Selang beberapa hari setelah kejadian di rumah sakit, hari ini Alea berada di depan gerbang kampus.
Tepat saat matahari mulai condong ke Barat.
Pandangannya menyapu seluruh area kampus yang luas dan megah itu.
Tempat yang dulu terasa begitu akrab, kini justru tampak asing di matanya.
Sesekali ia menarik napas panjang. Hari ini, ia harus kembali berhadapan dengan salah satu kenyataan paling pahit dalam hidupnya. Ia akan diberhentikan dari kampus.
Alea mulai melangkahkan kaki dengan berat. Setiap langkah terasa seperti membawa dirinya semakin dekat pada akhir dari impiannya menjadi seorang mahasiswi.
Entah mengapa, ia bahkan menghitung langkahnya satu per satu, seolah sedang menghitung mundur waktu sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Semakin mendekati gedung dekan, semakin banyak pasang mata yang tertuju kepadanya.
Mahasiswa dan mahasiswi yang berpapasan dengannya menatap tajam, kemudian berbisik satu sama lain. Suara-suara itu terdengar samar dari berbagai sudut, bercampur dengan desiran angin yang terasa begitu dingin dan tak bersahabat.
Alea berusaha tidak memedulikannya. Namun, setiap tatapan dan bisikan yang mengikuti langkahnya terasa seperti luka kecil yang terus ditorehkan ke tempat yang sama.
Alea tetap berjalan. Ia hanya ingin segera menyelesaikan urusannya, lalu pulang tanpa harus berlama-lama berada di tempat yang kini terasa begitu asing baginya.
“Al...”
Langkah Alea terhenti. Ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dari kejauhan, Siska, Tasya, dan Arta berjalan cepat menghampirinya.
“Elo kok baru datang sekarang, Dekan kita udah nyariin elo...” ucap Siska, begitu mereka sampai di hadapannya.
Alea tak menjawab.
“Al, elo harus jelasin semuanya ke Pak Ridwan. Ngomong terus terang kalau semua ini perbuatan Reno,” ujar Siska kembali.
Sekali lagi, Alea tak memberikan jawaban apa pun.
Pandangannya justru beralih ke sekeliling kampus. Beberapa mahasiswa masih memperhatikannya dari kejauhan. Ada yang terang-terangan menatap, ada pula yang buru-buru mengalihkan pandangan setelah mata mereka bertemu.
Senyum tipis muncul di wajah Alea. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Biar aja...” ucapnya pelan. “Gue enggak mau memperpanjang masalah ini.”
“Ini enggak adil buat elo, Al...” Arta menyela.
Alea menatap Arta sejenak. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi kembali ia urungkan.
“Sudah lama gue menjalani hidup yang enggak adil,” katanya akhirnya. “So... it’s okay kalau harus nambah satu lagi.”
Ketiga sahabatnya saling bertukar pandang. Kening mereka berkerut, berusaha memahami maksud ucapan Alea.
Tasya yang sejak tadi menahan rasa penasaran akhirnya tidak mampu lagi diam.
“Emang apa yang terjadi sama hidup elo, Al?” tanyanya. “Enggak adil gimana? Ada sesuatu yang elo sembunyiin dari kita, ya?”
Pertanyaan itu datang bertubi-tubi, tetapi Alea tetap tidak memberikan jawaban.
Ia hanya memandang ketiga sahabatnya bergantian. Ada rasa bersalah yang terselip di balik tatapannya, seolah ia tahu mereka berhak mendapatkan penjelasan, tetapi belum sanggup memberikan apa yang mereka minta.
“Gue lanjut ketemu dekan dulu, ya?”
Tanpa menunggu jawaban, Alea kembali melangkahkan kaki menuju gedung fakultas.
Semakin jauh ia meninggalkan ketiga sahabatnya, suasana di sekelilingnya terasa semakin menekan.
Tatapan orang-orang masih mengikuti langkahnya. Beberapa di antara mereka bahkan sengaja berbisik ketika Alea lewat. Ia memilih mengabaikannya dan terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan ruang dekan.
Alea berhenti sejenak di depan pintu. Jemarinya terangkat, kemudian mengetuk pelan.
“Silakan masuk.”
Suara laki-laki paruh baya terdengar dari dalam.
Alea memutar gagang pintu dan masuk.
“Silakan duduk, Saudari Alea.”
“Terima kasih, Pak.”
Ia berjalan menuju sofa dan duduk dengan posisi sedikit kaku.
Ruangan itu terasa sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas, seolah sengaja mengingatkan Alea bahwa ia sedang berada di sebuah ruangan yang akan menentukan nasib kuliahnya.
Aroma kopi yang cukup kuat tercium dari meja di hadapannya. Namun, wangi itu sama sekali tidak mampu mencairkan suasana. Justru sebaliknya, keheningan di antara mereka membuat aroma kopi tersebut terasa semakin pekat.