Bayanganku Di Jalanku

Difa Jagga
Chapter #20

Antara Kekaguman dan Cinta Allah

Pagi itu, sinar matahari terasa hangat.

Siska dan Tasya tampak gelisah. Keduanya beberapa kali saling pandang, lalu mengalihkan tatapan ketika berhadapan dengan Humaira. Entah mengapa, kehadiran Humaira membuat mereka merasa tidak nyaman.

“Aku pulang dulu, ya,” ujar Siska tiba-tiba.

Tasya segera mengangguk. “Iya, aku juga.”

Keduanya pun meminta izin untuk pulang.

“Ayo, Arta...”

“Bentar dulu, kenapa?”

Siska dan Tasya menyeret Arta agar laki-laki itu segera berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi.

“Tar malam gue telepon, ya, Alea...” ucap Siska.

“Okeey, Siska.”

“Aduuh, kalian berdua ini...” Arta mendengus kesal.

“Sampai ketemu lagi, Humaira,” ucap Arta sambil menyeringai konyol.

Humaira hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum simpul.

Selang beberapa menit, setelah ketiga sahabat Alea pergi meninggalkan rumah, Alea mengajak Humaira untuk duduk sebentar.

Mereka duduk sambil menikmati teh hangat dan udara pagi.

“Kakak elo mau teh enggak?”

“Enggak usah, Alea. Kita kan harus ke suatu tempat.”

“Okeey, mau berangkat sekarang, kah?”

“Boleh, ayook.”

“Gue pamit sama Bik Minah dulu, ya. Elo minum dulu tehnya.”

“Baik, Alea. Terima kasih.”

Alea kembali masuk ke dalam rumah. Ia menemui Bik Minah yang sedang berada di dapur.

“Bik, Alea keluar dulu sama Humaira, yaa...”

“Baik, Non. Hati-hati, ya...”

Alea kembali menemui Humaira.

Mereka berdua kemudian berjalan menuju mobil.

Humaira membuka pintu belakang dan mempersilakan Alea masuk terlebih dahulu.

Alea mengangguk.

Saat masuk ke dalam mobil, mata Alea langsung tertuju pada laki-laki yang duduk di kursi kemudi. Kakak Humaira itu hanya menatap lurus ke depan, seolah tetap menjaga pandangannya agar tidak tertuju pada Alea.

Malam itu, Alea memang sempat melihatnya. Namun, suasana yang gelap dan kondisi dirinya yang sedang mabuk membuat wajah laki-laki itu tidak terlihat jelas.

Kini, di bawah cahaya pagi, Alea bisa melihat wajahnya dengan lebih baik.

Tanpa sadar, pandangannya tertahan beberapa detik. Ada sesuatu yang membuat wajah laki-laki itu terlihat menenangkan. Tatapannya tenang, raut wajahnya teduh, mengingatkannya pada Humaira.

Alea segera mengalihkan pandangannya, ia merasa sedikit malu karena sempat memperhatikan laki-laki itu.

“Kakak, Humaira boleh duduk sama Alea di bangku tengah?”

“Boleh, Dek...”

“Terima kasih, Kak Hamzah.”

Humaira kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Alea.

Alea kembali melirik laki-laki yang berada di balik kemudi itu. Baru kali ini ia mengetahui namanya.

Ternyata namanya Hamzah.

Alea tersenyum tipis tanpa diketahui Humaira. Entah Ia melihat sesuatu yang berbeda pada diri Hamzah. Laki-laki itu jauh berbeda dengan Reno.

Jantung Alea berdegup lebih cepat. Ada rasa kagum dan ketertarikan yang perlahan muncul ketika ia memandang Hamzah.

Namun, hanya beberapa detik kemudian, perasaan itu membuatnya ciut. Alea merasa dirinya tidak pantas untuk mengagumi laki-laki seperti Hamzah.

“Kita ke tempat biasanya itu, kah, Dek?” tanya Hamzah.

“Iya, Kak...”

Tanpa banyak bicara, Hamzah segera menjalankan mobil menuju tempat yang biasa ia datangi bersama Humaira.

Dalam benak Alea kembali muncul rasa penasaran.

Ternyata mereka juga punya tempat yang sering dikunjungi.

Seperti apa tempat itu?

“Alea...”

“Iya, Humaira.”

“Ini...” Humaira menyerahkan selembar kain berwarna cream kepadanya.

Alea mengernyit. Ia menerima kain itu dengan kedua tangannya, lalu menatapnya penuh tanda tanya.

“Apa ini, Humaira?” tanyanya penasaran.

“Jilbab,” jawab Humaira singkat.

“Jil... jilbab?”

Alea sedikit tersentak. Pandangannya kembali tertuju pada kain yang kini berada di tangannya.

Lihat selengkapnya