Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #17

Alea, Jangan Jatuh Lagi

Alea keluar dari ruang rektor dengan menahan amarah dan kebencian yang memenuhi dadanya.

Pintu ruangan itu tertutup di belakangnya, seakan menjadi penanda bahwa semuanya benar-benar telah berakhir. Ia menunduk, menatap berkas pemberhentian kuliah yang masih berada di tangannya. Beberapa saat lalu, selembar tanda tangan telah mengubah seluruh perjalanan yang selama ini ia jalani.

Namun, kali ini Alea tidak ingin menangis.

Ia memasukkan berkas tersebut ke dalam tas, kemudian berjalan menyusuri lorong dengan langkah cepat. Tidak seperti ketika datang tadi, kini ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan para mahasiswa maupun dosen yang masih memperhatikannya.

Biarlah, kata-kata itu yang menjadi kekuatan Alea saat ini.

Ia sudah terlalu lelah memikirkan apa yang orang lain katakan tentang dirinya.

Alea terus berjalan melewati lorong, masuk ke dalam lift, lalu keluar dari gedung rektorat.

Begitu tiba di halaman kampus, ia bahkan tidak menoleh lagi ke belakang.

Tempat yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, tempat ia pernah menyimpan begitu banyak impian, kini hanya ingin ia tinggalkan secepat mungkin.

Alea keluar dari gedung rektorat dengan langkah cepat.

Namun, kali ini ia tidak langsung menghentikan taksi.

Kakinya terus membawanya berjalan tanpa tujuan. Ia tidak peduli ke mana arah yang ditujunya. Yang ia inginkan hanya menjauh dari kampus itu, sejauh mungkin.

Berkas pemberhentian kuliahnya masih tersimpan di dalam tas. Sesekali tangannya menyentuh tas tersebut, seolah memastikan benda itu benar-benar ada di sana.

Sebuah bukti bahwa impiannya menjadi seorang sarjana Sastra telah berakhir.

Alea terus berjalan.

Entah sudah berapa jauh ia meninggalkan kampus. Ia sendiri tidak tahu ke mana kakinya membawa dirinya.

Hingga akhirnya, Alea berhenti di sebuah bangku yang berada di atas trotoar. Bangku itu menghadap ke jalan raya, dikelilingi hiruk-pikuk kendaraan dan orang-orang yang masih sibuk dengan aktivitas mereka.

Alea duduk seorang diri.

Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya kosong menatap kendaraan yang berlalu-lalang di hadapannya.

Mobil-mobil terus bergerak. Orang-orang terus berjalan.

Kota tetap hidup seperti biasanya.

Namun, bagi Alea, waktu seolah berhenti. Pikirannya kembali pada ucapan Bu Sandra.

Kamu sudah mempermalukan kampus ini, Alea.

Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya.

Tidak ada yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak ada yang ingin mendengarkan penjelasannya.

Semua orang hanya melihat foto itu. Semua orang hanya melihat dirinya sebagai perempuan yang bersalah.

Alea mengembuskan napas panjang.

Ia menyandarkan punggungnya pada bangku dan menatap jalanan di hadapannya.

Entah berapa lama ia duduk di sana, ia tidak memperhatikan waktu.

Hingga akhirnya, ketika merasa lelah, Alea mengambil ponselnya dan melihat jam.

20.30.

Matanya sedikit membesar.

“Gue dari tadi di sini?”

Alea mengusap wajahnya.

Hari sudah malam, tetapi rasa sesak di dadanya sama sekali belum berkurang.

Ia bangkit dari bangku.

Tidak ada tujuan yang benar-benar ia pikirkan. Namun, ada satu tempat yang kembali terlintas dalam benaknya.

Klub yang biasa ia datangi.

Tempat yang selama ini menjadi pelariannya setiap kali ia ingin melupakan sesuatu.

Alea mengangkat tangan, menghentikan sebuah taksi yang melintas.

“SCBD,” ucapnya singkat.

Ia masuk ke dalam taksi dan menyandarkan kepala pada jok.

 Pandangannya kosong menatap jalanan dari balik kaca jendela. Kendaraan terus melaju, meninggalkan kampus yang perlahan semakin jauh di belakangnya.

Kali ini ia datang sendirian.

Ia tidak ingin ditemani siapa pun.

Tidak Siska. Tidak Tasya. Tidak Saka. Tidak pula Arta.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alea merasa benar-benar ingin menghadapi semuanya seorang diri. Baginya, tidak akan ada yang benar-benar memahami apa yang sedang ia rasakan.

Mereka mungkin bisa mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang kehilangan impian hanya karena sebuah keputusan yang menurutnya tidak adil.

Tidak ada yang tahu betapa sakitnya menerima hukuman atas kesalahan yang memang pernah ia lakukan, tetapi bukan berarti semua akibatnya harus ia tanggung seorang diri.

Alea mengakui, dirinya memang salah.

Ia terlalu percaya kepada Reno. Ia membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang seharusnya tidak ia jalani. Bahkan foto itu ada karena ia sendiri pernah begitu percaya kepada laki-laki yang dicintainya.

Namun, menyebarkan foto tersebut tetap bukan kesalahannya.

Ia memang menyesali pilihan-pilihannya, tetapi malam ini, yang paling menyakitkan adalah ketika semua orang hanya melihat kesalahannya tanpa pernah ingin tahu bagaimana foto itu bisa sampai tersebar.

Dan saat ini, Alea hanya ingin melupakan semuanya.

Sesampainya di klub yang biasa ia datangi, suara musik yang keras langsung menyambutnya. Lampu-lampu warna-warni bergerak memenuhi ruangan, sementara orang-orang sibuk dengan dunia mereka masing-masing.

Alea tidak memperhatikan siapa pun.

Ia langsung berjalan menuju bar dan mengambil tempat duduk di sana.

“Vodca. Dua gelas ukuran besar.”

Bartender mengangguk, lalu segera menyiapkan pesanannya.

Tak lama kemudian, dua gelas minuman diletakkan di hadapannya.

Alea menatapnya beberapa detik.

Tanpa berpikir panjang, ia mengambil salah satu gelas dan menenggaknya hingga habis.

Rasa panas mengalir melewati tenggorokannya. Namun, rasa itu tidak sebanding dengan luka yang sejak tadi memenuhi dadanya.

Alea meletakkan gelas kosong di atas meja.

Malam masih panjang.

Dan untuk sementara, ia hanya ingin membuat pikirannya berhenti bekerja. Lalu ia meminum satu gelas lagi vodca yang masih utuh.

“Gue mau segelas lagi,” ucap Alea.

Bartender laki-laki itu mengangguk. Ia segera mengambil gelas baru dan menuangkan vodka ke dalamnya, lalu menyerahkannya kepada Alea.

Gadis itu langsung meraihnya. Tanpa ragu, ia kembali menenggak minuman tersebut sampai tidak tersisa sedikit pun.

“Ambilkan...” Suara Alea mulai terdengar berat. Ia meletakkan gelas kosong di atas meja. “Gue segelas... lagi.”

“Baik.”

Bartender kembali mengambil botol minuman dan menyiapkan pesanannya.

Sambil menunggu, Alea membuka tas yang diletakkan di sampingnya. Ponselnya sejak tadi terus bergetar, membuatnya sedikit terganggu.

Ia mengambil benda itu dan menatap layar.

Beberapa panggilan tak terjawab muncul di sana.

Nama Tasya, Siska, dan Arta bergantian tertera di layar.

Alea menyeringai kecil.

Bukan senyum bahagia. Lebih seperti seseorang yang sedang menertawakan keadaan dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya