Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #18

Orang yang Paling Dipercaya

CHAPTER 18

"Tidak semua pengkhianatan datang dari orang yang membenci kita. Kadang luka terdalam justru diberikan oleh orang yang pernah kita percayai sepenuh hati."

Tidak ada yang langsung menyentuh amplop itu. Seolah kertas tua berwarna kecokelatan yang tergeletak di atas meja tersebut tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang mampu mengubah banyak hal hanya dengan dibuka. 

Lampu ruang penyimpanan itu masih menyala redup. Menciptakan bayangan panjang di dinding. Bayangan yang bergerak setiap kali seseorang menggeser posisi duduk.

Namun malam itu, tidak ada yang benar-benar memperhatikan suasana di sekitar mereka. Karena seluruh perhatian tertuju pada satu benda, satu amplop, satu nama, dan satu pertanyaan yang tidak berhenti berputar di kepala mereka.

Kenapa ada surat untuk Elvano...

yang ditulis lima belas tahun lalu?

Padahal lima belas tahun lalu, Elvano bahkan masih terlalu kecil untuk membaca. Jantung Elvano berdetak semakin cepat. Tangannya perlahan bergerak mendekati amplop itu. Lalu berhenti.

Kemudian mundur lagi dengan ragu. Bahkan sangat ragu untuk mundur lagi. Sementara itu Kayra yang duduk di sebelahnya langsung memperhatikan.

"Van."

"Hm?"

"Kok muka lo pucat banget gue liat."

"Gue tau."

"Lo kayak mau buka hasil ujian nasional."

Elvano mengembuskan napas pelan.

"Ini lebih serem dari hasil ujian."

"Itu valid."

Agatha mengangguk.

"Sangat valid."

Untuk sesaat mereka tertawa kecil. Namun tawa itu cepat menghilang. Karena kenyataan masih ada di depan mereka. Dan kenyataan itu tidak terlihat ramah.

Delliza memandang amplop tersebut cukup lama. Lalu perlahan berkata, "Itu tulisan tangan Arsen."

Ruangan langsung sunyi.

Elvano mengangkat kepala.

"Mah yakin?"

Delliza mengangguk.

"Mama hafal tulisan tangan anak Mama sendiri."

Kalimat itu membuat suasana berubah lagi. Karena sekarang amplop tersebut bukan lagi sekadar surat tua. Itu adalah sesuatu yang ditulis Arsen. Untuk Elvano. Jauh sebelum semuanya berubah. Jauh sebelum Arsen menghilang. Jauh sebelum rumah ini dipenuhi rahasia.

Elvano menelan ludah. Lalu perlahan membuka amplop tersebut. Kertas di dalamnya sudah mulai menguning. Sudut-sudutnya terlihat rapuh. Namun tulisan di dalamnya masih terbaca jelas.

Sangat jelas.

Dan ketika matanya membaca baris pertama… napasnya langsung tertahan.

"Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana."

Tidak ada yang berbicara. Bahkan suara napas terasa terlalu keras.

"Aku nggak tahu nanti kamu bakal jadi seperti apa."

"Mungkin tinggi."

"Mungkin nyebelin."

"Mungkin suka bikin masalah."

"Atau mungkin jadi orang yang jauh lebih baik dari aku."

Kayra langsung menutup mulutnya. Agatha memalingkan wajah. Sementara Elvano hanya bisa diam.

Karena untuk pertama kalinya...

ia sedang membaca kata-kata dari seseorang yang seharusnya tumbuh bersamanya. Seseorang yang seharusnya menjadi kakaknya.

"Tapi kalau kamu membaca ini saat aku sudah nggak ada..."

Lihat selengkapnya