur.

“Van… kita ini satu rumah, tapi gue ngerasa kayak lo lagi di dunia lain.”

Elvano tertawa kecil.

“Kayak lo nggak pernah gitu aja wkwk.”

Lihat selengkapnya