CHAPTER 8
"Tidak semua kehilangan terjadi ketika seseorang pergi. Kadang kehilangan yang paling menyakitkan adalah ketika kita baru mengetahui bahwa seseorang pernah menjadi bagian dari hidup kita, tetapi seluruh kenangan tentangnya telah lebih dulu dihapus."
Tidak ada seorang pun yang mengucapkan sepatah kata setelah kalimat itu muncul di layar ponsel Elvano. “Temukan kamar yang tidak ada”. Kalimat sederhana dan cukup pendek. Namun cukup untuk membuat seluruh isi rumah terasa semakin berat. Seakan setiap dinding yang mengelilingi mereka sedang menyimpan sesuatu yang selama bertahun-tahun menunggu untuk ditemukan.
Dan sekarang...
sesuatu itu mulai memanggil.
Ponsel di tangan Elvano perlahan meredup. Layar kembali gelap. Namun kata-kata tadi masih tertinggal jelas di dalam pikirannya. Sementara itu, Kayra masih berdiri di sampingnya dengan ekspresi takut, penasaran, kesal dan bingung yang tidak bisa dijelaskan. Telihat seperti semuanya bercampur menjadi satu
"Okay..."
Kayra mengusap wajahnya pelan.
"Can someone explain to me kenapa hidup kita tiba-tiba berubah jadi mystery series?"
Biasanya Elvano akan menanggapi dengan candaan. Namun kali ini tidak. Karena untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa semua petunjuk yang mereka temukan bukanlah kebetulan. Semuanya saling terhubung.
Foto lama.
Loteng.
Nama yang dihapus.
Surat misterius.
Ayahnya yang menghilang.
Kamar keempat yang tidak pernah ada.
Atau setidaknya...
tidak pernah mereka ketahui keberadaannya.
Tatapan Elvano perlahan berpindah ke arah Delliza. Wanita itu masih berdiri diam. Namun kini ekspresinya berbeda. Lebih pucat dan lebih rapuh.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tampak seperti seseorang yang sedang kehabisan tenaga untuk terus menyembunyikan kebenaran.
"Mama." suara Elvano terdengar lebih tenang dibandingkan isi kepalanya.
"Kita perlu tahu siapa orang yang ada di foto itu."
Delliza langsung takut dan panik. Sangat jelas. Begitu jelas sampai Kayra ikut menyadarinya.
"Nah."
Kayra menunjuk pelan.
"Tuh kan."
"Setiap kali kita nyebut soal foto itu, Mama selalu berubah."
"Kayra."
"No, Mah."
Untuk pertama kalinya nada suara Kayra mulai meninggi. Bukan karena marah. Melainkan karena lelah. Lelah hidup dalam tanda tanya. Lelah melihat orang-orang yang ia sayangi terus saling menyembunyikan sesuatu.
"Aku capek."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Seriously, aku capek banget."
Delliza terdiam.
"Kalau memang ada seseorang di keluarga ini, kenapa kami nggak pernah tahu?"
Diam.
"Kalau memang ada sesuatu yang terjadi lima belas tahun lalu, kenapa semuanya disimpan?"
Masih diam.
"Kalau Papa pergi karena semua ini..."
Suara Kayra mulai bergetar.
"...kenapa kita baru tahu sekarang?"
Ruangan terasa semakin sunyi.
Dan akhirnya… Delliza duduk perlahan di sofa. Seolah lututnya tiba-tiba kehilangan kekuatan.
Wanita itu menatap lantai cukup lama. Sampai akhirnya ia berbicara.
"Dulu..." suaranya nyaris seperti bisikan.
"...keluarga ini bukan berisi lima orang."
Jantung Elvano langsung berdetak lebih keras. Sementara disisi lain kondisi Kayra sedang membeku. Karena untuk pertama kalinya…seseorang akhirnya mengakuinya.
"Kami berenam."
Sunyi. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas dengan normal.
Elvano merasa dadanya mendadak sesak.
"Kami punya satu anak lagi."
Kalimat itu menghantam ruangan seperti petir. Kayra bahkan sampai kehilangan kata-kata.
"Apa?"
Suaranya terdengar sangat kecil.
"Apa maksud Mama?"
Delliza perlahan mengangkat wajahnya. Matanya mulai basah.
"Kalian punya saudara."
Dunia seakan berhenti beberapa detik. Elvano tidak berkedip. Kayra tidak bergerak. Bahkan suara jam dinding yang biasanya terdengar kini seolah menghilang.
Saudara.
Satu kata yang sederhana namun cukup untuk mengubah seluruh hidup mereka.
"Impossible."
Kayra menggeleng cepat.
"No way, Ma. Kalau mama nggak pernah bohong soal ini. Kalau kami punya saudara, kenapa kami nggak pernah lihat? Kenapa nggak pernah ada foto? Kenapa nggak pernah ada cerita? Kenapa nggak pernah ada nama?"
Pertanyaan demi pertanyaan keluar tanpa jeda.
Dan semuanya adalah pertanyaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah memiliki kesempatan untuk ditanyakan.
Delliza memejamkan mata. Air mata pertama akhirnya jatuh.
"Karena kami mencoba melupakannya."
Kalimat itu langsung membuat Elvano mengernyit.