Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #12

Benci, Meruntuhkan Pertahanannya

 

Malam yang sunyi menyelimuti Alea. Ia duduk di tepi jendela, memandangi langit yang bertabur bintang.

Di antara kerlip cahaya itu, ia seolah melihat wajah Ayah dan Bundanya tengah menatapnya sambil tersenyum hangat.

“Ayah... ada yang menyakitiku,” ucap Alea lirih.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis, meski air matanya mulai menggenang.

“Ayah pernah bilang kalau Alea harus kuat dan enggak boleh sedih, supaya orang yang menyakiti Alea enggak tertawa di atas rasa sakit Alea.”

Alea meringkuk di atas kursi, memeluk tubuhnya sendiri. Seolah dari tempat yang jauh, Ayah dan Bundanya sedang memeluknya dengan kasih sayang yang tak pernah hilang.

Setetes air mata jatuh di pipinya. Kenangan-kenangan indah bersama kedua orang tuanya kembali memenuhi benaknya, menghadirkan rindu yang tak pernah benar-benar pergi.

Namun, kenangan itu perlahan buyar saat terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.

“Non Alea...”

Alea mengusap sudut matanya sekilas, lalu bangkit dari kursi dan membuka pintu.

“Ada Den Saka di luar.”

Alea terdiam beberapa saat. Ia tak menyangka Saka datang malam-malam seperti ini.

Setelah menarik napas pelan, ia mengangguk.

“Iya, Bik.”

Dengan langkah pelan, Alea berjalan menuju teras rumah.

Dari kejauhan, ia melihat Saka dan Arta duduk di kursi kayu yang berada di halaman depan. Begitu melihat Alea datang, Saka segera berdiri dan menghampirinya.

“Alea...”

Alea hanya membalas dengan senyum kecil yang tampak dipaksakan.

“Alea, are you okay?” tanya Arta sambil menatap wajah Alea dengan saksama.

“Gue baik-baik saja. Kenapa kalian kemari?”

“Sini, Al... duduk dulu. Capek leher gue ngeliatin elo berdiri terus. Nanti leher gue jadi panjang.”

Alea tersenyum lebar mendengar ucapan Arta. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum yang menghiasi wajahnya terlihat lebih tulus.

Ia kemudian berjalan menuju ayunan kesayangannya dan duduk di sana, seperti yang selalu ia lakukan.

“Nah, enak kan lihat wajah elo yang cantik kalau sambil duduk,” ujar Arta lagi.

“Emang kalau berdiri gue enggak cantik?” celetuk Alea.

Tanpa sadar, luka di hatinya terasa sedikit mereda. Tingkah konyol Arta memang selalu berhasil membuat dadanya terasa lebih lega.

“Cantik kok. Cuma kalau elo berdiri, gue duduk, yang kelihatan cuma dagu sama hidung elo... Hahaha.”

“Artaaaaa...”

Alea menimpuk pelan lengan Arta hingga mereka berdua tertawa.

“Akhirnya elo bisa ketawa dan senyum juga, kan...” ucap Arta sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Senyum tipis terukir di wajah Saka. Ia memandang Alea sejenak, lalu berkata lirih,

“Gue senang lihat elo bisa ketawa, Al. Soalnya gue yakin beberapa hari ini elo pasti nangis terus... lihat aja mata elo, udah kayak mata panda.”

Saka menunjuk ke arah mata Alea sambil tersenyum tipis.

“Saka... Arta... makasih ya.”

“Untuk apa?” tanya Saka heran.

“Kalian udah datang ke sini.”

“Gue datang buat makan kudapannya Bik Minah yang enak kok, Al... Hahaha.”

Arta kembali memasukkan kudapan ke dalam mulutnya. Ia mengunyah sambil memejamkan mata, seolah sedang menikmati makanan paling lezat di dunia.

“Dasar elo, Arta!” Saka menyundul pelan dahi sahabatnya itu.

Mereka bertiga pun tertawa bersama. Tawa yang sempat mengusir sejenak segala beban di hati Alea.

Di balik senyumnya, Alea merasa bersyukur memiliki teman-teman yang selalu hadir di saat dirinya terpuruk. Meski begitu, masih ada satu rahasia besar yang tak pernah sanggup ia ceritakan kepada mereka—tentang kedua orang tuanya.

Tak terasa, satu jam telah berlalu.

Saka dan Arta pun berpamitan untuk pulang.

“Al...” panggil Saka sesaat sebelum memasuki mobil.

“Iya...”

Saka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tatapannya tampak ragu sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Boleh enggak... gue meluk elo?” tanyanya kikuk.

Lihat selengkapnya