“Bik... Aku keluar sebentar,” ucap Alea lirih.
Setelah hampir empat hari mengurung diri di dalam kamar, hari ini akhirnya ia memberanikan diri keluar. Wajahnya tampak pucat, sementara pakaian yang dikenakannya terlihat sederhana, jauh berbeda dari biasanya.
“Non Alea, mau ke mana?” tanya Bik Minah dengan nada khawatir.
“Mencari udara segar, Bik...” jawab Alea pelan. Ia mengembuskan napas panjang. “Aku lelah, Bik Minah. Rasanya dunia ini enggak peduli sama aku. Terus menghimpitku sampai sesak.”
Alea menoleh ke arah Bik Minah, lalu tersenyum simpul. Senyum itu tak benar-benar menunjukkan kebahagiaan, melainkan menyembunyikan luka yang masih ia pendam.
“Non Alea enggak sendiri. Masih ada Bibik di sini.”
Senyum Alea kembali mengembang, meski tipis.
“Terima kasih ya, Bik Minah. Aku keluar dulu...”
Alea melangkahkan kaki menuju pintu rumah.
Udara sore yang hangat langsung menyambutnya. Ia menyipitkan mata, menatap langit yang mulai dihiasi semburat jingga senja.
Ia berjalan tanpa tujuan, hingga langkahnya membawanya ke sebuah taman kota yang sore itu dipenuhi pengunjung. Beberapa orang tampak berlari kecil mengelilingi taman, sebagian lagi berjalan santai bersama pasangan atau keluarga. Tawa anak-anak yang bermain di area terbuka sesekali terdengar, berpadu dengan semilir angin yang menggoyangkan dedaunan.
Alea memandang sekeliling, lalu menemukan sebuah bangku kosong di tengah taman.
Ia duduk seorang diri. Tatapannya menyapu suasana di sekitarnya. Pedagang kaki lima berjejer menjajakan aneka makanan dan minuman. Aroma jagung bakar dan cilok yang baru matang terbawa angin, namun tak sedikit pun membangkitkan selera makannya.
Ia datang bukan untuk menikmati suasana taman.
Ia hanya ingin menarik napas lebih lega, berharap sesak yang memenuhi dadanya ikut larut bersama embusan angin sore.
Tak lama kemudian, seorang wanita berjilbab panjang menghampiri bangku tempat Alea duduk.
"Permisi, Kak..."
Alea mendongak.
Seorang wanita berwajah teduh berdiri di hadapannya. Senyuman hangat mengembang di bibirnya, memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
"Boleh saya duduk di sini, Kak?" tanyanya lembut.
Sebenarnya Alea ingin menikmati kesendiriannya. Namun, ketika ia melirik ke sekeliling, seluruh bangku di taman telah terisi pengunjung.
Ia pun mengangguk pelan.
"Silakan." jawabnya singkat.
“Terima kasih.”
Pandangan Alea kembali menyapu taman.
Sementara itu, wanita berjilbab tersebut membuka tas kain yang dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah buku.
Tanpa sengaja, mata Alea tertuju pada sampul buku itu.
Dadanya berdesir pelan.
Buku itu terasa begitu familiar.
Bukankah...
Itu buku yang sama dengan yang pernah ia temukan di perpustakaan kampus?
Buku yang sempat membuatnya terdiam cukup lama.
Wanita itu menyadari lirikan Alea pada buku yang berada di tangannya.
“Kakak juga suka buku ini?” tanyanya lembut.
Alea sedikit gugup. Ia menggeleng pelan.
“Gu... gue belum baca. Baru sempat buka beberapa halamannya aja.”
Wanita itu tersenyum hangat.
“Sayang sekali kalau belum dibaca.” Jemarinya mengusap pelan sampul buku itu. “Menurut saya, ceritanya indah.”
Alea tak menjawab. Entah mengapa, ia justru penasaran.
“Tentang apa?” tanyanya pelan.
Wanita itu menoleh ke arah Alea.
“Tentang seseorang yang kehilangan kedua orang tuanya sebelum ia sempat membalas semua kasih sayang mereka.”
Jantung Alea seolah berhenti berdetak sesaat.
Kalimat itu...
Terlalu dekat dengan hidupnya.
“Tokoh di dalam buku itu hanya bisa melangitkan doa-doanya dalam setiap sujud. Itu satu-satunya bakti yang masih bisa ia berikan.”
Humaira berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Karena salah satu amal yang terus mengalir untuk orang tua adalah doa dari anak yang saleh atau salehah.”
Ucapan itu menghantam hati Alea. Dadanya berdesir, tenggorokannya terasa tercekat.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih berat daripada semua nasihat yang pernah ia dengar.
“Oh ya, kenalin... namaku Humaira.” Gadis itu tersenyum ramah. “Kalau Kakak mau, bukunya boleh dipinjam dulu.”
Alea segera mengangkat kedua tangannya di depan dada.
“Emm... enggak usah. Makasih.”
“Baik.” Humaira mengangguk kecil tanpa memaksa. Senyum hangat tetap menghiasi wajahnya.
Alea mengembuskan napas panjang.
Pikirannya kembali dipenuhi ucapan Humaira.
"Salah satu amal yang terus mengalir untuk orang tua adalah doa dari anak yang saleh atau salehah."
Dadanya kembali terasa sesak.