Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #19

Jalan Itu Mulai Terbuka

Alea menghela napas.

Dengan ragu, ia membuka WhatsApp. Matanya langsung tertuju pada beberapa pesan dari Humaira.

[Assalamualaikum, Alea...]

[Gimana kondisimu pagi ini?]

Alea tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Ternyata orang yang sejak tadi membuat dirinya gusar masih mau menghubunginya.

Humaira tidak menjauhinya, meskipun kini ia tahu bahwa Alea memiliki sisi buruk yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

Tangan Alea sedikit gemetar saat membalas pesan itu.

[Gue baik-baik aja, Humaira.]

[Elo... masih mau berteman sama gue, kan?]

[Tentu saja, Alea. 🥰]

[Berteman atau menyambung silaturahmi itu tidak dilihat dari baik dan buruknya seseorang. Rasulullah pun tetap berbuat baik dan berteman dengan siapa pun, selama orang itu mau berteman.]

Alea membaca pesan itu dalam diam. Hatinya berdesir hebat.

Air matanya kembali menetes, tetapi kali ini bukan karena kesedihan. Ada rasa lega dan bahagia yang perlahan memenuhi hatinya. Ternyata, setelah semua yang terjadi, masih ada seseorang yang tidak memandangnya hanya dari kesalahan yang pernah ia lakukan.

Entah kenapa, kata-kata Humaira selalu mampu membuat hatinya merasa tenang. Ada sesuatu yang berbeda dari cara perempuan itu berbicara kepadanya.

Tidak menghakimi, tidak pula memaksanya untuk berubah. Hanya ada ketulusan yang membuat Alea merasa masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Perasaan itu terasa seperti desiran angin pagi yang masuk melalui jendela kamarnya, lembut dan menenangkan.

[Alea, aku nanti mau ngajak kamu... tapi tunggu Kakak aku selesai mengajar di pesantren, ya.]

[Karena kalau ke mana-mana, selalu Kakak yang anterin aku. ☺️]

[Ke mana?]

[Ke tempat yang bisa membuat hatimu tenang.]

Alea menautkan kedua alisnya. Ia semakin penasaran.

Ke mana Humaira hendak membawanya?

Tempat seperti apa yang bisa membuat hatinya tenang?

[Okeey...]

[Sampai nanti, Alea... Wassalamu’alaikum.]

[Okeey...]

Alea meletakkan handphonenya di atas tempat tidur. Senyum kecil masih tersisa di wajahnya, meskipun rasa penasaran mulai memenuhi pikirannya.

Tanpa ingin berlama-lama, ia segera keluar dari kamar dan memanggil Bik Minah.

“Biiik...”

Alea menghampiri Bik Minah yang sedang mencuci pakaian.

“Kenapa, Non Alea?” tanya Bik Minah. “Pagi-pagi sudah heboh.”

“Siapin air hangat buat Alea mandi.”

Bik Minah tersenyum hangat.

“Baik, Non... tapi minum dulu susunya, keburu dingin. Di meja makan juga sudah Bibik siapin roti bakar.”

“Terima kasih, Bik Minah.”

Alea tersenyum, lalu memeluk Bik Minah dari belakang.

Setelah itu, ia segera menuju meja makan. Ia mengambil satu roti bakar dan menikmatinya bersama segelas susu cokelat hangat.

Selesai sarapan, Alea kembali ke kamarnya. Bik Minah masih sibuk menyiapkan air hangat dan kebutuhan mandinya.

Alea berjalan menuju lemari pakaian.

Tangannya menggeser beberapa helai baju yang tergantung rapi. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan pakaian yang selama ini memenuhi lemarinya.

Sebagian besar adalah pakaian yang terbuka dan terlalu seksi. Sementara pakaian yang sopan dan tertutup jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Alea terdiam sejenak.

Entah kenapa, pagi itu ia merasa tidak nyaman melihat semua pakaian tersebut.

Ia merasa pakaian-pakaian itu hanyalah kamuflase dirinya agar terlihat baik-baik saja, sementara di balik semua itu, ada banyak hal yang selama ini ia sembunyikan.

Kini, ia tak ingin mengenakan pakaian yang terlalu terbuka di hadapan Humaira. Ada rasa malu yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.

“Non Alea, airnya sudah siap.”

“Baik, Bik Minah. Terima kasih,” jawab Alea.

Lihat selengkapnya