Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #14

Izinkan Alea Bernapas Sejenak

Matahari bersinar cerah. Kicauan burung bersahutan, seolah menyambut pagi dengan penuh semangat.

Namun, keindahan pagi itu tak berarti apa-apa bagi Alea.

Sejak menerima kabar dari dekan agar segera datang ke kampus untuk menyelesaikan perkara foto dirinya sekaligus surat pemberhentian kuliah, kepalanya kembali dipenuhi beban.

Denyutan nyeri menjalar dari kepala hingga ke pelipisnya, semakin lama semakin menyiksa.

Alea memegangi kepalanya erat-erat. Tubuhnya meringkuk di atas tempat tidur, berusaha menahan rasa sakit yang seakan membelah kepalanya.

“Bik...” panggilnya lirih.

Sayangnya, suara itu tak sampai ke telinga Bik Minah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.

“Biiik...” panggil Alea sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Langkah tergesa-gesa langsung terdengar dari luar kamar.

Bik Minah segera masuk.

Begitu melihat Alea meringkuk sambil memegangi kepala, wajah wanita tua itu langsung dipenuhi kecemasan.

“Kenapa, Non Alea?”

“Kepalaku sakit, Bik...”

Bik Minah mengusap pelan lengan Alea, berusaha menenangkannya.

“Bibik ambilkan obat dulu ya, Non. Sabar sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, Bik Minah bergegas menuju lemari di kamar Alea. Dari sana, ia mengambil obat sakit kepala yang memang sudah beberapa kali diresepkan dokter untuk Alea.

Obat yang diresepkan dokter pribadinya itu memang sudah sering dikonsumsi Alea sejak kepergian kedua orang tuanya. Hampir setiap kali rasa sakit di kepalanya datang, obat itu menjadi satu-satunya penolong.

“Ini, Non... ayo diminum dulu obatnya.”

Bik Minah membantu Alea duduk perlahan.

Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat. Wajahnya tampak meringis menahan nyeri yang terus berdenyut di kepalanya.

Bik Minah menyelipkan obat ke telapak tangan Alea, lalu menyodorkan segelas air hangat.

Tanpa banyak bicara, Alea segera menelan obat itu.

“Sekarang Non Alea istirahat dulu, ya...”

Alea terdiam beberapa saat. Bibirnya bergerak pelan, seolah ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia sampaikan.

“Bik...” panggilnya lirih.

“Iya, Non?”

“Alea... akan berhenti kuliah.”

Kalimat itu akhirnya terucap.

Bik Minah membeku sesaat. Tatapannya jatuh pada wajah Alea yang terlihat begitu lelah.

“Non...” ucapnya pelan. “Sekarang jangan dipikirkan dulu semuanya. Istirahat dulu, ya. Nanti kalau badan Non sudah lebih enak, kita pikirkan pelan-pelan.”

Alea hanya mengangguk lemah, lalu kembali merebahkan tubuhnya.

Dengan lembut, Bik Minah menarik selimut hingga menutupi tubuh Alea. Tangannya membelai pelan kepala gadis itu, seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.

“Tidur ya, Non... Bibik yakin dari semalam Non Alea belum tidur, kan?”

“Iya, Bik...” jawab Alea lirih.

Tak lama kemudian, napas Alea mulai teratur. Obat itu perlahan bekerja hingga akhirnya ia tertidur pulas.

Namun, Bik Minah tak beranjak dari sisi tempat tidurnya.

Wanita tua itu tetap duduk di sana, memandangi wajah Alea yang tampak begitu letih.

Perlahan, air matanya jatuh.

Ia segera mengusapnya sebelum sempat terlihat.

“Tuan... Nyonya...” gumamnya lirih. “Kenapa kalian pergi begitu cepat? Kasihan Non Alea...”

Lihat selengkapnya