Satu notifikasi WhatsApp terdengar dari handphone Alea.
Ia melirik sekilas ke arah layar.
Reno.
Alea kembali mengalihkan pandangannya. Ia tak berniat membaca, apalagi membalas pesan dari laki-laki itu.
Namun, suara notifikasi kembali berbunyi.
Lalu sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Alea mengembuskan napas pelan. Dengan enggan, ia mengambil handphonenya.
Ia membaca isi pesan Reno dari notifikasi, tanpa membuka aplikasi WhatsApp.
Kedua alisnya langsung bertaut. Rahangnya mengeras.
Tanpa berpikir panjang, Alea mengetik balasan.
[Gue udah pernah bilang, silakan kalau elo mau nyebarin foto gue!]
[Gue udah enggak peduli sama kampus, elo, dan semuanya.]
Setelah mengirim pesan itu, Alea langsung mematikan handphonenya dan meletakkannya di atas meja.
Ia merebahkan tubuh di atas kasur sambil mengembuskan napas panjang.
Tangannya meraih buku bersampul biru yang tergeletak di sampingnya.
Dengan posisi masih telentang, ia mengangkat buku itu hingga sejajar dengan wajahnya.
Tatapannya kembali jatuh pada judul yang kini terasa begitu akrab.
Doaku untuk Mereka.
Kemudian Alea membuka bab ketiga.
Di halaman itu tertera sebuah subjudul yang membuat tatapannya terhenti.
Gelap Itu Menelanku
Alea tersenyum kecut.
Entah mengapa, subjudul itu terasa begitu dekat dengan dirinya.
"Sepertiku... yang tertelan oleh kegelapan," gumamnya lirih.
Tatapannya kembali jatuh pada halaman pertama bab itu.
"Bagaimana kamu bisa keluar dari kegelapan itu, Syifa?" bisiknya pelan, seolah sedang berbicara kepada tokoh di dalam buku.
Rasa penasaran membuat Alea mulai membaca bab ketiga. Ia ingin mengetahui bagaimana Syifa mampu bangkit dari luka yang begitu dalam.
Halaman demi halaman ia baca dengan saksama.
Semakin lama, napas Alea semakin terasa berat.
Di dalam cerita itu, Syifa juga sempat terpuruk setelah kepergian kedua orang tuanya. Hari-harinya dipenuhi kesedihan. Ia mengurung diri di kamar, kehilangan selera makan, bahkan mulai menjauh dari ibadah. Dalam keputusasaan, Syifa menyalahkan Allah atas takdir yang menimpa keluarganya.
Alea menghentikan bacaannya sejenak.
Dadanya terasa sesak.
Tanpa sadar, jemarinya menggenggam erat ujung halaman buku itu.
Ia merasa sedang melihat bayangan dirinya sendiri.
Bedanya, Syifa memilih memendam luka dalam diam.
Sedangkan dirinya...
Ia melampiaskan luka itu dengan cara yang jauh lebih buruk.
Minuman keras.
Klub malam.
Pergaulan bebas.
Dan laki-laki yang justru menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.
Alea menundukkan kepala.
"Kalau Syifa bisa bangkit..." gumamnya lirih.
"...apa gue juga masih punya kesempatan?"
Tatapannya kembali jatuh ke halaman buku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alea membaca sebuah kisah bukan sekadar untuk menghabiskan waktu.