BRAAAK!
Pintu kamar terbanting keras sesaat setelah Alea tiba di rumah.
Suara itu membuat Bik Minah yang sedang membereskan meja makan tersentak. Meski bukan kali pertama menyaksikan hal seperti itu, dadanya tetap berdebar setiap kali Alea pulang dengan amarah yang meluap.
Kadang gadis itu pulang dalam keadaan mabuk.
Kadang tubuhnya dipenuhi lebam.
Dan tak jarang, pintu kamar menjadi pelampiasan semua amarah yang tak mampu ia ungkapkan.
“Nyonya... Tuan, maafkan saya. Saya belum bisa menjaga Non Alea dengan baik,” bisik Bik Minah lirih.
Sorot matanya dipenuhi kesedihan. Namun, ia tahu dirinya tak boleh ikut runtuh. Alea masih membutuhkan seseorang yang tetap berdiri di sisinya.
“Non...” panggil Bik Minah hati-hati dari balik pintu kamar. “Mau makan di kamar?”
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang menyambutnya.
Bik Minah mengembuskan napas pelan, lalu kembali ke dapur. Satu per satu hidangan yang telah ia siapkan dimasukkannya ke dalam kulkas agar tidak basi.
Di dalam kamar, Alea menutup wajahnya dengan bantal.
Kejadian di klub malam terus berputar di dalam kepalanya.
Ucapan Reno, tatapannya, dan tangan yang hampir kembali mendarat di pipinya.
“Brengsek...” gumam Alea pelan.
Ia melempar bantal itu ke samping, lalu bangkit duduk di tepi tempat tidur.
Sejak tadi ponselnya terus bergetar di atas meja. Sekilas ia melirik layar.
Reno Calling.
Alea mendengus kesal. Ia membiarkan dering itu terus berbunyi hingga berhenti dengan sendirinya.
Beberapa detik kemudian, panggilan itu kembali masuk.
“Gue udah enggak ada hubungan apa-apa lagi sama elo,” gumamnya.
Kali ini, ia langsung menekan tombol tolak. Saat ini... ia tak ingin diganggu oleh siapa pun.
Namun, belum lama suasana kamar kembali tenang...
“Non Alea...” panggil Bik Minah dari luar kamar. “Ada Den Reno di depan.”
Kening Alea langsung berkerut.
Rasa kesal yang belum sempat mereda kembali memenuhi dadanya.
“Apa lagi sih...” gumamnya.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamar.
“Kenapa dia ke sini?” tanyanya ketus.
“Bibik sudah minta Den Reno pulang, Non. Tapi dia enggak mau.”
Alea memejamkan mata sejenak. Napas berat kembali keluar dari bibirnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah menuju teras rumah.
Reno sudah berdiri di sana. Begitu melihat Alea muncul, wajahnya seolah dipenuhi harapan.
“Ngapain elo datang ke sini?” tanya Alea dingin, bahkan sebelum Reno sempat membuka mulut.
“Al... maafin gue, plis.”
“Berapa kali elo udah minta maaf ke gue, Ren?”
Reno terdiam.
“Gue tahu gue salah.” Suaranya melemah. “Tapi jangan putusin gue, Al... Gue sayang sama elo.”
Alea tertawa pelan, tawa itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Sayang?” ulangnya lirih.
Tatapannya berubah tajam.
“Kalau elo benar sayang sama gue... elo enggak akan pernah mukul gue, Ren.”
Dadanya naik turun menahan emosi.
“Elo udah ngambil semua yang elo mau dari hubungan ini...” suara Alea mulai bergetar, “tapi sedikit pun elo enggak pernah menghargai gue.”
Jari telunjuk Alea menuding tepat ke arah wajah Reno.
“Gue capek sama elo, Ren.”
Reno terdiam beberapa detik, tatapan memohonnya perlahan berubah dingin. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
“Elo yakin mau mutusin gue?”
Alea mengernyit.
“Kalau elo berani mutusin gue...” Reno mengeluarkan ponselnya, lalu membuka galeri. “Foto-foto elo bakal gue sebar ke seluruh kampus.”
Reno menyodorkan layar ponselnya.
Napas Alea langsung tertahan.
Di layar itu terpampang beberapa foto dirinya yang hanya mengenakan pakaian dalam.
Wajah Alea seketika memucat, tangannya bergetar.
“Brengsek...” bisiknya nyaris tak bersuara.
“Brengsek, Ren!”
“Apa pun kata elo.” Reno memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Yang jelas... jangan pernah coba-coba mutusin gue lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Reno berbalik dan pergi begitu saja.
Meninggalkan Alea yang masih berdiri terpaku di teras rumah. Seolah seluruh tenaganya direnggut dalam sekejap, dadanya terasa sesak dan pikirannya kosong.
Untuk sesaat, ia merasa hidupnya kembali jatuh ke dalam jurang yang sama, gelap, sempit, dan tanpa jalan keluar.
Dengan langkah gontai, Alea kembali ke kamarnya.
Bik Minah yang melihat wajah gadis itu segera menghampiri.
“Non Alea... ada apa?”
Namun Alea terus berjalan.
Seolah tak mendengar suara perempuan yang telah merawatnya sejak kecil itu.
Pintu kamar kembali tertutup.
***