Bayang Rumah Luka

Arzam Perdana Lubis
Chapter #23

Kita yang Memilih Tinggal

CHAPTER 23

"Tidak semua orang yang kita cintai berhasil berjalan sampai akhir bersama kita. Namun sebagian dari mereka meninggalkan sesuatu yang lebih lama daripada kehadiran yaitu keberanian untuk tetap melanjutkan hidup."

Malam turun perlahan di atas rumah Wardana. Udara setelah hujan selalu punya cara aneh untuk membuat segalanya terasa lebih tenang. Lampu-lampu teras memantulkan cahaya kekuningan di atas jalanan yang masih basah, sementara aroma tanah yang bercampur dengan wangi lavender dari taman belakang mengalir masuk melalui jendela yang terbuka setengah.

Rumah itu masih sama. Masih memiliki ruang keluarga yang tidak terlalu besar. Masih memiliki meja makan panjang yang mulai dipenuhi goresan-goresan kecil karena usia. Masih memiliki foto-foto lama yang tersusun rapi di dinding. Namun suasananya tidak lagi sama.

Beberapa bulan lalu, rumah ini terasa seperti tempat yang terus menunggu. Menunggu kabar. Menunggu jawaban. Menunggu seseorang pulang. Sekarang tidak lagi. Bukan karena semua jawaban sudah ditemukan. Bukan karena semua kehilangan berhasil kembali. Melainkan karena mereka akhirnya mengerti bahwa hidup tidak bisa terus berdiri di depan pintu yang sama sambil berharap masa lalu mengetuk dari luar.

Di ruang keluarga, Kayra sedang rebahan setengah tengkurap di atas karpet sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia tertawa sendiri. Sesekali menggerutu. Dan sesekali terlihat seperti orang yang sedang berdebat dengan dunia maya.

"Ini nggak masuk akal."

Suara itu membuat Elvano mengalihkan pandangan dari laptopnya.

"Apa lagi sekarang?"

Kayra langsung mengangkat ponselnya.

"Coba lihat ini."

"Nggak mau."

"Lo bahkan belum lihat sama sekali layar ponsel gue Van"

"Justru itu alasan gue nggak mau liat."

Agatha yang sedang duduk di sofa langsung tertawa. Kayra menunjuk mereka berdua dengan ekspresi terluka.

"See? This is exactly what I'm talking about. Gue tinggal serumah sama dua orang yang literally nggak pernah menghargai pendapat gue."

Elvano mengangkat alis.

"Karena sembilan puluh persen pendapat lo nggak masuk akal."

"Itu fitnah."

"Itu statistik."

Agatha menutup buku yang sejak tadi dibacanya lalu ikut menyela. "Kay, terakhir kali lo bilang punya ide bagus, lo hampir bikin bisnis jual batu."

"Itu bukan batu."

"Itu batu."

"Itu decorative emotional healing crystal."

"Itu batu."

Kayra langsung menjatuhkan tubuhnya ke karpet sambil mengeluh panjang. "Ya Tuhan, I deserve a better family."

"Too late."

"You're stuck with us."

"Unfortunately."

Tawa kecil memenuhi ruangan yang cukup ringan dan terlihat sederhana. Kemudian tanpa mereka sadari, momen-momen seperti itu adalah sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Karena ada masa ketika rumah ini bahkan kesulitan untuk sekadar bernapas. Ada masa ketika setiap percakapan selalu berakhir dengan keheningan. Ada masa ketika setiap orang sibuk menyimpan luka masing-masing. Namun sekarang semuanya berbeda.

Tidak sempurna tetapi lebih baik. Bahkan jauh lebih baik.

Delliza keluar dari dapur sambil membawa semangkuk buah potong. Melihat anak-anaknya bercanda seperti itu membuat dadanya terasa hangat. Hangat yang dulu sempat ia pikir tidak akan pernah kembali.

"Kalau kalian nggak capek berantem, tolong bantu Mama beresin meja makan."

"Tuh kan."

Kayra langsung menunjuk.

"Mama juga nggak support aku."

Delliza tertawa kecil.

"Kamu korban ya?"

"Iya."

"Korban apa?"

"Korban kecantikan diri aku kayak seorang princes di rumah ini."

Elvano hampir tersedak minumannya. Sementara Agatha langsung menutup wajahnya.

"Please stop."

"No. Let me shine."

"Lo bukan bersinar."

"Terus?"

"Lo silau."

"That's rude."

Mereka kembali tertawa cukup sangat lama sampai perut terasa sakit. Bahkan sampai mata mereka berair.

Sampai akhirnya satu per satu terdiam karena kelelahan sendiri. Lalu di sela-sela keheningan yang muncul setelah tawa itu, Agatha tiba-tiba berbicara. Suaranya tidak keras. Tetapi cukup untuk membuat semua orang mendengarnya.

"Kalian pernah nggak sih... ngerasa aneh karena kita bisa bahagia lagi?"

Ruangan mendadak sedikit lebih tenang. Tidak canggung. Namun cukup hening untuk membuat pertanyaan itu terasa lebih dalam. Kemudian Elvano menatap adiknya. Sementara Kayra perlahan menyimpan ponselnya. Agatha tersenyum kecil.

"Gue serius."

"Gue kadang masih ngerasa guilty."

"Guilty kenapa?" tanya Kayra pelan.

Agatha menatap ke arah jendela. Ke arah langit malam yang gelap.

"Aku nggak tahu."

Ia mengembuskan napas perlahan. "Cuma kadang gue ketawa terus tiba-tiba kepikiran semuanya, tentang Papa, tentang Arsen dan tentang semua hal yang pernah terjadi."

Suaranya semakin pelan.

"Terus gue suka mikir... apa kita boleh sebahagia ini?"

Tidak ada yang langsung menjawab. Karena mereka semua pernah berada di posisi yang sama. Pernah merasa bersalah ketika mulai sembuh. Pernah merasa bersalah ketika mulai tertawa. Pernah merasa bersalah ketika hidup terasa lebih ringan.

Elvano akhirnya menutup laptopnya. Lalu bersandar ke sofa.

"Gue pernah baca sesuatu."

"Apa?"

"Katanya grief is love with nowhere to go."

Agatha menoleh. Kayra juga. Elvano tersenyum tipis sebelum melanjutkan. "Dulu gue nggak ngerti maksudnya. Tapi sekarang gue ngerti. Kadang kita nggak sedih karena kehilangan mereka… kita sedih karena masih punya banyak cinta yang nggak sempat kita kasih."

Ruangan kembali hening. Namun kali ini hening yang hangat. Bukan hening yang menyakitkan.

Elvano menatap mereka satu per satu.

"Dan menurut gue..."

Ia berhenti sejenak.

"Mereka nggak akan marah kalau kita bahagia."

"How do you know?" Tanya Agatha.

Elvano tersenyum kecil.

"Karena kalau gue jadi mereka, gue juga nggak mau lihat orang yang gue sayang terus-terusan tenggelam."

Ia menarik napas perlahan.

"Listen."

"Life is already hard enough."

"Kita kehilangan banyak hal."

"Kita kehilangan banyak waktu."

"Kita kehilangan banyak kesempatan."

Lihat selengkapnya