Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #4

Buku Yang Mengetuk Hati

Pagi itu Alea melangkah memasuki area kampus dengan enggan. Rasanya ia tak ingin bertemu siapa pun, termasuk Reno maupun sahabat-sahabatnya.

Namun, ia tak bisa terus menghindar. Sudah tiga hari ia membolos kuliah. Belum lama ini, ia bahkan menerima surat peringatan akademik.

Bukan hanya itu, dosen walinya berkali-kali memanggilnya karena catatan absensinya yang buruk. Dosen itu juga menyarankan Alea untuk menemui seorang psikolog.

Jika semua itu terus berlanjut, status mahasiswinya terancam berakhir dengan drop out.

Padahal, saat pertama kali menjadi mahasiswa, Alea bukan tipe orang yang gemar membolos. Kuliah di Jurusan Sastra adalah impian yang telah ia perjuangkan sejak duduk di bangku SMP.

Namun, semua itu perlahan berubah.

Alea berubah.

Ia kehilangan arah, lalu membiarkan dirinya hanyut dalam kehidupan yang semakin liar.

"Al..."

Suara parau itu memanggilnya dari belakang. Alea tak perlu menoleh untuk mengenali pemiliknya. Itu suara Arta, salah satu sahabat Reno.

Di antara teman-temannya, Arta adalah sosok yang paling hangat dan humoris. Berbeda dengan Reno dan Saka yang cenderung pendiam, dingin, dan bertubuh tinggi. Tinggi badan Arta sendiri bahkan hampir sejajar dengan Alea.

"Udah baikan, Al?" tanyanya sambil menyamai langkah Alea.

Alea tetap diam.

"Hmm... jadi nyamuk lagi gue, nih. Mendengung, tapi enggak didenger."

Alea melirik sekilas ke arah laki-laki itu. Kacamata bulat yang dikenakan Arta membuatnya tampak seperti Harry Potter versi lokal.

“Kalau elo nyamuk, berarti gue gapok pakai raket listrik.” jawab Alea asal.

Arta langsung tertawa terbahak-bahak.

Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibir Alea. Hanya Arta yang masih mampu membuatnya tersenyum di tengah hari-hari yang terasa berat. Laki-laki itu selalu tahu cara mencairkan suasana tanpa memaksa Alea bercerita.

Tak lama kemudian mereka berpisah di persimpangan menuju fakultas masing-masing. Arta satu fakultas dengan Reno dan Saka, sementara Alea melanjutkan langkahnya sendiri.

“Duluan ya, Al...” pamit Arta sambil melambaikan tangan.

Alea membalas dengan senyum tipis.

Belum sempat ia melangkah jauh, Reno tiba-tiba muncul dari arah depan. Seolah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.

“Al... masih marah sama gue?”

Alea tak menjawab. Ia hanya melirik tajam sekilas, lalu kembali berjalan.

“Udah tiga hari kita enggak ketemu.”

“Emang kenapa?”

“Ayolah, Sayang... jangan marah lagi.” Reno merayu sambil mengusap pelan kepala Alea. “Maafin gue, ya.”

“Iya.”

Jawaban itu keluar singkat, tanpa nada hangat sedikit pun.

“Tar malam kita ketemu di tempat biasa, ya?”

Alea hanya mengangguk pelan.

“Yuk, gue anter sampai fakultas elo.”

“Enggak usah, Reno. Gue jalan sendiri aja.”

“Beneran?”

“Iya. Elo tinggal aja. Nanti telat masuk kuliah pagi.”

“Oke. Dadah, Sayang.”

Reno kembali mengusap pelan kepala Alea, lalu berbalik meninggalkannya.

Begitu sosok Reno menjauh, Alea mengembuskan napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak.

Entah sejak kapan, setiap berada di dekat Reno, dadanya justru dipenuhi rasa sesak dan tidak nyaman.

Perasaan yang dulu ia sebut cinta perlahan memudar. Berganti menjadi luka, kecewa, dan ketakutan yang terus menggerogoti dirinya.

Berkali-kali Alea ingin mengakhiri hubungan itu.

Namun setiap kali niat itu muncul, bayangan kemarahan Reno selalu menghantuinya. Ia takut semua akan berakhir dengan kekerasan yang sama seperti sebelumnya.

Alea kembali melangkah.

Gedung fakultas kini sudah berada tepat di hadapannya. Ia menatap pintu kelas cukup lama. Rasa enggan untuk masuk kembali memenuhi dadanya.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memaksa dirinya melangkah masuk.

“Hai, Alea... Kamu udah sehat?” sapa Siska dan Tasya hampir bersamaan.

“Elo masih marah sama kita, Al?” tanya Tasya hati-hati.

“Enggak.” Alea menggeleng pelan. “Dan jangan bahas apa-apa lagi, ya.”

Alea meninggalkan kedua sahabatnya tanpa berkata apa-apa. Ia memilih duduk di bangku paling belakang, jauh dari keramaian.

Siska dan Tasya hanya saling berpandangan, lalu memandangi punggung Alea hingga gadis itu menghilang di balik deretan kursi.

Jam demi jam terasa berjalan begitu lambat.

Penjelasan dosen hanya berlalu sebagai suara yang samar di telinga Alea. Pikirannya melayang entah ke mana. Berkali-kali ia mengembuskan napas panjang, berusaha mengusir sesak yang terus memenuhi dadanya.

Tak lama kemudian, Alea berdiri dari kursinya.

"Pak, saya izin ke toilet."

Dosen yang telah berusia sekitar lima puluh tahun itu mengangguk pelan.

Alea segera keluar dari ruang kelas.

Namun langkahnya tidak menuju kamar mandi.

Tanpa tujuan yang benar-benar jelas, kakinya justru membawanya ke perpustakaan Fakultas Sastra.

Saat ini ia hanya ingin mencari tempat yang tenang. Tempat yang bisa membuat kepalanya berhenti memikirkan begitu banyak hal.

Deretan rak buku menyambutnya dengan aroma khas kertas yang menenangkan.

Tatapan Alea perlahan menyusuri judul demi judul yang berjajar rapi.

Hingga akhirnya matanya berhenti pada sebuah buku berwarna biru.

Lihat selengkapnya