Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #19

Arunika yang Sesungguhnya

CHAPTER 19

"Tidak semua tempat hilang karena bencana. Ada tempat-tempat yang sengaja dilupakan, karena terlalu banyak orang takut mengingat apa yang pernah terjadi di sana."

Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Langit di luar rumah Wardana masih dipenuhi awan tipis berwarna abu-abu, sementara cahaya matahari yang masuk melalui jendela hanya mampu menerangi sebagian kecil ruang keluarga. Tidak ada yang tidur malam itu. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang benar-benar bisa memejamkan mata.

Karena sejak menemukan buku kecil bertuliskan "Jangan Percaya Damar", suasana rumah berubah menjadi jauh lebih berat, lebih sunyi, lebih penuh pikiran, dan lebih dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin mereka pikirkan.

Elvano berdiri di dekat jendela sambil memegang secangkir kopi yang bahkan belum sempat diminumnya. Tatapannya kosong tetapi pikirannya tidak. Justru terlalu ramai kepalanya. Terlalu banyak potongan informasi yang berusaha tersusun menjadi satu gambar utuh. Namun semakin ia mencoba menyusunnya, semakin banyak bagian yang terasa hilang.

Di belakangnya, Kayra masih duduk di lantai ruang keluarga dengan selimut melingkari tubuhnya, rambutnya berantakan, matanya sembab tetapi mulutnya tetap bekerja seperti biasa.

"Kalau habis ini ternyata ada organisasi rahasia juga, gue nggak bakal kaget."

Agatha yang sedang membuka kembali catatan-catatan lama langsung mengangkat kepala.

"Lo kebanyakan nonton series."

"Bukan salah gue."

Kayra menunjuk buku hitam di atas meja.

"Ini tuh literally makin lama makin absurd."

"Tadinya kita cuma nyari Papa."

"Terus muncul Arsen."

"Terus muncul Ezra."

"Terus muncul Damar."

"Terus ada kota yang hilang dari peta."

Ia mengangkat kedua tangan.

"What next?"

"Alien?"

Meskipun tidak ada yang tertawa keras, sudut bibir Elvano sedikit terangkat. Namun cukup untuk membuat suasana tidak terlalu sesak.

Delliza yang sejak tadi diam akhirnya berdiri dari kursinya.

"Alamat itu."

Semua langsung menoleh.

"Apa kita akan datang?"

Pertanyaan sederhana. Namun dampaknya langsung terasa. Karena mereka semua tahu alamat yang dimaksud. Alamat yang ditemukan di buku hitam. Alamat yang mungkin menjadi petunjuk terbesar yang mereka miliki sejauh ini.

Elvano menarik napas panjang.

"Kalau kita nggak datang, kita bakal terus muter di tempat yang sama."

Agatha mengangguk.

"Gue setuju."

Kayra langsung mengangkat tangan.

"Gue juga setuju."

"Lagian kalau udah sejauh ini terus mundur, itu kayak udah ngerjain skripsi 90 persen terus nggak jadi sidang."

"Itu lebih menyeramkan daripada misteri Arunika."

Untuk pertama kalinya pagi itu, tawa kecil terdengar cukup singkat. Namun cukup membuat mereka merasa sedikit lebih manusiawi dan sedikit lebih normal. Meskipun kenyataannya hidup mereka sudah sangat jauh dari kata normal.

. . .

Dua jam kemudian mereka berangkat. Perjalanan menuju alamat tersebut memakan waktu hampir lima jam. Semakin jauh mereka meninggalkan kota, jalanan semakin sepi. Gedung-gedung mulai berganti dengan hamparan sawah. Lalu bukit. Lalu hutan-hutan kecil yang berdiri diam di bawah langit mendung.

Suasana di dalam mobil jauh lebih tenang dibanding biasanya. Bukan karena tidak ada yang ingin berbicara. Melainkan karena masing-masing sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Agatha berkali-kali membuka foto lama Arsen. Kayra terus membaca ulang jurnal Ezra. Sementara Elvano memegang secarik kertas berisi alamat yang mereka tuju. Dan semakin dekat mereka ke lokasi tersebut semakin besar perasaan aneh yang muncul di dadanya. Seolah ada sesuatu yang sedang menunggu mereka.

Lihat selengkapnya