Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #16

Bayangan yang Menjadi Cahaya

CHAPTER 16

"Ada luka yang tidak sembuh karena waktu. Ada luka yang baru mulai pulih ketika seseorang akhirnya berani melihatnya dari dekat."

Malam semakin larut. Jam dinding di ruang keluarga sudah melewati pukul satu dini hari, tetapi tidak ada satu pun penghuni rumah Wardana yang benar-benar berniat tidur. Bukan karena mereka tidak mengantuk. Melainkan karena terlalu banyak hal yang sedang berputar di kepala masing-masing. Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak kemungkinan. Dan terlalu banyak ketakutan yang belum berani diucapkan dengan lantang.

Buku tua bertuliskan EZRA ALDEN masih berada di atas meja. Lampu ruang keluarga menjadi satu-satunya sumber cahaya yang tersisa di rumah itu. Sementara di luar, sisa hujan masih meninggalkan suara tetesan dari atap dan dedaunan.

Suara yang biasanya terasa menenangkan. Namun malam itu justru membuat suasana semakin sepi. Semakin berat. Semakin sulit dijelaskan.

Elvano duduk paling dekat dengan meja. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari buku itu. Seolah ada sesuatu di dalamnya yang memanggilnya. Bukan dengan suara. Melainkan dengan rasa penasaran yang terus tumbuh.

"Lo sadar nggak sih?" suara Kayra memecah keheningan.

Semua menoleh.

Kayra menyandarkan kepalanya ke sofa. Wajahnya terlihat lelah. Sangat lelah.

"Seminggu lalu hidup gue masih normal."

Ia tertawa kecil. Tawa yang tidak terdengar lucu.

"Gue masih ribut soal tugas kampus, rebutan charger sama Agatha, terus ngeluh karena internet rumah lemot."

Agatha mendengus.

"Itu masih lo lakuin sampai sekarang."

"Not the point."

Kayra menunjuk buku di meja.

"Lihat hidup kita sekarang."

"Tiba-tiba ada kakak yang hilang lima belas tahun."

"Papa menghilang."

"Ada kota misterius."

"Ada orang bernama Ezra."

"Terus sekarang kita nemuin jurnal random yang bikin hidup makin nggak jelas."

Elvano menghela napas.

" Gue juga capek, Kay."

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Karena Elvano jarang mengaku lelah.

Sangat jarang.

Biasanya ia selalu terlihat menjadi orang yang paling tenang di antara mereka. Paling kuat. Paling rasional. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ada retakan yang terlihat jelas di wajahnya.

"Gue capek harus pura-pura kuat." suara Elvano terdengar pelan.

Namun cukup membuat semua orang mendengarnya.

"Gue capek setiap bangun tidur berharap ada jawaban."

"Gue capek setiap petunjuk yang kita temuin malah nambah pertanyaan baru."

Ia menatap buku Ezra.

Lama.

Sangat lama.

"Lagian siapa sih Ezra ini sebenarnya?"

"Tiap kali nama dia muncul, rasanya kayak dia penting banget."

"Tapi kita bahkan nggak tahu dia masih hidup atau nggak."

Tidak ada yang menjawab. Karena mereka memang tidak tahu. Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa semakin rumit.

Lihat selengkapnya