Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #8

Pintu Itu Sedikit Terketuk

"Non Alea... Non Alea..."

Suara Bik Minah terdengar lirih, diiringi usapan lembut di bahu Alea.

Alea membuka matanya perlahan.

"Kenapa Non Alea tidur di sini?" tanya Bik Minah cemas.

Dengan kesadaran yang masih setengah, Alea berusaha mengingat kejadian semalam. Ia menatap ke sekeliling. Ternyata dirinya masih berada di atas ayunan di teras rumah.

Semalaman ia tertidur di luar rumah, dan ia sama sekali tidak menyadarinya.

"Kenapa Non Alea enggak masuk ke dalam rumah?"

"Aku mabok, Bik..." jawabnya lirih.

"Ayo, masuk dulu."

"Jam berapa sekarang, Bik Minah?" tanya Alea sambil menatap Bik Minah yang masih mengenakan mukena.

"Jam lima subuh, Non Alea. Ayo masuk... di luar dingin."

Bik Minah membantu Alea berdiri, lalu menggandeng lengannya agar ia bisa berjalan dengan lebih mudah.

"Lain kali jangan tidur di luar lagi ya, Non. Banyak nyamuk, udaranya juga dingin. Terus... kalau ada orang jahat gimana?"

"Bik Minah kayak Bunda aja..."

Celetukan Alea membuat Bik Minah terhenyak.

"Ma... maaf, Non Alea. Bibik enggak bermaksud apa-apa. Bibik cuma khawatir terjadi sesuatu sama Non Alea."

Alea menatap Bik Minah sambil tersenyum tipis.

Sesampainya di kamar, Bik Minah segera mengambilkan baju tidur dari dalam lemari.

"Ganti dulu ya, Non... terus istirahat lagi."

Alea mengangguk pelan.

Tiba-tiba tatapan Bik Minah berhenti di pipi Alea.

"Pipinya kenapa, Non Alea?"

Alea refleks menyentuh pipinya. Baru saat itu ia teringat tamparan Reno semalam. Bekas kemerahan itu masih terlihat jelas.

"Enggak... enggak apa-apa, Bik..."

"Kenapa Non Alea selalu pulang dengan luka seperti ini?" Suara Bik Minah mulai bergetar. "Bibik sedih, Non..."

Alea hanya menunduk.

"Bibik merasa enggak bisa menjaga Non Alea. Bibik merasa gagal menjalankan amanah dari Bapak dan Ibu untuk menjaga Non Alea..."

Air mata Bik Minah akhirnya jatuh.

Alea menggenggam tangan wanita tua itu erat.

"Ini semua bukan salah Bik Minah. Bik Minah udah menjaga Alea dengan baik kok..." Alea menatap wanita tua itu dengan hangat.

"Ini salah Alea, Bik... Jangan sedih ya. Alea baik-baik aja kok."

Alea tersenyum tulus.

Senyuman yang sudah lama menghilang dari wajahnya, dan hanya mampu muncul di hadapan Bik Minah.

Bik Minah membelai kepala Alea dengan lembut, lalu mengusap sisa air matanya.

"Mau Bibik buatin susu cokelat hangat, Non Alea?"

Alea menggeleng pelan.

"Ya sudah. Bibik tinggal dulu ya, Non. Istirahat."

"Bik Minah..."

"Iya, Non?"

Alea mengalihkan pandangannya ke foto kedua orang tuanya yang masih berdiri di atas meja.

"Bik Minah... apakah Ayah dan Bunda ada di surga?"

Bik Minah menautkan alis. Pertanyaan itu membuatnya terdiam beberapa saat.

"Insyaallah... tentu saja, Non Alea."

Alea menggeleng pelan.

"Bibik bohong..."

Kali ini Bik Minah benar-benar kebingungan.

Lihat selengkapnya