Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #7

Alea, Kamu Harus Kuat

Alea segera memesan taksi online.

Malam ini ia ingin kembali menghabiskan waktunya di klub. Bukan karena ia ingin bersenang-senang.

Ia hanya ingin membungkam pikirannya untuk beberapa jam.

Sesampainya di klub, Siska dan Tasya sudah berdiri di depan pintu masuk. Begitu melihat Alea turun dari taksi online, keduanya langsung melambaikan tangan.

Alea berlari kecil menghampiri mereka.

"Udah dari tadi kah?" tanyanya.

"Enggak juga, Al," jawab Siska sambil tersenyum.

"Yuk, masuk."

Mereka bertiga berjalan menuju ruang VIP, tempat yang hampir selalu mereka pilih setiap kali datang ke klub.

"Elo mau minum apa, Al?" tanya Tasya.

"Terserah elo aja."

"Kalau elo, Sis?"

"Sama."

Tak lama kemudian, beberapa botol minuman beralkohol dan camilan tersaji di atas meja.

Siska dan Tasya langsung larut dalam obrolan mereka. Sesekali tawa keduanya pecah memenuhi ruangan.

Sementara itu, Alea hanya terdiam. Ia menganggukkan kepala pelan mengikuti dentuman musik dari ruang dansa.

Tatapannya kosong.

Entah sudah berapa kali ia mencoba mengusir semua pikiran yang memenuhi kepalanya.

"Ke tengah, yuk..." ajaknya tiba-tiba.

Mereka pun mengangguk setuju, lalu berbaur dengan orang-orang yang memenuhi lantai dansa.

Dentuman musik menggema memenuhi seluruh ruangan. Lampu-lampu berwarna berkedip silih berganti, sementara tubuh-tubuh di sekeliling mereka bergerak mengikuti irama tanpa henti.

Alea ikut meliukkan tubuhnya. Di tangannya, sebotol minuman beralkohol bergoyang mengikuti setiap langkahnya.

Malam itu, ia ingin melupakan semuanya.

Melupakan Reno.

Melupakan foto-foto itu.

Melupakan ayah dan bundanya.

Namun, baru beberapa saat menari, sebuah suara tiba-tiba terngiang jelas di kepalanya.

"Salah satu jalan ke surga untuk orang tua adalah doa anak-anak yang saleh dan salehah."

Seakan-akan Humaira berdiri tepat di hadapannya, mengucapkan kalimat itu sekali lagi.

Gerakan Alea terhenti.

Dentuman musik masih mengguncang ruangan, tetapi bagi Alea, semua itu seolah menghilang. Yang tersisa hanya kalimat Humaira yang terus berulang di kepalanya.

Dadanya kembali terasa sesak.

"Sial..." umpatnya lirih.

Tanpa memedulikan Siska dan Tasya yang masih asyik menari, Alea berbalik lalu berjalan menuju ruang VIP.

Di sana, ia meraih satu botol minuman. Lalu satu botol lagi, dan lagi. Hingga botol ketiga pun habis.

Kesadarannya mulai kabur.

Kepalanya terasa berat, tetapi rasa bersalah itu justru semakin jelas.

"Gue... yang udah bikin mereka meninggal..." gumamnya lirih.

Air matanya mulai menggenang.

"Sekarang, gue juga yang bikin mereka... enggak masuk surga... karena gue enggak pernah mendoakan mereka." Ucapnya terbata-bata.

Alea kembali membuka sebotol minuman keras.

Tangannya baru saja mengangkat botol itu ke bibir, ketika seseorang merebutnya dengan cepat.

Alea mengangkat wajahnya.

Pandangannya yang mulai kabur menangkap sosok Saka yang berdiri tepat di depannya. Di belakangnya, Siska dan Tasya tampak memandang Alea dengan raut wajah cemas.

"Kalau ada... elo di sini..." ucap Alea dengan lidah yang mulai kelu. Ia menyeringai tipis. "...berarti ada Reno juga."

Tak ingin berlama-lama, Alea meraih tasnya lalu bangkit.

Tubuhnya sempoyongan. Ia harus pergi sebelum Reno melihatnya.

"Al... elo lagi mabok. Gue anter pulang, ya?" ujar Saka sambil menahan lengan Alea agar tidak terjatuh.

Alea menggeleng pelan.

"No... Saka. No... Aku bisa sendiri."

Ia melepaskan tangan Saka, lalu berjalan tertatih menuju pintu keluar ruang VIP.

Siska dan Tasya saling berpandangan sebelum buru-buru mengikuti Alea dari belakang.

Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, langkah Alea mendadak terhenti.

Di hadapannya, Reno berdiri sambil menatapnya lekat.

"Alea... elo ada di sini?"

Jantung Alea berdegup lebih cepat. Ia mengepalkan jemarinya pelan.

"Kalian mau ke mana?" tanya Reno, matanya bergantian memandang Alea, Siska, dan Tasya.

Lihat selengkapnya