CHAPTER 6
“Ada kepergian yang meninggalkan kursi kosong. Namun ada juga kepergian yang meninggalkan bayangan, dan bayangan itu tetap tinggal jauh lebih lama daripada orang yang meninggalkannya”
Pagi datang dengan cara yang tidak biasa. Tidak ada suara burung yang biasanya terdengar dari halaman belakang. Tidak ada aroma kopi yang biasanya memenuhi ruang makan sebelum matahari benar-benar tinggi. Bahkan rumah Wardana yang selama bertahun-tahun berjalan dengan rutinitas yang nyaris sama setiap hari justru tampak seperti bangunan yang sedang menahan napasnya sendiri. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar di ruang tengah, menyinari lantai marmer yang mengilap, tetapi entah mengapa tidak mampu mengusir kesan dingin yang menggantung sejak malam sebelumnya. Seolah-olah bukan suhu udara yang berubah, melainkan suasana yang selama ini diam-diam hidup di antara dinding-dinding rumah Wardana.
Dari lantai dua, suara langkah kaki terdengar pelan.
Elvano keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat lebih lelah daripada biasanya. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya menjadi bukti bahwa malam tadi pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Ia menuruni tangga perlahan sambil memegang pegangan kayu di sampingnya.
Saat sampai di ruang makan, ia langsung berhenti. Meja makan sudah tertata rapi. Piring-piring tersedia. Sarapan sudah disiapkan. Namun ada satu hal yang membuat pemandangan itu terasa janggal. Kursi yang biasanya ditempati Martin kosong begitu saja. Tidak ditarik dan tidak berantakan. Hanya kosong. Seolah orang yang biasanya duduk di sana memang tidak pernah ada. Perasaan aneh langsung muncul di dada Elvano. Ia tidak suka perasaan itu. Sama sekali tidak suka.
Beberapa detik kemudian Kayra muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air. Rambutnya masih sedikit berantakan. Matanya tampak sembap. Sepertinya ia juga tidak tidur dengan baik.
Saat melihat Elvano sudah berada di ruang makan, gadis itu langsung duduk di kursi sebelahnya.
"Kamu juga ngerasa aneh nggak sih?" tanyanya pelan.
Elvano tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada kursi kosong di ujung meja.
"Sejak tadi."
Kayra mengikuti arah pandangannya. Lalu menghela napas panjang.
"Biasanya Papa paling ribut kalau pagi. Tumben hari ini sepi banget keliatannya"
Elvano tersenyum tipis.
"Iya."
"'Bangun pagi itu investasi masa depan,' katanya mah wkwk."
"'Kalau kesiangan jangan salahin matahari.'"
Mereka berdua terdiam.
Biasanya kalimat-kalimat itu terasa menyebalkan. Sekarang justru terasa dirindukan. Sangat dirindukan.
Suasana kembali hening.
. . .
Sampai langkah kaki lain terdengar mendekat. Delizza keluar dari dapur sambil membawa teko teh hangat. Wanita itu masih terlihat rapi seperti biasa. Rambutnya tertata. Pakaiannya tidak kusut. Ekspresinya tenang. Terlalu tenang. Dan itulah yang membuat Elvano semakin tidak nyaman.
Delizza meletakkan teko di atas meja.
"Lho, kalian sudah bangun?"
Nada suaranya terdengar normal. Sangat normal. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Seolah malam sebelumnya hanyalah malam biasa. Seolah suaminya tidak sedang menghilang entah ke mana.
Kayra langsung mengernyit.
"Mah."
"Hm?"
"Papa ke mana?"
Delliza menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Gerakannya tidak berhenti. Tangannya tidak gemetar. Bahkan wajahnya tidak berubah sedikit pun.
"Papa ada urusan."
Jawaban itu keluar begitu saja.Terlalu cepat. Seakan sudah disiapkan sejak awal.
Elvano dan Kayra saling berpandangan. Mereka tahu. Ada sesuatu yang tidak beres.
"Urusan apa?" tanya Elvano.
Delizza mengangkat cangkirnya.
"Urusan pekerjaan."
"Sejak kapan Papa pergi?"
"Tadi pagi."
"Jam berapa?"
"Belum terlalu pagi."
Kayra menghela napas panjang. Lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Oke, stop."
Delizza menoleh.
"Apa?"
"Mah, serius deh."
"Nggak usah pakai mode misterius gitu."
Delizza diam. Tidak lama kemudian Kayra melanjutkan omongan sebelumnya.
"Kita ini keluarga."
"Kalau ada masalah ya ngomong."
"Kalau ada sesuatu ya jelasin."
"Jangan kayak lagi wawancara tersangka."
Elvano hampir tersenyum mendengar kalimat terakhir itu.
Biasanya hanya Kayra yang berani berbicara sejujur itu kepada ibunya. Namun kali ini bahkan Delizza tidak langsung membalas. Tatapannya justru turun ke cangkir teh di tangannya. Sangat lama. Seolah ada sesuatu yang sedang ia pertimbangkan. Kemudian akhirnya ia berbicara. Dengan suara yang jauh lebih pelan.
"Kalau Mama jelasin semuanya sekarang..."
Ia berhenti.
"...Mama nggak yakin kalian siap dengarnya."
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah. Tidak ada lagi kesan santai. Tidak ada lagi nada bercanda.
Elvano menegakkan posisi duduknya.
"Siap tentang apa?"
Delizza tidak menjawab.
"Mah."
"Ada beberapa hal yang selama ini sengaja Papa dan Mama simpan."
"Kenapa?"
"Karena kami pikir itu cara terbaik untuk melindungi kalian."
Kayra tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar pahit.
"Funny."
Delizza menatapnya.
"Dari kecil kita tinggal di rumah yang penuh rahasia."
"Setiap ada pertanyaan, jawabannya selalu nanti."