“Siska... Tasya, kita mau ke mana sih? Kenapa kalian kelihatan gelisah?” tanya Alea pada akhirnya.
Tak ada jawaban.
Siska tetap fokus menyetir, berpura-pura sibuk memperhatikan jalan. Sementara itu, Tasya menunduk menatap layar handphone-nya, seolah sedang membalas chat seseorang, padahal tak ada satu pun pesan yang ia ketik.
Alea memandangi kedua sahabatnya secara bergantian.
“Kalian enggak ada yang mau ngasih tahu ke gue, kah?”
“Al... bentar lagi kita sampai kok,” jawab Siska singkat.
Alea mengernyit. Tatapannya beralih tajam ke arah Siska, tetapi tak mendapat respons apa pun. Ia akhirnya kembali menatap ke depan sambil mengembuskan napas panjang.
“Dari tadi gue cuma disuruh ikut, tapi enggak tahu mau dibawa ke mana,” gerutunya. “Jangan-jangan kalian lagi nyulik gue, ya?”
Alea mendengus pelan.
Siska hanya terkekeh kecil.
“Sabar... bentar lagi sampai, oke?”
Jawabannya tetap sama.
Mobil terus melaju di tengah jalanan Jakarta yang mulai padat. Menjelang waktu Maghrib, kendaraan mengular memenuhi ruas jalan. Klakson saling bersahutan, sementara deretan lampu kendaraan mulai menyala satu per satu.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Siska akhirnya berhenti.
Alea mengangkat wajahnya.
Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan besar bercat putih. Ambulans keluar-masuk halaman rumah sakit, sementara beberapa tenaga medis tampak berlalu-lalang di depan pintu utama.
Jantung Alea mendadak berdegup lebih cepat.
“Kenapa kita ke rumah sakit?” tanya Alea gusar.
Rumah sakit.
Tempat itu selalu menjadi mimpi buruk bagi Alea.
Di sanalah kedua orang tuanya mengembuskan napas terakhir.
Sejak kejadian itu, ia selalu menghindari rumah sakit. Bahkan ketika tubuhnya sakit, ia lebih memilih menahan rasa nyeri, minum obat seadanya, atau memanggil dokter pribadinya daripada harus menginjakkan kaki di tempat seperti ini.
Setelah memarkirkan mobil, Siska mematikan mesin. Ia menoleh ke arah Alea dan menatap sahabatnya itu dalam-dalam.
"Kita mau jenguk Saka," ucapnya hati-hati.
Raut wajah Alea langsung berubah.
"Saka... kenapa sama Saka?"
"Siang tadi dia kecelakaan, Al."
Alea membeku.
Jantungnya berdetak tak beraturan.
Kecelakaan.
Satu kata itu seketika meruntuhkan ketenangan yang sejak tadi berusaha ia bangun.
Tubuhnya mulai menggigil. Jemarinya mengepal tanpa sadar, sementara giginya menggigit bibir bawah hingga nyaris tak terasa sakitnya.
Ingatan yang selama ini ia kubur rapat-rapat kembali menyeruak.
"Apakah benar ini dengan Saudari Alea? Kami dari kepolisian. Kami ingin mengabarkan bahwa kedua orang tua Anda mengalami kecelakaan tragis di jalan tol menuju Jakarta."
Suara polisi laki-laki itu masih terngiang jelas di telinga Alea, seolah percakapan itu baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
"Orang tua Anda akan kami bawa ke rumah sakit terdekat. Mohon Anda segera datang untuk proses identifikasi."
Mendengar kalimat itu, dunia Alea seakan runtuh.
Saat itu, ia bahkan tak sanggup lagi berdiri tegak.
"Al... elo kenapa?" tanya Siska panik saat melihat tubuh Alea mulai bergetar.
Alea meremas kedua tangannya erat-erat. Bibir bawahnya kembali ia gigit, berusaha menahan kepanikan yang perlahan menguasai dirinya.
"Gu... gue enggak..."
Dengan langkah gontai, Alea mencoba turun dari mobil.
Namun, baru saja kedua kakinya menginjak aspal, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Bruk.
Ia terjatuh.