“Hai, Al...”
Saka melambaikan tangan begitu memasuki gerbang rumah Alea.
Alea membalas dengan senyum tipis dan lambaian singkat.
Saka berjalan mendekat, lalu duduk di samping Alea yang masih diam di ayunan.
“Gue ngerasa elo udah lama enggak minum-minum. Baru malam ini elo minum lagi,” ucap Saka sembari mengeluarkan tiga botol minuman keras dari dalam kantong plastik.
Ia melirik Alea sekilas, berharap mendapat jawaban yang lebih jelas.
“Kemarin gue belum butuh,” jawab Alea asal.
“Sekarang elo minum karena Reno?”
“Jangan sebut nama orang itu... daripada gue hilang kendali.”
Alea mendengus kesal.
Saka terdiam beberapa saat. Tanpa banyak bicara, ia membuka salah satu botol, lalu menyerahkannya kepada Alea.
“Maaf ya, Saka... elo jadi balik lagi ke sini.”
“It’s Okey, Al...”
Alea tersenyum tipis.
“Reno memang orangnya keras dan nekat, Al...” ucap Saka pelan. Pandangannya beralih ke jalanan yang lengang di depan rumah.
Malam semakin larut. Suasana begitu sunyi hingga hanya hembusan angin yang terdengar jelas. Jam sudah menunjukkan pukul 00.30.
“Gue pengen bunuh dia.”
Saka langsung menatap Alea dalam-dalam setelah mendengar ucapan itu.
“Setelah itu...? Apa yang akan terjadi sama elo, Al?”
Alea terdiam. Tanpa menjawab, ia kembali meneguk minuman keras itu langsung dari botolnya.
“Rugi elo bunuh Reno. Dia memang bakal mati, tapi elo...” ucap Saka lirih. “Elo juga bakal rugi. Elo akan masuk penjara.”
“Enggak masalah, asalkan cowok brengsek itu berhenti neror gue.”
“Terus gimana sama Bokap dan Nyokap elo?”
DEG.
Jantung Alea seolah berhenti berdetak sesaat.
“Mereka pasti bakal sedih lihat anaknya masuk penjara di depan mata mereka sendiri.”
Saka memang belum tahu kalau kedua orang tua Alea telah tiada. Namun, tanpa sadar, ucapannya menghantam luka yang selama ini Alea pendam rapat-rapat.
Perlahan, Alea meletakkan botol minuman di atas meja. Pandangannya jatuh ke bawah. Ia memilih diam.
Amarah yang sejak tadi menguasainya mendadak luruh, berganti dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
Dalam ledakan emosinya, ia sampai lupa pada janji yang pernah ia buat untuk tidak menyentuh minuman itu lagi... dan pada tekadnya untuk tidak lagi membuat Ayah dan Bundanya bersedih, meski kini mereka hanya bisa ia temui lewat doa dan kenangan.
“Kenapa, Al?” tanya Saka heran saat melihat raut wajah Alea tiba-tiba berubah.
“Elo pulang aja, Saka.”
“Elo marah ke gue?”
Alea menggeleng pelan.
“Okeey... gue pulang.”
Saka bangkit dari duduknya.
“Tapi, Al... elo jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ya,” ucapnya sebelum benar-benar melangkah pergi.
“Iya, elo tenang aja.”
Saka mengangguk pelan.
“Ya udah, gue balik dulu.”
“Saka... bawa pulang aja minuman-minuman yang elo beli itu.”
Tatapan Alea beralih ke botol-botol minuman yang masih tergeletak di atas meja.
“Yakin?”