CHAPTER 22
"Pada akhirnya, hidup bukan tentang menemukan semua yang hilang. Hidup adalah tentang tetap berjalan meskipun ada bagian dari diri kita yang tidak pernah benar-benar ditemukan kembali."
Langit sore menggantung kelabu di atas rumah Wardana ketika hujan turun perlahan membasahi halaman depan yang terlihat tidak deras. Hanya rintik-rintik kecil yang jatuh dengan tenang, seolah sedang berusaha menyapa satu per satu kenangan yang masih tinggal di rumah itu. Sudah lebih dari enam bulan berlalu sejak mereka memutuskan berhenti menjadikan masa lalu sebagai tujuan hidup. Tidak ada petunjuk baru. Tidak ada telepon misterius. Tidak ada surat yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka tidak lagi bangun setiap pagi dengan harapan bahwa hari itu akan menjadi hari ketika Arsen atau Martin ditemukan. Bukan karena mereka melupakan. Bukan karena mereka berhenti peduli. Melainkan karena mereka akhirnya memahami bahwa hidup tidak bisa terus berjalan jika seluruh waktunya dihabiskan untuk menunggu.
Rumah Wardana masih sama. Lorongnya masih sama. Tangga kayunya masih mengeluarkan bunyi kecil setiap kali diinjak. Jam tua di ruang keluarga masih berbunyi setiap pukul enam sore. Namun suasana di dalamnya sudah jauh berbeda. Rumah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang dipenuhi kehilangan. Rumah itu perlahan berubah menjadi tempat yang dipenuhi kehidupan.
"Guys, gue mau ngomong serius ke kalian" suara Kayra terdengar dari ruang makan.
Semua langsung tahu tidak akan ada sesuatu yang benar-benar serius setelah kalimat pembuka seperti itu. Elvano bahkan tidak mengangkat kepalanya dari laptop.
"Nggak." jawab Elvano.
"Apa maksudnya nggak?"
"Gue nolak dari awal."
Kayra langsung menatapnya tidak terima.
"Lo bahkan belum denger ide yang selama ini gue pendam."
"Justru itu, alasan kenapa gue bisa nolak ide lo wkwk."
Agatha yang sedang menyiram tanaman di dekat jendela tertawa kecil sampai bahunya ikut berguncang. Delliza yang sedang memotong buah hanya menggeleng pelan. Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Tentang pertengkaran receh, candaan tidak penting, perdebatan yang tidak memiliki tujuan dan hal-hal sederhana yang dulu sempat hilang dari rumah ini.
Kayra menunjuk satu per satu penghuni rumah dengan ekspresi dramatis.
"Kalian semua tuh emang ya nggak pernah support mimpi orang."
"Apa mimpinya?" tanya Agatha.
"Gue mau buka warung makan." jawab Kayra pelan.
Elvano langsung menutup laptopnya.
"Fix bangkrut."
"Lo jahat banget."
"Bukan jahat. Itu Realistis namanya hahaha."
"Kenapa?"
"Karena lo nggak bisa bikin ayam tanpa gosong."
Suara tawa langsung memenuhi ruangan. Bahkan Delliza sampai harus meletakkan pisaunya karena ikut tertawa. Sementara Kayra memegang dadanya seolah baru saja mengalami pengkhianatan terbesar dalam sejarah.
"Family should support each other."
Elvano mengangguk.