Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #18

Alea, Pasti Ada Jalan

Tepat pukul 21.30, mobil putih itu akhirnya berhenti di depan rumah Alea.

Humaira turun dari mobil tanpa membawa Alea. Ia bergegas berjalan menuju pagar rumah, kemudian menekan bel.

Tak lama kemudian, seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampirinya.

“Maaf, mencari siapa, Non?” tanya perempuan itu sopan.

“Saya teman Alea, Ibu. Alea ada di dalam mobil. Apakah Ibu bisa membantu saya membawanya masuk?”

Perempuan itu tampak terkejut mendengar nama Alea. Ia segera membuka pagar dan berjalan mengikuti Humaira menuju mobil.

Begitu pintu belakang dibuka, terlihat Alea masih dalam keadaan tertidur dengan tubuh yang lemas.

“Ya Allah... Non Alea kenapa, Non?” tanyanya dengan wajah cemas.

“Alea tadi...” Humaira berhenti sejenak, memilih kata-kata yang tepat. “Dia sedang tidak baik-baik saja, Ibu.”

Perempuan itu tidak bertanya lebih jauh. Ia segera membantu Humaira memapah Alea keluar dari mobil.

Setelah berhasil membawa Alea masuk ke dalam rumah, mereka membaringkannya di atas tempat tidur.

“Terima kasih, Non...” ucap Bik Minah.

“Saya Humaira, Ibu.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Saya Bik Minah, pembantu di rumah ini. Saya juga yang mengasuh Alea sejak kecil.”

Humaira terlihat kikuk.

“Oh, maaf, Ibu. Saya kira Ibu ibunya Alea.”

Bik Minah hanya tersenyum simpul.

Humaira kembali menatap Alea. Wajah gadis itu terlihat begitu lelah, seolah seluruh kejadian yang dialaminya hari ini telah menguras seluruh tenaganya.

“Non Humaira...”

Humaira menoleh.

Bik Minah memandangnya dengan tatapan penuh harap.

“Bibik senang kalau Non Alea mempunyai teman seperti Non Humaira.”

“Kami baru kenal, Bik. Baru dua kali bertemu di taman.”

Humaira mengangkat selimut Alea hingga menutupi tangan gadis itu. Tatapannya masih tertuju pada wajah Alea yang terlelap.

“Entah apa yang terjadi sama Alea, tapi aku yakin Alea adalah gadis yang baik.”

Bik Minah terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Non Alea hanya tersesat, Non...”

Humaira menatap Bik Minah. Setetes air mata mengalir di pipi perempuan itu.

Bik Minah mengenal Alea sejak kecil. Ia tahu bagaimana gadis itu sebelum kehilangan kedua orang tuanya, dan bagaimana perubahan perlahan terjadi dalam hidupnya setelah peristiwa tersebut.

Bukan karena Alea terlahir sebagai gadis yang buruk. Hanya saja, hidup seolah tidak pernah memberinya cukup waktu untuk berdamai dengan semua kehilangan yang dialaminya.

Bik Minah mengusap air matanya.

“Bibik berharap, Non Humaira mau menolong dan menuntun Non Alea menjadi lebih baik.”

Humaira mendekati Bik Minah. Ia menggenggam tangan perempuan tua itu dengan lembut.

“Insya Allah, Bik...” Senyum lembut kembali mengembang di bibir Humaira.

“Terima kasih, Non.”

Belum sempat Humaira menjawab, terdengar suara lirih dari arah tempat tidur.

“Humaira...”

Alea perlahan membuka mata. Pandangannya masih samar, tetapi ia mengenali sosok Humaira yang berdiri di samping tempat tidurnya.

Ia mencoba bangkit, lalu langsung memegangi kepalanya yang terasa berat.

“Elo kok ada di sini...?” tanyanya dengan suara serak.

Humaira mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.

“Alea, kamu yang telepon aku tadi. Lupa, ya...?”

Gadis itu memutar bola matanya, berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya.

“Iya... ya, gue yang telepon elo, ya?”

Alea menggaruk kepalanya yang terasa berat.

Lihat selengkapnya