“Alea...” suara Humaira dipenuhi kecemasan. Ia memandangi gadis di sampingnya yang tak henti-hentinya menangis.
“Apa ada sesuatu yang membuatmu sesedih ini?” tanyanya pelan. “Kalau ingin bercerita... aku akan mendengarkan.”
Humaira menepuk pelan punggung Alea, berusaha menenangkannya.
Namun Alea tetap terisak. Meski berkali-kali mengusap air matanya, tangis itu tak juga reda.
Humaira mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya tanpa berkata apa-apa lagi. Ia memilih memberi Alea waktu untuk menenangkan dirinya.
"Ma... maaf, Humaira," ucap Alea akhirnya dengan suara lirih. "Elo jadi harus lihat gue kayak gini."
Ia mengusap wajahnya menggunakan tisu itu.
Humaira tersenyum lembut.
"Kenapa harus minta maaf? Menangis bukan sesuatu yang memalukan."
Perlahan, ia menggenggam tangan Alea. Genggaman itu hangat, tanpa paksaan, seolah ingin mengatakan bahwa Alea tidak sendirian.
"Kalau menangis bisa membuat dadamu sedikit lebih lega... enggak apa-apa."
Alea mengembuskan napas panjang.
"Gue mau pulang... Makasih ya, buat hari ini."
Wajah Humaira masih menyimpan kekhawatiran.
"Yakin mau pulang sekarang?" tanyanya pelan. "Kamu benar-benar enggak apa-apa?"
Alea mengangguk pelan. Ia memasukkan buku bersampul biru itu ke dalam tasnya, lalu bangkit dari bangku taman.
Matanya masih sembab. Kelopak matanya terasa berat setelah menangis begitu lama. Namun ia tak peduli. Saat ini ia hanya ingin segera pulang.
Saat Alea hendak melangkah, Humaira memanggilnya.
"Alea..."
Alea menoleh.
Humaira menyodorkan selembar kertas kecil yang telah dilipat.
"Itu nomor WhatsApp-ku. Kalau suatu saat kamu ingin ditemani atau sekadar ingin bercerita... chat saja, ya."
Alea menerima kertas itu. Tatapannya berhenti beberapa detik pada deretan angka yang tertulis di sana.
"Terima kasih..." ucapnya lirih, tanpa berani menatap mata Humaira. "Gue balik dulu... bay, Humaira."
Humaira tersenyum kecil.
"Waalaikumsalam."
Alea yang sudah melangkah beberapa langkah mendadak berhenti.
Ia menoleh kembali ke arah Humaira.
Bibirnya sedikit terbuka, seolah ragu untuk mengucapkannya.
"As... Assalamualaikum..."
Suaranya terdengar canggung.
Entah sejak kapan ia berhenti mengucapkan salam kepada orang lain. Yang ia ingat, terakhir kali kata itu keluar dari bibirnya adalah ketika mengakhiri panggilan telepon dengan kedua orang tuanya, beberapa saat sebelum kecelakaan yang merenggut mereka.
Senyum Humaira mengembang semakin hangat.
"Waalaikumsalam."
Tak ada tatapan menghakimi. Tak ada rasa heran. Hanya senyum tulus yang membuat dada Alea terasa sedikit lebih ringan.
Alea tersenyum kikuk, lalu segera berpaling.
Ia menaiki sepedanya dan mulai mengayuh perlahan meninggalkan taman.
Angin sore menerpa wajahnya.
Namun, belum jauh ia meninggalkan taman, air matanya kembali jatuh.
"Aku membayangkan... tentu orang tua akan bersedih jika melihat anak yang begitu mereka sayangi justru menyakiti dirinya sendiri dengan dosa-dosa."
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Alea.