Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #21

Rumah yang Belajar Napas

CHAPTER 21

"Kadang yang paling sulit bukan memaafkan masa lalu, melainkan percaya bahwa setelah semua yang terjadi, kita masih pantas punya rumah untuk pulang."

Sudah hampir dua minggu sejak malam ketika semua nama yang selama ini hanya hidup sebagai rahasia akhirnya kembali disebut tanpa rasa takut. Rumah Wardana masih berdiri di tempat yang sama. Dindingnya tidak berubah. Lorong-lorongnya masih menyimpan jejak langkah yang sama. Bahkan jam tua di ruang keluarga masih berbunyi setiap pukul enam seperti biasanya. Namun entah kenapa, semuanya terasa berbeda. Seolah rumah itu perlahan sedang belajar menjadi rumah lagi.

Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan dan jatuh tepat di atas meja kayu panjang yang selama bertahun-tahun lebih sering digunakan untuk makan dalam diam daripada berbincang bersama.

Delliza sedang menyusun piring ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Orang pertama yang muncul tentu saja Kayra. Masih terlihat sangat mengantuk. Masih memakai hoodie kebesaran. Dan masih terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan pertarungan melawan alarm. Ia menjatuhkan dirinya ke kursi dengan suara keras.

"Gue mau protes boleh gak..."

Delliza bahkan tidak menoleh.

"Jam segini belum boleh protes Kay."

"Boleh Mah."

"Nggak."

"Boleh."

"Nggak."

Kayra mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Ini bentuk penindasan."

Dari arah belakang, Elvano langsung menarik kursi di sampingnya.

"Lo baru bangun lima menit."

"Dan..."

"Hak bicara lo belum aktif."

"Rude."

Elvano tertawa kecil.

Kayra mengambil roti lalu menggigitnya dengan ekspresi tidak terima. Namun beberapa detik kemudian ia berhenti. Tatapannya berkeliling ruangan.

Suasana berubah menjadi aneh. Biasanya pagi selalu terasa berat. Ada sesuatu yang menekan. Sesuatu yang membuat rumah itu terasa seperti sedang menahan napas.

Sekarang tidak.

Bukan berarti semua masalah selesai. Bukan berarti Arsen tiba-tiba muncul di depan pintu. Bukan berarti Martin sudah kembali. Tetapi rasanya seperti seseorang akhirnya membuka jendela yang selama bertahun-tahun tertutup rapat.

Udara baru mulai masuk. Dan rumah itu perlahan hidup kembali.

"Kenapa?"

Elvano memperhatikan ekspresinya.

Kayra menggeleng.

"Nggak tahu."

"Apa?"

"Gue cuma ngerasa..."

Ia berhenti sebentar.

"...rumah ini nggak serem lagi."

Elvano tertawa.

"Rumah kita nggak pernah serem."

"Oh iya?"

Kayra langsung menunjuk lorong menuju loteng.

"Lo lupa siapa yang naik ke sana pertama kali terus hampir pingsan?"

"Itu beda."

"Itu bukti."

Lihat selengkapnya