Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #17

Jejak yang Tertinggal

CHAPTER 17

"Orang bisa menghilang dari pandangan, tetapi jejak yang mereka tinggalkan selalu menemukan cara untuk pulang kepada mereka yang masih mencari"

Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara setelah nama itu terucap.

Damar.

Satu nama yang sebelumnya asing. Satu nama yang tidak pernah muncul dalam percakapan keluarga Wardana.

Namun entah kenapa, sejak keluar dari bibir Delliza, nama itu terasa seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang. Riaknya menyebar ke mana-mana. Menyentuh banyak hal yang selama ini terkubur. Elvano bersandar perlahan ke sofa. Matanya masih tertuju pada foto yang tergeletak di atas meja. Foto yang beberapa menit lalu membuat seluruh ruangan membeku.

Untuk pertama kalinya sejak pencarian ini dimulai, ia merasa mereka tidak sedang mengejar bayangan. Karena bayangan itu perlahan mulai memiliki bentuk, memiliki nama, memiliki wajah, dan mungkin memiliki alasan.

Di luar rumah, suara kendaraan yang sesekali melintas terdengar samar.

Malam terus berjalan. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menyadarinya. Waktu seolah berhenti tepat di ruang keluarga itu. Di antara foto-foto lama, buku Ezra, dan rahasia yang perlahan keluar satu per satu.

Agatha memecah keheningan.

"Mah..." suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding biasanya.

"Siapa sebenarnya Pak Damar itu?" tanya Agatha.

Delliza tidak langsung menjawab.

Ia menunduk. Tidak lama kemudian ia menatap jemarinya sendiri cukup lama. Seolah pertanyaan itu membawanya kembali ke tahun-tahun yang selama ini berusaha ia lupakan. Dan ketika akhirnya ia berbicara, suaranya terdengar berbeda. Lebih berat dan lebih rapuh.

"Dulu..."

Ia menarik napas panjang.

"Dulu Pak Damar adalah orang yang paling sering datang ke rumah ini."

Kayra langsung mengernyit.

"Serius?"

Delliza mengangguk pelan.

"Hampir setiap minggu."

"Dia sahabat Papa kalian."

"Kalau Papa sedang ada masalah, Pak Damar yang datang."

"Kalau Papa sedang bahagia, Pak Damar juga ada."

"Kalau ada acara keluarga, Pak Damar selalu ikut."

Elvano mengerutkan dahi.

"Kalau Pak Damar pernah sedekat itu sama Papa, kenapa kita nggak pernah dengar namanya?"

Pertanyaan itu membuat Delliza terdiam lagi.

Karena jawabannya tidak sederhana.

"Terkadang..."

Ia tersenyum pahit.

"...orang yang paling sering hadir justru menjadi orang pertama yang ingin kita lupakan ketika semuanya hancur."

Ruangan kembali sunyi. Kalimat itu menggantung lama. Dan entah kenapa terasa menyakitkan.

Kayra mengambil bantal sofa lalu memeluknya.

"Okay."

Ia menghela napas.

"At this point, hidup gue udah kayak series Netflix yang season-nya nggak selesai-selesai."

Agatha melirik.

"Masih sempat bercanda ya?"

"Kalau gue nggak bercanda, gue bisa nangis."

"Itu fair sih."

"Exactly."

Untuk sesaat, tawa kecil yang terdengar cukup tipis itu muncul. Namun cukup membuat suasana yang terlalu tegang sedikit mengendur. Hanya sedikit. Karena kenyataan tetap berada di atas meja itu. Dalam bentuk foto. Dalam bentuk buku. Dalam bentuk nama yang baru saja muncul kembali dari masa lalu.

Elvano kembali membuka buku Ezra. Ia membalik beberapa halaman yang sebelumnya belum sempat mereka baca. Tulisan tangan itu semakin berantakan. Seolah ditulis dalam kondisi tergesa-gesa. Atau mungkin dalam kondisi takut. Matanya berhenti pada satu paragraf. Lalu ekspresinya berubah.

"Agatha."

"Hm?"

"Lihat ini."

Agatha langsung mendekat. Kayra ikut merapat. Delliza bangkit dari tempat duduknya.

Lihat selengkapnya