Alea merebahkan tubuhnya di atas kasur. Buku bersampul biru itu masih berada dalam genggamannya.
Tatapannya tak lepas dari buku itu.
"Ternyata penulisnya laki-laki..." gumamnya lirih.
Perlahan, ia menyandarkan tubuhnya pada headboard tempat tidur.
Alea mengembuskan napas pelan, lalu membuka halaman pertama.
Di sana tertulis:
29 Juli 2023, Jakarta.
"Ternyata belum lama buku ini terbit."
Ia membalik halaman demi halaman hingga akhirnya terhenti pada halaman persembahan, halaman yang pernah ia baca sekilas di perpustakaan waktu itu.
Aku persembahkan buku ini untuk ayah dan ibuku yang telah tiada. Doaku untuk kalian tak pernah henti. Bagai lautan yang luas, kuluaskan doa-doaku untukmu, Ayah... Ibu...
Tatapan Alea terpaku pada kalimat itu.
Ia membacanya sekali lagi. Entah mengapa, dadanya kembali berdesir.
Seolah-olah setiap kata yang tertulis di sana sedang mengetuk luka yang selama ini ia kubur rapat.
Jemarinya perlahan menutup buku itu.
"Doa..."
Bibirnya bergetar pelan mengucapkan satu kata itu.
Ingatannya kembali pada ucapan Humaira di taman.
“Salah satu jalan ke surga untuk orang tua adalah doa anak-anak yang saleh dan salehah.”
Alea segera bangkit dari tempat tidurnya.
Ia harus bertemu Humaira.
"Bik Minah, aku keluar dulu. Mau ke taman!" teriaknya sambil berjalan keluar kamar.
“Hati-hati ya, Non Alea,” jawab Bik Minah dari dapur.
Alea mengambil sepedanya, lalu mengayuhnya cukup cepat. Ia ingin segera tiba di taman.
Setibanya di sana, pandangannya langsung menyapu setiap sudut taman. Ia mencari sosok Humaira. Kali ini, harapannya jauh lebih besar dibanding pertemuan pertama.
Namun lagi-lagi, gadis itu tak terlihat.
Alea mengusap wajahnya pelan, lalu meremas rambutnya dengan frustrasi.
"Di mana kamu, Humaira?" gumamnya lirih.
Ia mengembuskan napas panjang.
Matanya beralih ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Pukul 14.00.
Masih terlalu siang...
Alea memutuskan untuk tetap menunggu, meskipun terik matahari masih terasa menyengat.
Mungkin Humaira baru akan datang menjelang sore, seperti saat pertemuan mereka beberapa hari lalu.
Untuk mengusir penat, Alea kembali membuka buku bersampul biru itu.
Perlahan, ia mulai membaca bab pertama.
Langitku yang Runtuh.
Baru membaca subjudulnya saja, ada sesuatu yang mengusik hati Alea. Perasaan itu begitu asing, tetapi sekaligus terasa sangat dekat dengan luka yang selama ini ia sembunyikan.
Bab pertama itu menceritakan tentang Syifa, seorang gadis yang kehilangan kedua orang tuanya saat pandemi Covid-19 melanda.
Dada Alea kembali sesak.
Ia teringat pada hari ketika kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya, di depan matanya sendiri.
Dengan tangan gemetar, Alea menutup buku itu.
Ia buru-buru menghapus air mata yang terus mengalir.
"Ayah... Bunda" lirihnya.
Pandangannya kembali menyapu seluruh taman, namun sosok Humaira masih belum juga terlihat.
Matahari mulai condong ke barat. Suasana taman semakin ramai oleh pengunjung yang datang selepas beraktivitas, beberapa pedagang kaki lima juga mulai ramai didatangi pembeli.
Alea mengembuskan napas panjang.
Ia kembali melirik jam tangan di pergelangan kanannya.
Pukul 15.30.
Tak lama kemudian, suara azan Asar berkumandang, menggema di seluruh penjuru taman.