CHAPTER 5
“Ada momen ketika kebenaran tidak lagi mengetuk pelan—ia datang seperti retakan, dan dari situlah semuanya mulai kehilangan bentuk lamanya.”
Rumah Wardana tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah setelah malam itu. Bukan karena bentuknya berubah. Tapi karena cara Elvano memandangnya sudah tidak lagi sama. Setiap sudut yang dulu terasa biasa kini seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin diingat, dan setiap suara kecil yang muncul dari dalam rumah kini terdengar seperti bagian dari percakapan yang lebih besar, percakapan yang tidak pernah ia diajak untuk mengerti sejak awal.
Kayra berdiri diam di dekat tangga, napasnya belum kembali stabil.
“Van…” suaranya pelan, “ini rumah kita kan?”
Elvano tidak langsung menjawab.
Matanya menatap ruang tengah yang gelap, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak terlihat.
“…harusnya iya,” jawabnya akhirnya, tapi kalimat itu tidak terdengar seperti kepastian.
Lebih seperti keraguan yang sudah telanjur jujur.
Dari arah dapur, terdengar suara kecil. Seperti gelas disentuh.
Lalu hening.
Kayra langsung menegang. “Lo denger kan?”
Elvano mengangguk pelan. Tidak ada yang bergerak. Tapi justru itu masalahnya.
“Kalau ini maling, dia nggak bakal diem kayak gitu…” bisik Kayra.
Elvano melangkah pelan.
“Ini bukan maling,” jawabnya singkat.
Kayra menatapnya cepat. “Terus apaan?”
Elvano berhenti.
Lama.
“…gue nggak yakin kita punya kata yang tepat buat itu.”
Mereka bergerak pelan ke arah dapur. Lampu tidak dinyalakan. Hanya cahaya samar dari ruang tamu yang masuk seperti sisa-sisa keberanian. Setiap langkah terasa terlalu keras untuk rumah yang terlalu sunyi.
Dan ketika mereka sampai di ambang dapur—
tidak ada siapa pun. Tidak ada yang bergerak. Tapi kursi di meja makan sedikit bergeser. Sedikit saja. Seperti baru saja ditinggalkan.
Kayra langsung berbisik, “Oke… ini mulai nggak masuk akal.”
Elvano menatap kursi itu lama. Lalu perlahan berkata, “…atau kita baru mulai ngelihat apa yang dari dulu udah ada.”
Tiba-tiba lampu di ruang tengah berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu mati.
Gelap.
Kayra langsung menarik napas tajam.
“Van—”
“Gue di sini Kay,” jawab Elvano cepat.
Suara mereka terdengar lebih dekat di kegelapan, seperti satu-satunya hal yang masih benar-benar nyata.
Dari arah lorong, terdengar suara langkah yang cukup pelan dan tidak terburu-buru tapi terdengar sangat jelas. Kayra langsung menahan napas.
“Jangan bilang itu Papa…” bisiknya.
Elvano tidak menjawab. Karena langkah itu tidak terdengar seperti milik satu orang. Terdengar seperti…sesuatu yang tidak ingin disebutkan.
Langkah itu berhenti. Tepat di depan mereka. Dalam gelap. Tidak ada yang terlihat. Tapi ada suara napas terdengar pelan, stabil, dan terlalu dekat. Tidak lama kemudian Kayra berbisik hampir tanpa suara, “Van… ini bukan orang.”
Elvano mengangguk kecil.
“…gue tau.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Elvano merasa bahwa “nama yang tidak boleh disebut” itu bukan lagi sekadar cerita lama. Tapi sesuatu yang baru saja… mulai menunjukkan bahwa ia masih ada di rumah ini.
Lampu tiba-tiba menyala kembali. Seketika lorong itu kosong. Tidak ada siapa pun. Tidak ada jejak. Tapi di dinding dekat ruang tengah— ada retakan kecil yang terlihat cukup tipis seperti baru saja muncul.
Kayra menunjuknya. “Itu… dari tadi ada?”. Kemudian Elvano menatap retakan itu cukup lama. Lalu berkata pelan, “…nggak.”
Dan di detik itu juga, Elvano sadar satu hal:
yang mereka buka di loteng tadi bukan hanya kotak lama. Tapi sesuatu yang membuat rumah ini… mulai pecah sedikit demi sedikit.
Retakan kecil di dinding ruang tengah itu tidak bergerak, tidak melebar, tidak mengeluarkan suara apa pun, tapi justru karena terlalu diam itulah ia terasa semakin tidak wajar, seperti sesuatu yang sengaja ditunjukkan hanya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar melihatnya, bahwa mereka tidak lagi bisa menganggap rumah ini sebagai sesuatu yang utuh.
Elvano mendekat perlahan. Tangannya terangkat, tetapi berhenti di udara sebelum menyentuh permukaan dinding itu.
Kayra langsung menahan napas. “Jangan sentuh dulu…”
“Gue cuma mau cek aja Kay,” jawab Elvano pelan.
Jarinya akhirnya menyentuh.
Dan dalam satu detik yang sangat singkat, retakan itu terasa dingin—bukan dingin tembok, tapi dingin seperti permukaan benda yang lama tertutup dan baru saja “terbangun” kembali karena disentuh.
Elvano langsung menarik tangannya.
“…ini bukan retakan biasa,” gumamnya.
Kayra menatapnya dengan wajah tegang. “Maksud lo apa lagi?”
Elvano tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada garis tipis di dinding itu, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak mau dijelaskan oleh logika.
“…ini kayak bekas sesuatu yang sengaja ditutup,” katanya akhirnya, “bukan rusak.”
Kayra langsung mengernyit. “Ditutup apa?”
Elvano diam. Karena ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.
Dari arah lorong, terdengar suara kecil lagi. Bukan langkah. Tapi seperti… ketukan.
Tok.
Satu kali.
Lalu hening.
Kayra langsung menoleh tajam. “Oke… itu tadi dari mana?”
Elvano juga menoleh.
Lorong gelap. Tidak ada siapa pun. Tapi udara di sana terasa berbeda yang terlihat lebih padat dan lebih penuh.
Tok.
Kali ini lebih dekat.