CHAPTER 20
"Ada nama-nama yang hilang bukan karena dilupakan, melainkan karena terlalu menyakitkan untuk diingat. Dan ketika nama itu kembali disebut, yang pulang bukan hanya seseorang, tetapi juga bagian dari diri kita yang selama ini ikut menghilang."
Langit di atas Arunika perlahan berubah warna ketika mereka meninggalkan perpustakaan tua itu. Cahaya keemasan yang sejak sore menyelimuti bangunan-bangunan tua mulai tenggelam di balik perbukitan, menyisakan semburat jingga yang memanjang di ufuk barat. Jalanan terlihat lebih lengang dibanding saat mereka datang, seolah kota kecil itu ikut menyimpan napas setelah membiarkan satu rahasia besar terbuka di hadapan mereka.
Di dalam mobil, suasana terasa jauh berbeda dibanding beberapa jam sebelumnya.
Tidak ada lagi perdebatan tentang petunjuk yang harus dicari berikutnya. Tidak ada lagi dugaan-dugaan liar yang biasanya keluar dari mulut Kayra setiap lima menit sekali. Bahkan Agatha yang biasanya paling sulit diam hanya memandangi pemandangan di luar jendela tanpa benar-benar melihatnya.
Bukan karena mereka kehabisan bahan pembicaraan. Justru sebaliknya karena mereka pada terlalu banyak hal yang memenuhi kepala sampai tidak ada satu pun yang tahu harus memulai dari mana.
Nama Arsen yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai bayangan kini memiliki wajah yang nyata. Foto yang mereka temukan di perpustakaan itu seolah meruntuhkan jarak lima belas tahun dalam hitungan detik. Untuk pertama kalinya mereka tidak sedang mengejar cerita tentang seseorang yang hilang. Mereka sedang mencari seseorang yang benar-benar ada.
Elvano duduk di kursi depan sambil memegang foto itu di atas pangkuannya. Berkali-kali matanya kembali jatuh pada wajah dalam foto tersebut, seolah ada sesuatu yang tidak ingin ia lewatkan. Semakin lama diperhatikan, semakin sulit baginya mengabaikan kemiripan yang ada pada garis rahang dan tatapan mata itu. Bahkan cara Arsen tersenyum di dalam foto terlihat anehnya familiar. Seperti sedang melihat versi lain dari dirinya sendiri.
"Masih dilihatin terus?" suara Kayra memecahkan keheningan.
Elvano tidak mengalihkan pandangannya.
"Menurut lo aneh nggak sih?"
"Apa?"
"Gue nggak pernah ketemu Arsen. Bahkan nggak pernah tahu kalo Arsen itu ada. Tapi sekarang rasanya kayak..." Ia berhenti sejenak, berusaha mencari kata yang tepat. "Kayak gue lagi nyari seseorang yang udah lama gue kenal."
Kayra memandang foto itu dari balik kursinya lalu menghela napas panjang.
"Honestly? Gue ngerti."
"Serius?"
"Iya. Dulu waktu pertama kali denger nama Arsen, gue cuma penasaran. Tapi sekarang beda. Sekarang rasanya personal."
Agatha yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.
"Karena dia keluarga."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa membuat suasana di dalam mobil berubah.
Keluarga.
Selama ini kata itu terasa begitu mudah diucapkan. Mereka menggunakannya hampir setiap hari tanpa benar-benar memikirkan maknanya. Namun beberapa minggu terakhir membuat mereka sadar bahwa keluarga bukan hanya tentang siapa yang tinggal serumah atau siapa yang duduk di meja makan yang sama.
Keluarga juga tentang orang-orang yang tetap menjadi bagian dari hidup kita bahkan ketika mereka tidak lagi ada di dekat kita.
Delliza yang duduk di kursi penumpang menatap jalan di depan sambil tersenyum kecil.
"Arsen pasti senang."
Empat kata itu langsung membuat semua orang menoleh.
Delliza tertawa pelan.
"Apa?"
"Mah tahu dari mana?" tanya Agatha.
"Karena dia selalu bilang satu hal."
"Apa?"
Delliza memandang langit yang mulai gelap di balik kaca depan.
"Dulu Arsen pernah bilang kalau suatu hari nanti dia berharap adik-adiknya tumbuh menjadi orang-orang yang saling menjaga."
Elvano langsung menoleh.
"Arsen pernah ngomong gitu Ma?"
Delliza mengangguk.
"Waktu itu kamu masih kecil sekali. Bahkan mungkin belum akan mengingat apa pun."
Suasana kembali hening.
Namun kali ini keheningan itu terasa berbeda. Bukan keheningan yang penuh rahasia. Melainkan keheningan yang dipenuhi kenangan. Kenangan yang perlahan mulai kembali menemukan tempatnya.
Perjalanan pulang berlangsung lebih lama karena hujan mulai turun ketika mereka memasuki perbatasan kota. Titik-titik air membentur kaca mobil dan menciptakan suara ritmis yang menemani perjalanan mereka. Lampu jalan yang memantul di permukaan aspal basah terlihat seperti garis-garis cahaya yang bergerak mengikuti arah kendaraan.
Entah sejak kapan, pembicaraan mereka mulai bergeser. Bukan lagi tentang petunjuk dan bukan lagi tentang misteri. Melainkan tentang hal-hal yang selama ini tidak pernah mereka bicarakan yaitu tentang rasa kehilangan, tentang kemarahan, tentang ketakutan, tentang luka yang selama bertahun-tahun disimpan masing-masing.
"Aku sebenarnya sempat marah sama Papa." suara Agatha terdengar pelan.