Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #1

Sakit, Tapi Bukan Lukanya

“Brengsek...!”

Dengan tubuh gemetar, seorang perempuan muda keluar dari sebuah kamar penginapan. Wajahnya kusut, sementara pipi kirinya memerah akibat tamparan yang baru saja ia terima.

Langkahnya gontai menuju lift.

"Dasar brengsek!" umpatnya berulang kali, seolah melampiaskan semua amarah yang sesak di dada.

Pintu lift terbuka.

Tanpa menunggu lebih lama, perempuan itu segera masuk dan menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. Jemarinya menyentuh pipi yang mulai membiru. Perihnya menjalar hingga ke pelipis. Di sudut bibirnya, setitik darah telah mengering.

Sesampainya di lobi hotel, ia langsung menghubungi seseorang.

"Jemput gue sekarang juga."

Suaranya terdengar datar, dingin, tanpa sedikit pun emosi.

Selesai menutup sambungan telepon, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa lobi. Ujung jarinya kembali menyentuh pipi yang memar. Ia meringis pelan menahan nyeri.

"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya seorang petugas hotel yang sedari tadi memperhatikan keadaannya.

Tatapan pria itu dipenuhi rasa khawatir saat melihat luka di wajah perempuan tersebut.

Alea mengangkat wajahnya sekilas.

"Aku baik-baik saja."

"Apakah Anda memerlukan bantuan?"

"Tidak, tinggalin aja aku."

Petugas hotel itu masih tampak ragu untuk pergi.

"Tapi... ada darah di tepi bibir Anda, Nona."

Seketika Alea menyentuh sudut bibirnya. Ujung jarinya terkena sedikit darah yang mulai mengering. Ia mengambil tisu dari dalam tas, lalu mengusapnya hingga bersih.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Alea hanya melirik layar sekilas, lalu bangkit dari sofa dan melangkah menuju pintu keluar hotel.

Petugas hotel itu hanya bisa memandangi punggung perempuan tersebut hingga menghilang di balik pintu lobi.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pintu masuk.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan tegap keluar dari balik kemudi. Tanpa banyak bicara, ia membukakan pintu mobil untuk Alea.

"Bertengkar lagi?" tanyanya pelan.

"Bukan urusan elo!"

Laki-laki itu hanya tersenyum tipis sambil mengangkat bahu. Ia sudah terlalu sering melihat Alea pulang dengan wajah penuh lebam.

Begitu Alea masuk ke dalam mobil, ia kembali ke kursi kemudi dan menjalankan sedan hitam itu menuju tempat yang sudah mereka tuju, klub malam.

Alea menatap lurus ke depan.

"Kasih tahu temen elo, Saka..." katanya dengan suara berat. "Gue udah muak diperlakukan kayak gini."

Saka melirik sekilas ke arahnya.

"Kenapa enggak pernah protes langsung?"

"Elo tau kan gimana tempramentalnya dia." Alea mendengus pelan.

Saka terkekeh kecil, lalu menggeleng.

"Terus mau sampai kapan elo babak belur kayak gini, Al?"

Alea menatap keluar jendela mobil.

"Entah..."

Lihat selengkapnya