Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #7

Ibu dan Senyum Palsu

CHAPTER 7

“Beberapa kebohongan tidak lahir dari niat menyakiti. Mereka lahir dari rasa takut kehilangan. Namun semakin lama disimpan, kebohongan itu akan tumbuh menjadi jarak yang perlahan memisahkan keluarga dari dalam.”

Matahari terus bergerak naik di luar sana. Langit terlihat cerah. Orang-orang di luar rumah Wardana mungkin sedang memulai hari mereka seperti biasa. Ada yang berangkat bekerja, ada yang berangkat sekolah, ada yang sibuk dengan rutinitas yang sama seperti kemarin dan mungkin akan sama lagi besok.

Namun tidak dengan rumah ini. Di dalam rumah Wardana, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Lebih lambat, lebih berat, dan semakin sulit dipahami. Setelah suara ketukan dari lantai atas itu menghilang, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar berbicara selama beberapa menit berikutnya.

Keheningan mengambil alih ruangan. Bukan keheningan yang nyaman. Melainkan keheningan yang dipenuhi pertanyaan. Dan di antara semua pertanyaan yang ada, satu hal terus berputar di kepala Elvano.

Mama tahu sesuatu.

Dan Mama sudah tahu itu sejak lama.

Delliza berdiri di dekat jendela ruang keluarga. Punggungnya menghadap mereka. Tangannya terlipat di depan dada. Dari luar, ia tampak tenang. Tampak seperti sosok ibu yang masih memegang kendali atas keadaan. Namun Elvano mulai menyadari sesuatu. Ibunya terlalu tenang. Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa tidak normal.

Karena tidak ada orang yang bisa setenang itu ketika suaminya menghilang secara misterius.

"Mah." suara Elvano akhirnya memecah keheningan.

Delliza tidak langsung menoleh.

"Hm?" tanya pelan.

"Kita perlu ngobrol." jawab Elvano

"Kita lagi ngobrol." jawab Delliza.

"Bukan yang kayak gini." ucap Elvano.

Kali ini Delliza perlahan membalikkan tubuhnya. Tatapannya langsung bertemu dengan mata putranya. Untuk beberapa detik. Tidak ada yang berbicara. Seolah keduanya sedang saling mengukur seberapa jauh mereka akan melangkah dalam percakapan ini.

Elvano menarik napas panjang.

"Papa pergi."

Diam.

"Kita nggak tahu beliau di mana."

Diam lagi.

"Tapi Mama nggak terlihat kaget."

Kalimat itu akhirnya keluar. Terlihat jujur, tajam, dan tidak bisa ditarik kembali.

Kayra yang sejak tadi duduk di sofa langsung menoleh.

Ia tahu bahwa kalimat itu adalah sesuatu yang sejak tadi ingin mereka tanyakan.

Delliza tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa aneh. Bahkan terlihat sangat aneh, tidak hangat, tidak menenangkan, dan sama sekali tidak sampai ke matanya.

Elvano langsung menyadarinya. Begitu juga Kayra.

Senyum itu palsu.

Bukan palsu karena dibuat-buat. Tetapi palsu karena digunakan untuk menyembunyikan sesuatu.

"Kenapa Mama senyum?" tanya Kayra pelan.

Delliza sedikit terkejut.

"Apa?"

"Karena dari tadi Mama senyum."

Kayra menatap ibunya tanpa berkedip.

"Padahal jelas-jelas Mama lagi takut."

Senyum di wajah Delliza perlahan memudar.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu...

topeng yang selama ini ia pakai mulai retak.

"Mamah cuma nggak mau kalian panik." suaranya pelan.

Sangat pelan.

Kayra langsung tertawa kecil. Namun kali ini terdengar pahit.

"Too late, Mah."

Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"We are already panicking."

Elvano mengangguk.

"Serius, Mah."

"Kita bukan anak kecil lagi."

"Mungkin dulu Mama bisa bilang semuanya baik-baik aja dan kita bakal percaya."

"Tapi sekarang?"

Ia menggeleng pelan.

"Things don't make sense anymore."

Delliza menunduk. Tangannya saling menggenggam erat. Seolah sedang berusaha mencari kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia izinkan keluar.

"Kalau Mama cerita..."

Ia berhenti.

Lalu mengembuskan napas panjang.

"...hidup kalian nggak akan sama lagi."

Kayra langsung mengangkat alis.

"Mah."

"Look at me."

Delliza menatap putrinya.

Kayra melanjutkan,

"Hidup kita udah nggak sama sejak kita nemu surat itu. Udah nggak sama sejak kita naik ke loteng. Udah nggak sama sejak Papa mulai nyembunyiin sesuatu. Dan sekarang Papa literally disappear."

Suasana kembali hening. Namun kali ini berbeda. Karena Delliza tidak membantah. Tidak mengalihkan pembicaraan. Tidak mengubah topik.

Ia hanya diam.

Dan diamnya terasa seperti pengakuan.

Perlahan wanita itu berjalan menuju sofa. Kemudian duduk. Gerakannya lebih lambat dan lebih berat dari biasanya. Seolah setiap langkah membawa kenangan yang tidak ingin ia buka kembali.

"Ada alasan kenapa Papa kalian selalu melarang loteng itu dibuka." ucapnya pelan.

Elvano langsung menegakkan tubuh.

Kayra juga.

"Dan ada alasan kenapa ada satu nama yang tidak pernah disebut lagi di rumah ini."

Jantung Elvano langsung berdetak lebih cepat.

"Nama siapa?"

Delliza menutup matanya sangat lama. Sampai akhirnya ia membuka kembali matanya yang kini terlihat jauh lebih rapuh.

"Bukan karena kami membencinya." suaranya bergetar.

"Bukan karena kami ingin melupakannya."

Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Tapi karena setiap kali nama itu muncul..."

Ia berhenti. Napasnya mulai tidak stabil.

"...sesuatu selalu ikut kembali."

Kalimat itu langsung membuat suasana ruangan berubah menjadi dingin, sunyi, dan menyesakkan.

Kayra menelan ludah.

"Something?"

Delliza mengangguk perlahan.

"Sesuatu yang seharusnya sudah selesai bertahun-tahun lalu."

Dan tepat ketika kalimat itu selesai diucapkan… terdengar suara dari lantai atas.

BRRUKKK!

Seperti ada sesuatu yang jatuh dengan keras.

Ketiganya langsung menoleh ke arah tangga. Namun kali ini yang membuat mereka membeku bukan suara itu. Melainkan fakta bahwa suara tersebut berasal dari arah kamar Martin. Kamar yang sejak pagi tadi kosong. Kamar yang seharusnya tidak memiliki siapa-siapa di dalamnya.

Kayra langsung berdiri.

"Okay."

"Nope."

"No way."

Elvano juga berdiri. Tatapannya tidak lepas dari lantai atas.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu dimulai… ia merasa bahwa ayahnya mungkin memang telah pergi. Tetapi sesuatu di rumah ini...tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi.

Langkah kaki tidak langsung terdengar setelah suara benda jatuh itu. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada suara orang berjalan. Tidak ada apa-apa. 

Lihat selengkapnya