CHAPTER 9
"Beberapa kota menyimpan sejarah. Beberapa lainnya menyimpan luka. Namun ada kota-kota tertentu yang menyimpan rahasia begitu dalam hingga orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya memilih menghapus seluruh kenangannya daripada mengingat apa yang sebenarnya terjadi.”
Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah bisikan itu menghilang. Nama itu masih menggantung di udara. Masih terasa hidup dan masih terasa dekat. Seolah seseorang baru saja berdiri di tengah ruangan dan menyebutnya langsung di hadapan mereka.
Arsen.
Untuk pertama kalinya, nama itu tidak lagi terdengar seperti potongan cerita lama. Tidak lagi seperti tokoh dalam foto usang yang wajahnya sengaja dihapus. Tidak lagi seperti kenangan yang terkubur. Kini nama itu terasa nyata. Bahkan terlihat seperti terlalu nyata. Dan justru itulah yang membuat Elvano merasa tidak nyaman.
Matahari mulai bergeser di luar jendela. Namun rumah Wardana tetap terasa dingin. Dingin yang bukan berasal dari cuaca. Melainkan dari kebenaran yang perlahan mulai muncul ke permukaan.
Kayra masih duduk di sofa. Tangannya memegang ponsel tetapi tidak benar-benar menggunakannya. Layar berkali-kali menyala lalu mati. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
"Jadi..."
Ia akhirnya membuka suara.
"Let me get this straight."
Tidak ada yang menyahut. Namun ia tetap melanjutkan.
"Kita baru tahu kalau kita punya kakak."
Diam.
"Terus kakak kita itu hilang udah dari lima belas tahun lalu."
Diam.
"Papa tiba-tiba menghilang."
Diam.
"Lalu ada suara yang nyebut nama Arsen dari lantai atas."
Kayra mengangguk sendiri.
"Yep."
Ia menatap langit-langit.
"My life is officially broken."
Elvano hampir tersenyum.
Hampir.
Namun terlalu banyak hal yang terjadi untuk membuat candaan terasa lucu. Justru pikirannya sedang sibuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Karena ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Sangat mengganjal.
"Mah."
Delliza mengangkat wajah.
"Waktu Arsen hilang..."
Elvano berhenti.
"Dia hilang di mana?"
Pertanyaan itu langsung mengubah ekspresi Delliza.
Untuk sesaat dan sangat singkat waktunya. Namun cukup untuk membuat Elvano sadar. Ia baru saja menyentuh bagian yang selama ini sengaja disembunyikan.
Delliza menatap ke luar jendela sangat lama. Lalu perlahan berkata, "Bukan di kota ini."
Keheningan kembali muncul.
"Bukan di sini?"
Delliza menggeleng.
"Dia pergi ke tempat yang tidak pernah lagi kami bicarakan."
"Kenapa?"
Karena kali ini yang menjawab bukan Delliza. Melainkan suara lain.
"Tidak semua tempat pantas dikenang."
Ketiganya langsung menoleh.
Setelah itu, tidak lama kemudian ada seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Seorang perempuan muda. Berambut hitam panjang yang diikat sederhana ke belakang. Mengenakan hoodie abu-abu kebesaran dan celana bahan hitam panjang. Tatapannya terlihat lelah, seolah ia baru saja memikirkan terlalu banyak hal selama perjalanan pulangnya yang jauh. Namun yang membuat Elvano terkejut bukanlah penampilannya. Melainkan fakta bahwa hari ini seharusnya Agatha masih sedang berada di kampus yang cukup jauh dari tempat tinggalnya, lebih tepatnya ia sedang merantau di luar kota, hingga larut malam. Kini Agatha justru perlu mengorbankan waktu kuliahnya untuk pulang merantau.
"Agatha?"
Perempuan itu menghela napas panjang.
"Lumayan juga ya, baru sadar gue ada setelah gue ngomong."
Kayra langsung menoleh.
"Kok lo udah pulang?"
Tidak lama kemudian Agatha meletakkan tas besar dan kopernya yang berat karena dipenuhi dengan pakaian sehari-harinya yang dipakai olehnya di atas meja.
"Karena Mama nelpon."
Delliza langsung terdiam.
Agatha menatap ibunya beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Dan Mama nggak pernah nelpon gue sampai enam kali berturut-turut kecuali ada sesuatu yang serius."
Suasana kembali berubah.
Agatha bukan orang yang mudah panik. Di antara ketiga bersaudara itu, justru Agatha yang biasanya paling tenang, paling rasional dan paling jarang ikut terbawa emosi. Namun kali ini ekspresinya berbeda. Ada kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan.
Dan itu membuat Elvano semakin yakin bahwa situasi mereka jauh lebih rumit daripada yang terlihat.
"Oke."
Kayra menyilangkan tangan.
"Gue rasa kita semua lagi kehilangan konteks di sini."
Agatha mengangguk setuju.
"Same."
Kemudian pandangannya jatuh ke arah foto lama yang masih berada di atas meja. Seketika ekspresinya berubah. Senyumnya menghilang. Matanya membeku. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu, Agatha terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.
"Itu..."