Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #3

Jangan Pernah Melihatku

Alea memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub. Perlahan, ia menenggelamkan diri hingga kepalanya ikut berada di bawah permukaan air hangat. Matanya terpejam rapat.

Di dalam kesunyian itu, ia berteriak sekeras-kerasnya. Teriakannya teredam air, hanya menyisakan gelembung-gelembung yang naik ke permukaan.

Beberapa saat kemudian, Alea mengangkat kepalanya. Napasnya memburu. Air mata mengalir di pipinya, lalu larut bersama air hangat yang membasahi wajahnya.

"Maafkan aku, Bunda... Ayah," gumamnya lirih.

Tangisnya kembali pecah.

Di dapur, Bik Minah yang sedang membereskan peralatan makan sontak menghentikan pekerjaannya. Samar-samar ia mendengar suara tangisan dari kamar Alea. Tanpa berpikir panjang, perempuan tua itu segera berlari menghampiri.

"Non Alea..." panggil Bik Minah sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Tak ada jawaban.

Yang terdengar hanya isak tangis yang semakin memilukan dari balik pintu.

Karena tak mendapat sahutan, Bik Minah memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Beruntung pintu itu memang tak pernah dikunci dari dalam.

Tahun lalu, Alea pernah pingsan di kamar mandi dalam keadaan pintu terkunci. Sejak saat itu, Bik Minah melarangnya mengunci pintu setiap kali mandi.

Begitu masuk, hati Bik Minah langsung terasa sesak.

Alea tertunduk di dalam bathtub yang dipenuhi busa. Bahunya bergetar menahan tangis yang seolah tak pernah selesai.

"Non Alea..." panggil Bik Minah lagi. Kali ini suaranya jauh lebih pelan, seakan takut menambah luka yang sedang dipikul gadis itu.

Alea menoleh. Matanya bertemu dengan tatapan Bik Minah yang penuh kekhawatiran. Ia tak lagi mampu membedakan mana hangatnya air dan mana dinginnya penyesalan yang terus menyelimuti dirinya.

"Bik Minah..." ucapnya lirih.

Tanpa berkata apa-apa, Bik Minah menghampiri Alea. Ia duduk di bibir bathtub, lalu memeluk kepala gadis itu ke dadanya.

Bajunya perlahan basah terkena air. Namun, perempuan tua itu tak sedikit pun memedulikannya. Yang ia inginkan hanyalah memberikan kehangatan kepada gadis yang telah diasuhnya sejak kecil.

Tak ada percakapan di antara mereka.

Hanya isak tangis Alea yang sesekali pecah, berpadu dengan embusan napasnya yang tak beraturan.

Bik Minah mengusap kepala Alea dengan lembut, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh luka yang selama ini dipendam seorang diri.

***

Jarum jam menunjukkan pukul 16.15.

Bel rumah Alea berbunyi.

Alea segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan cepat menuju dapur.

"Bik, seperti biasa... kalau teman-temanku datang, jangan suruh masuk ke dalam rumah. Suruh mereka tunggu di luar aja, ya."

"Iya, Non Alea."

Bel rumah kembali berbunyi, kali ini lebih lama.

Dengan langkah yang mulai dimakan usia, Bik Minah berjalan menuju pintu depan untuk membukanya.

Dua gadis berdiri di depan pintu dengan pakaian yang cukup terbuka. Yang satu berambut pendek sebahu, sementara yang satunya lagi berambut panjang bergelombang.

"Hai, Bik Minah," sapa mereka hampir bersamaan.

"Silakan duduk dulu di teras ya, Nona-nona cantik."

"Kali ini kita enggak mau nunggu di luar, Bik," celetuk Tasya sambil tersenyum jahil.

Lihat selengkapnya