CHAPTER 15
"Rumah tidak selalu runtuh karena badai. Kadang ia hancur perlahan oleh rahasia yang terlalu lama dipendam, oleh luka yang tidak pernah dibicarakan, dan oleh orang-orang yang saling mencintai tetapi lupa bagaimana cara saling memahami"
Tidak ada yang menyadari bahwa seseorang baru saja berdiri di balik hujan. Tidak ada yang melihat bayangan yang beberapa menit lalu mengawasi rumah Wardana dari kejauhan. Karena di dalam rumah itu sendiri, badai yang jauh lebih besar sedang berlangsung. Bukan badai yang terdengar dari langit. Melainkan badai yang selama bertahun-tahun tumbuh diam-diam di dalam keluarga mereka. Dan kini mulai menunjukkan retakan-retakan yang tidak lagi bisa ditutupi.
Agatha masih memegang jurnal Arsen. Matanya terus menatap halaman yang sobek itu. Halaman yang seharusnya berisi sebuah nama. Sebuah nama yang mungkin bisa menjelaskan semuanya. Sebuah nama yang mungkin menjadi alasan mengapa Arsen pergi. Mengapa Martin menghilang. Dan mengapa Arunika terus muncul dalam setiap petunjuk yang mereka temukan.
"Siapa yang nyobek ini?" gumam Kayra.
Tidak ada yang menjawab. Karena mereka semua memikirkan pertanyaan yang sama.
Elvano menyandarkan tubuhnya ke meja. Pikirannya terasa penuh. Bahkan sudah terlalu penuh sampai rasanya sulit bernapas.
"Ada yang nggak masuk akal."
"Apa?" tanya Agatha.
"Kalau memang seseorang sengaja nyembunyiin nama itu..."
Elvano menunjuk halaman yang sobek.
"...berarti orang itu tahu jurnal ini bakal ditemukan."
Sunyi.
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah. Karena kemungkinan itu memang masuk akal. Terlalu masuk akal.
Delliza perlahan duduk. Tubuhnya terlihat jauh lebih lelah dibanding beberapa hari lalu. Seolah setiap rahasia yang terbuka ikut mengambil sebagian kekuatannya.
"Mamah mulai takut." suara itu keluar begitu saja.
Semua menoleh.
Karena Delliza jarang sekali mengaku takut. Sangat jarang.
"Mamah takut ternyata selama ini mamah nggak benar-benar mengenal hidup yang mamah jalani."
Air matanya mulai menggenang.
"Mamah takut ternyata ada begitu banyak hal yang terjadi di belakang mamah."
"Mamah takut ternyata keluarga kita nggak pernah baik-baik saja."
Tidak ada yang menyela.
Karena untuk pertama kalinya… mereka melihat seorang ibu yang berhenti berpura-pura kuat. Seorang ibu yang selama bertahun-tahun berdiri menjadi dinding bagi semua orang. Namun kini dinding itu mulai retak.
Dan di balik retakan itu… ada manusia biasa yang juga terluka.
Kayra perlahan mendekat. Kemudian duduk di lantai tepat di depan ibunya.
"Mah..."
Delliza mengangkat wajah.
"Can I say something?"
Delliza mengangguk pelan.
Kayra menarik napas panjang.
"Mungkin ini bakal terdengar random."
"Tapi Kayra pengen jujur."
Ruangan langsung diam.
Karena semua tahu. Ketika seseorang berkata ingin jujur… biasanya ada sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.
"Kayra pernah marah sama Mama.”
Kalimat itu membuat Delliza membeku.
"Sangat marah."
Kayra tersenyum pahit.
"Dulu waktu aku masih SMP."
"Waktu Papa mulai sering diam."
"Waktu Mama mulai terlalu sering bilang kalau semuanya baik-baik aja."
Air matanya mulai muncul.
"Padahal Kayra tahu nggak baik-baik aja."
"Kayra tahu ada sesuatu yang salah."
"Tapi setiap kali Kayra nanya..."
Ia tertawa kecil.
"...jawabannya selalu sama."
'"Nanti kalau sudah waktunya Mama cerita."'
Sunyi.
"Dan tahu nggak apa yang paling nyakitin?"
Delliza menunduk.
"Bukan karena Mama bohong."
"Tapi karena Kayra ngerasa nggak dipercaya."
Kalimat itu menghantam ruangan seperti petir. Karena itu bukan tuduhan. Melainkan luka yang selama ini ia diamkan selama bertahun-tahun.
"Kadang anak nggak butuh semua jawaban."
Kayra melanjutkan.
"Tapi anak butuh merasa dia cukup penting untuk tahu kenyataan."
Suaranya mulai bergetar.
"Kayra ngerti kok orang tua pengen melindungi anaknya."
"I get it."
"Seriously."
"Tapi kadang..."
"...yang bikin sakit bukan masalahnya."