Setibanya di rumah yang tampak sederhana itu, Alea dibantu berjalan oleh Saka. Dengan satu tangan menopang tubuh gadis itu, Saka menekan bel di samping pintu.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang perempuan tua berdiri di ambang pintu. Wajahnya teduh dan penuh kehangatan, membuat siapa pun yang mengenalnya menaruh hormat kepada Bik Minah.
"Non Alea..."
Raut wajah Bik Minah seketika berubah cemas melihat kondisi Alea yang berantakan. Pipi gadis itu masih memerah, sementara langkahnya sempoyongan karena pengaruh alkohol.
"Kamarnya di mana, Bik? Biar saya bantu." ujar Saka lembut.
"Sebelah sini, Den."
Bik Minah segera mempersilakan Saka masuk dan menunjukkan kamar Alea.
Dengan hati-hati, Saka membopong Alea yang mulai kehilangan kesadaran. Sesekali gadis itu mengigau lirih, tetapi kata-katanya tak dapat dimengerti.
Begitu memasuki kamar, langkah Saka melambat.
Ruangan itu bersih, harum, dan didominasi warna-warna pastel yang lembut. Suasananya hangat, jauh berbeda dengan sosok Alea yang selama ini ia kenal—keras, dingin, dan seolah tak peduli pada apa pun.
Tanpa sadar, hati Saka berdesir.
Ia merebahkan tubuh Alea perlahan di atas tempat tidur.
"Terima kasih sudah mengantar Non Alea, ya, Den Saka."
Saka tersenyum tipis.
"Sama-sama, Bik Minah."
Sebelum beranjak, pandangannya kembali tertuju pada Alea yang terbaring lelap di atas pembaringan. Wajah gadis itu tampak begitu lelah. Di balik mata yang terpejam, tersimpan kesedihan yang begitu dalam, seolah ada beban yang tak sanggup lagi ia pikul sendirian.
"Bik... tolong oleskan salep untuk memarnya, ya."
"Baik, Den Saka."
"Saya pamit dulu."
Saka melangkah menuju pintu kamar. Namun sebelum benar-benar keluar, ia kembali menoleh.
Alea masih tertidur pulas.
Senyum kecil terukir di bibirnya. Senyum yang hangat, sekaligus penuh rasa khawatir.
Pelan, ia menutup pintu kamar agar gadis itu tidak terbangun.
Saat melewati ruang tamu, langkahnya terhenti.
Sebuah foto keluarga berukuran besar tergantung di dinding.
Di dalam foto itu, Alea berdiri di antara ayah dan bundanya. Senyum gadis itu begitu cerah, jauh berbeda dengan Alea yang ia kenal selama dua tahun terakhir.
Tatapan Saka terpaku cukup lama.
Selama mengenal Alea, tak pernah sekalipun gadis itu menceritakan keluarganya.
Tak pernah.
Lalu... apa yang sebenarnya terjadi?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
"Alea cantik sekali di foto itu, Bik..." ucap Saka tanpa mengalihkan pandangan.
Bik Minah hanya tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan kepedihan.
"Apa..." Saka sempat ingin bertanya, tetapi urung mengucapkannya.