CHAPTER 14
"Beberapa rahasia tidak terbongkar oleh waktu. Mereka terbongkar oleh badai. Karena hanya ketika hujan turun paling deras, manusia berhenti berlari dan mulai mendengar suara yang selama ini ia abaikan."
Pagi datang tanpa matahari. Langit masih dipenuhi awan kelabu yang menggantung rendah seperti beban yang terlalu lama ditahan bumi. Hujan yang semalam sempat mereda kembali turun sejak dini hari. Tidak deras. Tidak pula ringan. Hanya cukup untuk membuat dunia terlihat muram dari balik jendela rumah Wardana.
Suasana rumah juga tidak jauh berbeda. Tidak ada yang benar-benar tidur. Bahkan ketika malam telah berganti pagi, pikiran mereka masih tertinggal di ruang kerja itu. Di foto Danau Arunika. Di rekaman suara Arsen. Di pesan terakhir Martin. Dan pada keputusan yang telah mereka buat yaitu pergi, mencari jawaban, mencari seseorang yang mungkin masih hidup atau setidaknya mencari alasan mengapa semuanya harus terjadi.
Elvano berdiri di teras belakang sambil memandangi hujan. Tangannya menggenggam secangkir kopi yang sejak tadi tidak diminum. Pikirannya terlalu sibuk. Terlalu penuh. Terlalu berisik.
Selama bertahun-tahun hidupnya terasa sederhana.
Sekolah.
Rumah.
Keluarga.
Masa depan.
Namun dalam hitungan hari, semuanya berubah. Dan yang paling mengganggunya bukan fakta bahwa mereka memiliki rahasia. Melainkan kenyataan bahwa mungkin selama ini mereka hanya mengetahui sebagian kecil dari kebenaran.
"Van, lo nggak tidur ya semalem?" suara Kayra terdengar dari belakang.
Elvano menoleh.
Kemudian Kayra berjalan mendekat sambil membawa dua bungkus roti. Rambutnya masih sedikit berantakan. Wajahnya terlihat lelah. Namun setidaknya kali ini ia terlihat lebih tenang dibanding semalam.
"Lo juga samanya Kay wkwk"
Kayra duduk di sampingnya.
"Hujan begini bikin susah tidur."
"Bohong."
"Yaudah."
Kayra tertawa kecil.
"Gue kepikiran."
"Nah."
"Tuh kan."
Mereka terdiam sesaat.
Mendengarkan suara hujan yang memukul genting rumah.
"Van."
"Hm?"
"Lo pernah nggak sih ngerasa hidup lo ternyata bukan hidup yang lo kira?"
Pertanyaan itu terdengar aneh. Namun Elvano mengerti maksudnya.
"Sering."
"Sering?"
"Iya."
Elvano menatap hujan sambil tersenyum tipis.
"Kadang kita pikir kita ngerti semuanya."
"Kita pikir kita ngerti keluarga kita."
"Kita pikir kita ngerti siapa diri kita."
"Lalu suatu hari..."
"...hidup bilang, surprise."
Kayra terkekeh pelan.
"Yeah."
"Life is rude."
"Very rude."
Mereka tertawa kecil. Namun tawa itu tidak bertahan lama. Karena kenyataan masih menunggu tepat di depan mereka.
. . .
Beberapa saat kemudian suara pintu terbuka terdengar dari dalam rumah. Nara muncul membawa sebuah kotak tua berwarna cokelat.
"Guys."
Ia berjalan cepat ke arah mereka.
"Kalian harus lihat ini."
"Apa lagi?"
"Please jangan bilang ada kakak lain."
Agatha memutar mata.
"Kayra."
"Apa?"
"Gue serius."
Ekspresi Agatha membuat mereka langsung berdiri. Kotak itu diletakkan di atas meja teras. Debu tipis masih menempel di sudut-sudutnya.
"Ini gue temuin di gudang belakang."
Elvano mengernyit.
"Gudang?"
"Iya."
Agatha mengangguk.
"Tadi gue lagi nyari koper lama."
"Terus nemu ini."
"Apa isinya?"
"That's the problem."
Agatha menatap mereka.
"Gue belum buka."
"Kenapa?"
"Karena di atasnya ada nama Arsen."
Sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Elvano langsung merasakan dadanya menegang. Nama itu lagi. Selalu nama itu. Seolah semakin mereka mencoba memahami masa lalu, semakin banyak jejak Arsen yang bermunculan dari tempat-tempat yang tidak pernah mereka duga.
Perlahan tutup kotak dibuka. Bau kertas tua langsung keluar. Di dalamnya terdapat beberapa buku catatan, foto-foto lama, kaset, dan sebuah jurnal dengan sampul kulit yang mulai pudar.
"Ini tulisan tangan Arsen."
Delliza yang baru datang langsung mengenalinya. Tangannya bergetar ketika menyentuh buku itu. Karena sudah lima belas tahun sejak terakhir kali ia melihat tulisan anaknya.
Lima belas tahun.
Waktu yang cukup lama untuk membuat seseorang lupa banyak hal. Namun tidak cukup lama untuk membuat seorang ibu melupakan tulisan anaknya sendiri.
Perlahan jurnal itu dibuka Halaman pertama hanya berisi satu kalimat.
"Kalau suatu hari aku tidak pulang, jangan salahkan hujan."
Semua langsung diam.
Kalimat itu terasa aneh. Namun sekaligus menakutkan. Karena terdengar seperti seseorang yang tahu sesuatu akan terjadi.
Kayra menelan ludah.
"Oke."
"Kenapa semua yang ditulis kakak kita selalu kedengeran kayak opening film thriller?"
Tidak ada yang menjawab.