CHAPTER 12
"Ada luka yang tidak pernah sembuh karena terlalu sering disembunyikan. Dan ketika akhirnya menemukan suara, ia tidak datang sebagai tangisan—melainkan sebagai nyanyian yang membuat semua orang terpaksa mendengarkan"
Malam semakin gelap. Namun tidak ada satu pun anggota keluarga Wardana yang memiliki keinginan untuk tidur. Rumah yang selama ini menjadi tempat pulang mendadak terasa seperti ruang tunggu yang dipenuhi pertanyaan. Setiap ruangan menyimpan jejak masa lalu. Setiap benda seolah memiliki cerita yang belum selesai diceritakan.
Foto bertuliskan Danau Arunika masih tergeletak di atas meja ruang kerja. Tidak ada yang menyentuhnya. Tetapi semua mata berkali-kali kembali menatapnya. Seakan benda kecil itu memiliki gravitasi yang tidak terlihat. Gravitasi yang menarik mereka semakin dekat pada sesuatu yang selama ini berusaha dijauhkan dari keluarga mereka.
Elvano berdiri di dekat jendela. Hujan mulai turun di luar. Butiran air menghantam kaca dengan ritme yang tidak beraturan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua rahasia ini mulai terbuka, ia merasa lelah. Bukan lelah secara fisik. Melainkan lelah karena terlalu banyak hal yang harus dipahami dalam waktu yang terlalu singkat.
"Gue nggak ngerti." suara Kayra memecah keheningan sambil duduk bersila di lantai sambil memegang foto itu.
"Gue bener-bener nggak ngerti."
"Bagian yang mana?" tanya Agatha sambil menoleh ke Kayra.
"Semuanya." jawab Kayra dengan serius.
Kayra mengangkat kedua tangannya.
"Like... literally everything."
Ia menghela napas panjang.
"Kita baru tahu punya kakak."
"Kita baru tahu Papa nyimpen rekaman."
"Kita baru tahu ada kota yang bahkan nggak muncul di peta."
"Lalu sekarang kita harus percaya kalau semua jawaban hidup kita ada di sana?"
Ia menggeleng.
"Kalau ini mimpi, please someone wake me up."
Tidak ada yang tertawa.
Karena kali ini candaan Kayra terdengar lebih seperti jeritan seseorang yang sedang kebingungan.
Delliza yang duduk di kursi dekat meja perlahan menatap putrinya. Matanya tampak lelah. Sangat lelah.
"Mamah tahu ini berat."
"Berat?" tanya Kayra sambil tertawa kecil.
"Mah, berat itu pas tugas kuliah numpuk terus ngerjainnya waktu udah mepet deadline wkwk."
"Ini tuh..."
Ia berhenti. Matanya mulai memerah.
"...ini beda."
Ruangan kembali sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Kayra tidak mencoba terlihat kuat. Tidak mencoba terlihat santai. Tidak mencoba menutupi perasaannya dengan humor.
"Aku marah."
Kalimat itu keluar begitu saja.
"Aku marah karena ternyata hidup kita nggak sejujur yang aku kira."
Air matanya mulai jatuh.
"Aku marah karena selama ini aku selalu mikir keluarga kita baik-baik aja."
Suaranya mulai bergetar.
"Padahal ternyata ada orang yang hilang."
"Ada cerita yang dikubur."
"Ada luka yang nggak pernah sembuh."
Dan yang paling menyakitkan… Ia menatap ibunya.
"...aku marah karena Mama sama Papa ngelewatin semuanya sendirian."
Delliza langsung menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.
Karena untuk pertama kalinya...
seseorang berhasil mengucapkan hal yang selama ini tidak pernah berani ia katakan pada dirinya sendiri.
Elvano memejamkan mata. Dadanya terasa sesak.
Bertahun-tahun.
Bertahun-tahun mereka tinggal di rumah yang sama. Makan di meja yang sama. Merayakan ulang tahun bersama. Tertawa bersama. Namun tidak pernah benar-benar mengetahui beban yang dipikul orang tua mereka.
Dan mungkin...
itulah yang paling menyakitkan.
Bahwa orang-orang yang paling dekat dengan kita terkadang adalah orang yang paling tidak kita pahami.
Hujan di luar semakin deras. Agatha perlahan berdiri. Kemudian berjalan menuju jendela.