Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #11

Pecahan Kenangan

CHAPTER 11

"Kenangan tidak selalu hilang ketika dilupakan. Kadang ia pecah menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu kembali satu per satu ketika seseorang mulai berani mencari kebenaran."

Tidak ada seorang pun yang berbicara saat mereka berdiri di depan ruang kerja itu. Suara statis dari dalam ruangan masih terdengar samar, pelan, dan putus-putus. Namun cukup jelas untuk membuat jantung siapa pun berdetak lebih cepat.

Udara di lorong terasa semakin dingin. Bukan dingin karena malam. Melainkan dingin yang muncul ketika seseorang sadar bahwa dirinya sedang berdiri tepat di depan sesuatu yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan.

Elvano melangkah lebih dulu. Tangannya perlahan menyentuh daun pintu. Kayu tua itu mengeluarkan bunyi pelan ketika didorong.

Krrrkk...

Ruangan langsung terlihat gelap, sepi, dan tidak ada siapa-siapa. Namun tape recorder tua yang berada di atas meja kerja Martin menyala sendiri. Lampu merah kecil di sudutnya berkedip pelan. Seolah benda itu memang sedang menunggu mereka datang.

Kayra langsung berdiri di belakang Elvano.

"Gue cuma mau bilang satu hal ya."

"Apa?"

Kalimat Elvano terdengar pelan.

Kayra menelan ludah.

"Kalau tiba-tiba ada hantu keluar dari lemari, gue resign jadi manusia."

Agatha yang berdiri di samping mereka hampir tertawa.

"Hidup bukan pekerjaan, Kay."

"I know."

Kayra menunjuk tape recorder itu.

"Tapi ini udah terlalu horror movie vibes buat gue."

Meski mencoba bercanda, suaranya tetap terdengar tegang. Karena jauh di dalam dirinya, ia juga merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan yang sama ketika seseorang sedang membuka pintu menuju masa lalu. Dan tidak tahu apa yang sedang menunggunya di balik sana.

Tape recorder itu tiba-tiba mengeluarkan suara klik. Lalu suara Martin kembali terdengar. Namun kali ini lebih jelas dan lebih dekat. Seolah pria itu sedang berdiri tepat di depan mereka.

"Jika kalian sampai mendengar bagian ini..."

Semua langsung diam. Tidak ada yang berani menyela.

"Maka kemungkinan besar semuanya sudah terlambat."

Delliza yang baru sampai di ambang pintu langsung memejamkan mata. Suaranya itu benar-benar terdengar seperti suara Martin. Tidak mungkin salah. Setelah puluhan tahun hidup bersama seseorang, mustahil melupakan suara yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

"Aku tahu kalian pasti marah."

"Aku tahu kalian pasti bingung."

"Dan aku tahu suatu hari nanti kalian akan mencari jawaban."

Elvano merasakan tenggorokannya mengering. Tangannya mengepal perlahan.

"Kalau kalian sedang mendengar rekaman ini..."

"berarti Arsen sudah menemukan kalian."

Jantung Elvano seakan berhenti berdetak. Kayra langsung menoleh. Agatha ikut membeku. Sedangkan Delliza terlihat kehilangan warna di wajahnya.

"Apa maksudnya?" bisik Kayra.

Namun tape recorder itu terus berjalan.

"Atau mungkin..."

"kalian yang menemukan jejaknya terlebih dahulu."

Suara statis kembali terdengar beberapa detik.

Kemudian rekaman berlanjut.

"Ada banyak hal yang tidak pernah bisa aku ceritakan."

"Bukan karena aku tidak ingin."

"Tapi karena ada beberapa kebenaran yang terlalu berat untuk dibebankan kepada anak-anak."

Mata Elvano perlahan menunduk.

Untuk pertama kalinya… ia bisa mendengar rasa bersalah dalam suara ayahnya.

"Tapi ternyata aku salah."

"Karena menyembunyikan kebenaran tidak membuat luka menghilang."

"Ia hanya membuat luka itu tumbuh sendirian."

Lihat selengkapnya