Mido sangat mudah berkelahi dengan segala ketidakinginannya, terkadang pikirannya begitu rumit daripada ikat rambut. Terlebih usia dua puluh lima tahun menjadi sesuatu yang ia takuti, karena banyak mimpi yang ia korbankan dan hilangkan. Kerjaan di kantor membuatnya melupakan beberapa hal yang ia sukai, walaupun gaji di kantor sangat mencukupi kebutuhannya, tetapi dirinya semakin perlahan kian hilang.
Di tengah keremukkan hidupnya, ia dipertemukan dengan seorang perempuan bernama Lea. Dia seorang resepsionis salah satu hotel, senyumannya tidak pernah pudar apalagi ketika melayani para tamu. Lea memang impian bagi semua lelaki, badannya ramping, tinggi, rambutnya lurus dan panjang, suaranya lemah lembut, senyumannya tidak kalah manis dengan senyuman model artis di televisi.
“Mido!” sahut Lea ketika Mido baru saja keluar dari pintu kantor.
"Hai!”
“Gimana kerjaanmu?” tanya Lea sambil tersenyum manis yang membuat lelah Mido meleleh.
“Sejauh ini aman,” jawab Mido merasa enteng. “Bagaimana kerjaanmu?” tanya Mido, ia pun ingin sekali memberi perhatian pada Lea.
“Baik, semuanya berjalan sesuai keinginanku,” jawab Lea. “Gimana hari ini, kita ma uke mana?”
Pertanyaan yang mereka berdua lontarkan satu sama lain adalah pertanyaan yang sama setiap harinya yang selalu ditanyakan ketika selesai berkerja. Entah itu secara langsung maupun lewat pesan. Mido memang melihat Lea sebagai seorang yang tak luput perhatiannya dan ia senang memasakkan makanan enak untuknya, meskipun Lea bisa memasak demi Mido. Apabila Mido terbaring sakit, Lea sigap pergi ke kontrakan Mido untuk mengecek dan mengurusnya sebelum berkerja dan setelah berkerja.
Tiada lagi yang bisa menggantikan Lea dalam kehidupan Mido. Meskipun ada, rasanya akan berbeda. Di dalam kontrakan yang hanya berisi satu kamar, disediakan dapur dan juga kamar mandi. Mido sedang berselimut karena cuaca agak dingin malam ini. Ia menatap layer ponsel yang terpajang jelas gambar Lea sedang tersenyum.
“Mido!” teriak seseorang dari luar sambil mengetuk pintu.
“Ya, sebentar!”
Mido langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Mido melihat Lea berdiri sambil menenteng kotak nasi buat Mido. “Makan malam kita berdua,” seru Lea.
Mido tersenyum dan mereka berdua duduk lesehan untuk menikmati makan malam ini. Lea membawa dua kotak nasi. Satu berisikan nasi dan satunya lagi berisikan capcay. “Bentar, aku ada sesuatu juga buat kamu,” kata Mido, ia pergi ke dapur dan membawa sebuah piring berisikan ayam goreng.
“Kamu masak?” tanya Lea.
“Iya, tapi coba dulu, ini enak,” kata Mido pasti Lea tidak akan kecewa ketika mencicipinya.
Lea pun mencicipi ayam goreng buatan Mido yang ternyata rasanya enak sekali, masakan ayam goreng buatan Lea pun kalah dengan masakan Mido. “Enak banget, Mido, ayam goreng bumbunya apa ini?” tanya Lea penasaran.
“Ini ayam goreng kalasan.”
“Pintar juga kamu masak, Mido,” puji Lea, ia lanjut menyantap ayam kalasan dengan nasi hangat.
“Capcay kamu juga enak,” puji Mido sambil menyantap capcay yang masih hangat.
Lea tersenyum malu.
Setelah makan malam, Lea tidak langsung pulang ke kost-nya, ia sekarang sedang berbaring di samping Mido yang tengah melamun berat. “Kenapa, Mido?” tanya Lea yang sedari tadi diacuhkan keberadaannya.