Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #10

Suara dari Masa Lalu

CHAPTER 10

"Tidak semua pesan ditulis di atas kertas. Ada yang disimpan dalam suara, menunggu bertahun-tahun untuk ditemukan oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat."

Malam terus berjalan. 

Namun bagi keluarga Wardana, waktu seolah berhenti di satu titik yang sama.

Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa berpikir jernih setelah apa yang baru saja diungkapkan Agatha. Ruang keluarga yang biasanya menjadi tempat paling nyaman di rumah itu kini terasa asing. Terlalu banyak rahasia yang berkeliaran di dalamnya. Terlalu banyak nama yang selama bertahun-tahun tidak pernah disebut, tetapi tiba-tiba kembali hadir dan mengambil ruang di antara mereka.

Lampu gantung di tengah ruangan memancarkan cahaya kuning hangat. Namun anehnya, kehangatan itu tidak mampu mengusir dingin yang perlahan merambat ke dalam hati mereka.

Elvano masih berdiri di dekat meja. Foto Arsen berada tepat di hadapannya. Untuk kesekian kalinya malam itu, matanya kembali jatuh pada wajah laki-laki dalam foto tersebut.

Wajah yang seharusnya terasa asing. Tetapi justru terasa terlalu dekat.

Semakin lama ia memperhatikan foto itu, semakin ia menyadari kemiripan yang tidak bisa dibantah. Cara tersenyum. Cara berdiri. Tatapan mata. Bahkan bentuk alis mereka hampir sama. Seolah ia sedang melihat versi lain dari dirinya sendiri.

Versi yang hidup bertahun-tahun sebelum dirinya memahami apa itu kehilangan.

"Masih pada susah percaya ya?" suara Agatha terdengar pelan dari kursi sebelah.

Elvano tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Tidak lama kemudian berkata "Jujur aja… Gue bahkan nggak tahu harus ngerasa apa sekarang."

Agatha mengangguk.

Elvano menarik kursi lalu duduk perlahan.

"Kalau orang asing tiba-tiba bilang dia kakak gue, mungkin gue bakal ketawa."

"Kalau sekarang?" tanya Agatha.

Elvano menatap foto itu lagi.

"Sekarang gue malah bingung kenapa rasanya kayak kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah gue kenal."

Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Karena tidak ada yang bisa membantahnya. Terkadang seseorang tidak perlu hadir dalam hidup kita untuk meninggalkan ruang kosong.

Dan malam itu...

Arsen telah menjadi ruang kosong terbesar yang baru mereka sadari keberadaannya. Di sisi lain ruangan, Kayra sedang duduk di lantai dengan kedua kaki diselonjorkan ke depan. Untuk ukuran dirinya, ia terlalu diam malam itu. Dan ketika Kayra terlalu diam… biasanya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya sangat serius.

"Gue kesel." ucapnya tiba-tiba.

Semua orang menoleh.

"Kesel banget malah."

"Sama siapa lo kesel Kay?" tanya Elvano.

Kayra tertawa kecil. Namun terdengar pahit.

"Semua orang." 

"Nggak jelas."

"Ya emang nggak jelas."

Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.

"Bayangin aja."

Ia mulai menunjuk satu per satu.

"Papa nyembunyiin rahasia."

"Mama nyembunyiin rahasia."

"Keluarga besar nyembunyiin rahasia."

"Kita hidup bertahun-tahun di rumah yang sama."

"Lalu tiba-tiba muncul fakta kalau kita punya kakak yang hilang."

Kayra menggeleng pelan.

"Seriously?"

Ia tertawa lagi.

Lihat selengkapnya