Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #4

Di Balik Larangan Itu

CHAPTER 4

“Ada rahasia yang tidak pernah benar-benar disembunyikan—ia hanya dibiarkan ada, sampai seseorang cukup berani untuk menyadari bahwa semuanya sudah lama retak sejak awal.”

Elvano berdiri di lorong rumah dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya, sementara kalimat terakhir dari ayahnya masih menggantung di kepalanya seperti gema yang tidak mau berhenti, membuat setiap sudut pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban jelas, seolah satu kata yang tidak boleh disebut itu justru menjadi pusat dari segala sesuatu yang selama ini ia anggap biasa di dalam rumah ini.

Ia menatap pintu ruang kerja yang sudah tertutup. Tidak bergerak. Tidak ada suara. Tapi justru itu yang membuatnya semakin gelisah.

“Nama yang nggak boleh disebut…” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “emang seberapa besar sih dampaknya sampai semua orang kayak… takut banget ngomongin itu?”

Elvano melangkah kembali ke kamarnya, tapi pikirannya tidak ikut pulang, malah tertinggal di ruang kerja ayahnya, di loteng, di surat tua itu, dan di sesuatu yang belum pernah ia lihat tapi sudah terasa keberadaannya sejak lama, seperti bayangan yang selalu mengikuti tanpa pernah benar-benar terlihat jelas.

Saat ia membuka pintu kamar, Kayra sudah tidak ada di dalam. Hanya kesunyian saja yang ada disana. Dan surat itu masih ada di atas meja.

Elvano menatapnya lama. Tangannya tidak langsung menyentuh. Ada jeda. Seolah tubuhnya sendiri sedang berdebat dengan pikirannya.

“Kalau gue buka lagi…” bisiknya pelan, “…gue bakal dapet jawaban atau malah nambah masalah?”

Tidak ada jawaban. Tentu saja. Tapi akhirnya ia tetap duduk dan membuka lipatan surat itu lagi.

Baris-baris tulisan itu masih sama. Tapi sekarang terasa berbeda malah menjadi lebih tajam dan lebih pribadi. Seolah surat itu bukan lagi sekadar pesan lama, tapi sesuatu yang sedang “mengamati” dirinya balik.

Matanya berhenti di satu bagian. Lebih lama dari sebelumnya. Dan ekspresinya langsung berubah.

“…nggak mungkin…” suara Elvano pelan, hampir tidak keluar.

Tangannya mulai gemetar. Ia membaca ulang sampai tiga kali. Tetapi hasilnya tetap sama. Kemudian dari luar kamar, terdengar langkah kecil.

Tok… tok…

“Elvano?” suara Kayra.

Elvano buru-buru menutup surat itu.

“Iya?”

Kayra masuk, wajahnya sedikit cemas. “Lo kenapa sih? Dari tadi kayak orang ketemu masalah hidup.”

Elvano mencoba tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”

Kayra tidak langsung percaya.

“Van… gue serius ya. Rumah ini akhir-akhir ini aneh banget. Kayak ada sesuatu yang semua orang pura-pura nggak lihat.”

Elvano menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya dirinya yang mulai menyadari sesuatu.

“…Kay,” Elvano pelan, “kalau ada satu nama yang nggak boleh disebut di rumah ini… lo bakal penasaran nggak?”

Kayra langsung diam.

Ekspresinya berubah.

“…lo juga ngerasa itu?” tanyanya pelan.

Elvano mengernyit. “Maksud lo?”

Kayra menarik napas pelan.

“Gue juga pernah denger itu. Tapi selalu berhenti sebelum jelas.”

Ruangan terasa semakin sempit. Seperti udara di dalamnya ikut menahan sesuatu yang tidak ingin keluar.

“Ini bukan kebetulan…” gumam Elvano.

Kayra menatapnya serius.

“Van… jangan-jangan kita lagi hidup di bagian rumah yang sengaja dibikin lupa.”

Elvano langsung berdiri.

“Gue harus cek loteng lagi.”

Kayra langsung menahan lengannya. “Lo gila? Tengah malem gini?”

“Tapi ini nggak bisa ditunda.” 

Kayra terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya menghela napas.

“…gue ikut.”

Elvano menatapnya cepat.

“Lo yakin?”

Lihat selengkapnya