CHAPTER 13
"Tidak semua orang yang pergi benar-benar meninggalkan kita. Ada yang tetap tinggal dalam doa, dalam kenangan, dan dalam bagian hati yang tidak pernah berhasil kita tutup kembali."
Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara setelah panggilan itu terputus. Suara laki-laki yang terdengar dari seberang telepon masih menggantung di kepala mereka seperti gema yang menolak menghilang. Bahkan setelah layar ponsel Agatha kembali gelap, suasana di ruang kerja itu tetap terasa berat.
Sangat berat.
Hujan masih turun di luar. Bukan lagi gerimis tipis seperti beberapa jam sebelumnya. Kini hujan jatuh deras menghantam kaca jendela, menciptakan irama yang aneh. Seolah malam sedang berusaha mengatakan sesuatu yang tidak mampu diterjemahkan oleh kata-kata.
Agatha masih memegang ponselnya. Tangannya gemetar. Tidak banyak. Namun cukup untuk terlihat.
Elvano memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya mendekat.
"Agatha."
Tidak ada jawaban.
"Agatha."
Kali ini suaranya lebih pelan. Lebih seperti seorang kakak yang sedang berusaha memastikan adiknya baik-baik saja.
Agatha mengangkat wajah. Matanya terlihat kosong.
"...gue kenal suara itu."
Ruangan kembali sunyi.
Delliza menatap putrinya dengan cemas.
"Lo yakin kenal sama suara itu Agatha?"
Agtha mengangguk perlahan.
"Sangat yakin."
"Tapi siapa dia?" tanya Kayra.
Agatha menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini ia simpan sendirian.
"Dua tahun lalu..."
Kalimatnya menggantung.
"Dua tahun lalu waktu gue nyari informasi tentang Arsen..."
Ia menelan ludah.
"...gue pernah ketemu seseorang."
Elvano langsung fokus.
"Orang yang sama?"
"Iya Van."
"Di mana?"
"Bukan di kota ini."
Agatha berjalan mendekati jendela. Pandangannya menembus hujan. Namun jelas pikirannya sedang berada jauh di tempat lain.
"Awalnya gue kira dia cuma orang biasa."
"Lalu?"
"Lalu dia nyebut nama Arsen."
Jantung Kayra langsung berdetak lebih cepat.
"Tanpa lo kasih tahu siapa Arsen?"
Agatha mengangguk.
"Iya."
"Tunggu bentar…"
Kayra mengangkat tangan.
"That is creepy banget."
"Memang." jawab Agatha.
"Dan itu belum bagian paling anehnya."
Elvano merasakan firasat buruk muncul kembali. Karena setiap kali seseorang mengatakan kalimat seperti itu… biasanya cerita berikutnya jauh lebih buruk.
"Apa yang dia bilang?"